Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Elita Sitorini

solum deum prae oculis verba volant scripta manent

Tak Semua Orang Suka dengan Gelar Pahlawan

OPINI | 13 June 2013 | 21:47 Dibaca: 138   Komentar: 1   1

Mungkin, bagi sebagian orang, menyandang gelar pahlawan atau disebut sebagai pahlawan adalah hal yang membanggakan lagi menyenangkan. Namun tidak bagi Nani Nurrachman Sutojo. Putri Jenderal (Anumerta) Sutojo Siswomiharjo. Dalam memoarnya, Kenangan Tak Terucap : Saya, Ayah, dan Tragedi 1965, Nani dengan gamblang menyebutkan bahwa gelar Pahlawan Revolusi yang dianugerahkan pemerintah kepada sang ayah, justru dianggapnya sebagai hal yang menyedihkan.

Dia mengatakan bahwa siapapun tidak akan bangga jika untuk mendapatkan gelar tersebut, seseorang harus kehilangan seorang ayah. Apalagi melalui proses yang sangat kejam. Pada subuh, 1 Oktober 1965 itu, dengan mata kepalanya, Nani yang masih berusia sekolah dasar, hanya bisa mendengar rumahnya diobrak-abrik oleh sepasukan orang yang mengaku bagian dari Pasukan Pengawal Presiden, Cakrabirawa.

Di bawah kolong tempat tidur, Nani kecil hanya bisa gemetar. Dan ketika dia keluar dari kamar, bersama kakak, adik, dan Tante Lyly, dia menyaksikan rumahnya porak-poranda sementara sang ayah, telah dibawa pergi. “Tak ada yang bisa diungkapkan selama lima hari di awal bulan Oktober itu,” tulisnya. Ya, selama lima hari pertama di bulan Oktober 1965 itu, Nani dan keluarganya telah berada dalam jurang ketidakpastian. Keyakinan bahwa sang ayah akan kembali bersama mereka semakin menipis seiring dengan kondisi saat itu yang bukannya makin jelas tapi semakin kabur.

Puncaknya, ketika dia dan keluarganya mendapat kabar bahwa tubuh sang ayah dan enam rekannya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di dalam sumur Lubang Buaya. Berita buruk itu menjadi shock berat bagi Nani. Bukan hanya ketika dia mendengar berita itu untuk pertama kalinya, tapi juga setelah 22 tahun setelah itu. Butuh waktu panjang baginya untuk berdamai dengan tragedy yang menghancurkan seluruh kesempatannya menjalani hidup bahagia bersama sang ayah.

Nani sempat jatuh bangun. Menderita depresi berat sampai kehilangan sang adik, Ari. Ironisnya, Ari yang meninggal karena sirosis, sebenarnya juga mengalami depresi yang sama. Mereka telah mengalami sakit yang sama selama bertahun-tahun.

Sungguh sebuah memoar yang mengagumkan. Membacanya membuat saya tidak hanya terharu tapi merasakan kekuatan sang penulis dalam menghadapi luka batin yang menggerogoti jiwa raga. Semangatnya untuk bangkit dan keinginan untuk tidak mewariskan luka batin kepada anak-cucunya sungguh luar biasa.

Apalagi, Nani tak pernah tahu dengan pasti, alasan sang ayah diculik dan dibunuh. Pemahaman adalah langkah awal bagi seseorang untuk menyembuhkan luka batinnya. Sayang, Nani tak memiliki kesempatan untuk itu. Justru, di kemudian hari, dia menyaksikan banyak orang-orang ditangkap karena dianggap bertanggungjawab atas tragedy itu. Sekian banyak orang itu, irosnisnya, adalah orang-orang yang pernah datang ke rumahnya, ketika dia dan keluarganya tinggal di Londong. Pada saat itu, Nani belum benar-benar tahu apakah mereka bersalah atau tidak. Yang dia rasakan hanyalah kekecewaan dan rasa tidak percaya dengan orang lain.

Pergolakan batin yang sungguh luar biasa, hingga dosen Unika Atmajaya itu berhasil berdamai dengan luka batinnya. Memaafkan namun tidak melupakan, begitu tulisnya. Benar-benar memoar yang bisa menjadi inspirasi bahwa kekejaman massal atau dampak sebuah tindakan anarkhis massal, perang, pelanggaran HAM, tidak hanya meninggalkan noda dalam sejarah. Tapi, yang patut dicermati, bahwa tindakan kekejaman dan kekerasan seperti itu, akan berdampak panjang pada mereka-mereka yang terlibat.

Khususnya, dampak bagi keluarga yang ditinggalkan. Kita bisa membayangkan seorang Nani harus berusaha untuk tetap menjalani hidup, kendati harus berkubang dengan luka hatinya. Mungkin bagi sebagian orang, akan sangat mudah membuang kenangan buruk, tapi ingatlah, bahwa kasus Nani sungguh berbeda. Tragedy yang dia alami, bukan hanya milik personal, melainkan menjadi sejarah kelabu sebuah bangsa. Tentu, akan terasa lebih menyakitkan. Apalagi, sampai saat ini tagedi itu tak pernah jelas. Justru semakin kabur dan bahkan dilupakan.

Seorang kawan saya, malah bertanya, “Siapa Jenderal Sutojo?” dan saya hanya bisa membelalakkan mata. Saya termangu, dan akhirnya saya menjelaskan sepintas lalu tentang tragedy 1965. Ah, saya sungguh tidak habis pikir, apa saja yang dipelajari para murid sekolah saat ini? Apakah, mereka hanya menganggap bahwa Jenderal Sutojo, Mayjend Sungkono, DI Panjaitan, A. Yani, Gatot Subroto, hanyalah sederetan nama-nama jalan yang tak ada artinya?

Saya pun tidak dapat memungkiri, ketika saya membaca memoar Nani Sutojo itu, di benak saya, tergambar nama-nama jalan. Saya memang hafal nama-nama jenderal anumerta, tapi, itu hanya sekadar hafal. Saya lupa, bahwa mereka juga sama manusia seperti saya, yang juga memiliki cerita kehidupan. Bukan hanya terfokus pada tragedy yang membuat mereka mendapat gelar pahlawan revolusi.

Tidak. Sekali lagi tidak. Mereka sama seperti saya, memiliki keluarga, ayah, ibu, kakak, adik, paman, anak-anak. Dan itu yang kerap dilupakan masyarakat bahkan Negara. Mereka lupa bahwa dibalik tragedy kemanusiaan, ada keluarga-keluarga yang tercerai-berai. Keluarga yang tak lagi bahagia karena tragedy memisahkan mereka.

Penyampaian sejarah yang hanya sepotong-sepotong di bangku sekolah dan ketersediaan buku-buku sejarah di perpustakaan sekolah yang kurang dari cukup, serta kurangnya minat untuk membaca buku-buku sejarah, sedikit banyak menjadi penyumbang kurangnya kepedulian terhadap sejarah. Yang akhirnya menciptakan generasi yang abai dengan sejarahnya. Tidak peduli dengan asal-usul bangsanya. Sehingga tergila-gila dengan sejarah bangsa lain. Lebih memilih menjadi pengikut daripada pencipta tren.

Di sinilah peran dari orangtua dan pendidik untuk mengingatkan generasi muda agar kembali menengok sejarahnya. Menggilai buku-buku dan menumbuhkan rasa ingin tahu akan asal-usul bangsanya. Tidak hanya melulu membaca sejarah dari buku pelajaran, tapi mengembangkannya melalui buku-buku dan referensi lainnya. Budaya literasi itu yang harus dimunculkan sehingga bangsa besar ini tidak semakin terpuruk. Bangkit untuk Berjaya seperti bangsa-bangsa lain di dunia…….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 11 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 8 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Bosan Dengan Kegiatan Pramuka di Sekolah? …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Ditunggu Kehadiran Buku Berkualiatas Untuk …

Thamrin Dahlan | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: