Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Elza Taher

Penulis buku, editor, aktif di twitter dan facebook.

FileCaknur: Banyak Pintu Menuju Tuhan

OPINI | 21 June 2013 | 20:44 Dibaca: 657   Komentar: 0   0

Seorang budayawan, Goenawan Muhammad, pernah menulis ‘ Tiap kali saya mendengarkan Nurcholish Madjid, tiap kali saya merasa ada yang terselamatkan dalam iman saya: Tuhan yang esa itu Tuhan yang inklusif. Ke dalam kemahapemurahan itu saya tidak ditampik.

Buku @filecaknur: Banyak Pintu Menuju Tuhan, yang diedit oleh Elza Peldi Taher dan Budhy Munawar Rachman, dua orang muridnya di Paramadina, berisikan semangat itu: Tuhan yang maha agung itu bisa didatangi tak hanya oleh satu pintu, tapi lewat banyak pintu. Kebenaran itu tak hanya tunggal, tapi banyak. Di dalam sampul belakang buku, jelas dituliskan di bagian awal, mengutip teks ayat suci. “Wahai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu, melainkan masuklah dari berbagai pintu yang berbeda.” (Q.S.12:67)

Buku ini seperti disebutkan pada kata pengantarnya merupakan buku kedua dari seri @fileCaknur yang direncanakan akan terbit empat buku tahun ini. Buku pertama, @fileCaknur: Satu Menit Pencerahan Nurcholish Madjid yang juga baru terbit April 2013, mendapat sambutan yang cukup menggembirakan. Dalam waktu cepat buku itu laku keras. Buku itu mengobati sebagian kerinduan pada pemikiran pemikiran Cak Nur yang mampu membawakan Islam sebagai agama yang ramah bagi semua orang.

Sebagaimana buku pertama, buku kedua ini: @fileCaknur: Banyak Pintu Menuju Tuhan diambil dari kumpulan twit akun Twitter @fileCaknur dan kutipan kutipan asli pemikiran Cak Nur yang tersebar di 22 judul buku karya Nurcholish Madjid. Buku yang menjadi sumber rujukan sengaja sengaja dilampirkan di bagian akhir buku, agar pembaca juga dapat membaca sumber aslinya.

Judul seri kedua buku ini Banyak Pintu Menuju Tuhan, yang diambil dari Al-Qur’an surah Yusuf ayat 67, sangat tepat untuk melambangkan sosok Cak Nur; seorang intelektual Islam terkemuka, visioner, bersahaja, sederhana, dan sangat teruji menghadapi badai kritik, hujatan, dan fitnah yang dihadapinya. Dalam sejarah Islam, para pemikir besar memang seringkali adalah mereka yang dibenci dan dikucilkan.

Bagi Cak Nur jelas; sebaik-baik agama di sisi Allah ialah semangat mencari kebenaran yang lapang, tidak sempit, toleran, tanpa kefanatikan, dan tidak membelenggu jiwa. Sebab itu Islam harus dipahami sebagai ajaran dan cita-cita, yang intinya ialah sikap hidup yang berserah diri kepada Tuhan. Pemahaman kepada Islam adalah pemahaman yang terbuka, yang karena keterbukaannya itu ia bersikap inklusif dan mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam. Kemenangan Islam harus merupakan kebahagiaan bagi setiap orang, malah setiap makhluk.

Nurcholish Madjid mustahil dipisahkan dari pembicaraan tentang Islam di Indonesia, bahkan tentang Indonesia secara keseluruhan. Cak Nur adalah sosok cendekiawan tanpa pamrih. Dengan keberanian moralnya yang nothing to loose, dia tampil dengan gagasan segar. Kalau pun dicitrakan sebagai sosok kontroversial, ia memaklumi. Baginya kontroversi semacam hukum alam yang tak bisa dielakkan.

Nurcholish adalah contoh par excellence bagi wajah kaum Muslim santri, kelompok terbesar rakyat Indonesia. Ia memulai gerakan pembaruan pemikiran’ pada awal ’70-an, memprakarsai pendidikan kultural bagi pembentukan kelas menengah kota yg lebih religius. Pemikiran Cak Nur ikut mendorong demokratisasi di Indonesia, terus-menerus membakar bara transformasi dalam tubuh bangsa ini.

Inilah yang menjadi semangat dasar ide-ide Cak Nur dan pesan dasar buku ini. Keistimewaan buku ini terletak pada bahasa yang sederhana, lugas, sesuai bahasa Twitter, tapi tidak mengurangi ketajaman visi dan wawasan yang luas dari sang tokoh yang dikenal amat rendah hati itu.

Buku ini berhasil “menghadirkan” kembali sosok Cak Nur yang selalu mengkampanyekan Islam yang ramah, yang sejalan dengan cita cita kemanusiaan global, dan memahami Indonesia sebagai nation-state yang plural dan dinamis.

Pondok Cabe 21 Juni 2013

Elza Peldi Taher

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kiprah Ibu-ibu Masyarakat Biasa di Tangerang …

Ngesti Setyo Moerni | | 27 November 2014 | 07:38

Jakarta Street Food Festival: Ketika Kuliner …

Sutiono | | 27 November 2014 | 11:06

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 6 jam lalu

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Timnas Lagi-lagi Terkapar, Siapa yang Jadi …

Adjat R. Sudradjat | 8 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 8 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Lawan Laos: Antara Kebanggaan dan Harga …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

[Cerbung] Green Corvus #11 …

Dyah Rina | 8 jam lalu

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Pengabaian Arbitrase di Kasus TPI dan …

Dewi Mayaratih | 8 jam lalu

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: