Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Elza Taher

Penulis buku, editor, aktif di twitter dan facebook.

FileCaknur: Banyak Pintu Menuju Tuhan

OPINI | 21 June 2013 | 20:44 Dibaca: 646   Komentar: 0   0

Seorang budayawan, Goenawan Muhammad, pernah menulis ‘ Tiap kali saya mendengarkan Nurcholish Madjid, tiap kali saya merasa ada yang terselamatkan dalam iman saya: Tuhan yang esa itu Tuhan yang inklusif. Ke dalam kemahapemurahan itu saya tidak ditampik.

Buku @filecaknur: Banyak Pintu Menuju Tuhan, yang diedit oleh Elza Peldi Taher dan Budhy Munawar Rachman, dua orang muridnya di Paramadina, berisikan semangat itu: Tuhan yang maha agung itu bisa didatangi tak hanya oleh satu pintu, tapi lewat banyak pintu. Kebenaran itu tak hanya tunggal, tapi banyak. Di dalam sampul belakang buku, jelas dituliskan di bagian awal, mengutip teks ayat suci. “Wahai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu, melainkan masuklah dari berbagai pintu yang berbeda.” (Q.S.12:67)

Buku ini seperti disebutkan pada kata pengantarnya merupakan buku kedua dari seri @fileCaknur yang direncanakan akan terbit empat buku tahun ini. Buku pertama, @fileCaknur: Satu Menit Pencerahan Nurcholish Madjid yang juga baru terbit April 2013, mendapat sambutan yang cukup menggembirakan. Dalam waktu cepat buku itu laku keras. Buku itu mengobati sebagian kerinduan pada pemikiran pemikiran Cak Nur yang mampu membawakan Islam sebagai agama yang ramah bagi semua orang.

Sebagaimana buku pertama, buku kedua ini: @fileCaknur: Banyak Pintu Menuju Tuhan diambil dari kumpulan twit akun Twitter @fileCaknur dan kutipan kutipan asli pemikiran Cak Nur yang tersebar di 22 judul buku karya Nurcholish Madjid. Buku yang menjadi sumber rujukan sengaja sengaja dilampirkan di bagian akhir buku, agar pembaca juga dapat membaca sumber aslinya.

Judul seri kedua buku ini Banyak Pintu Menuju Tuhan, yang diambil dari Al-Qur’an surah Yusuf ayat 67, sangat tepat untuk melambangkan sosok Cak Nur; seorang intelektual Islam terkemuka, visioner, bersahaja, sederhana, dan sangat teruji menghadapi badai kritik, hujatan, dan fitnah yang dihadapinya. Dalam sejarah Islam, para pemikir besar memang seringkali adalah mereka yang dibenci dan dikucilkan.

Bagi Cak Nur jelas; sebaik-baik agama di sisi Allah ialah semangat mencari kebenaran yang lapang, tidak sempit, toleran, tanpa kefanatikan, dan tidak membelenggu jiwa. Sebab itu Islam harus dipahami sebagai ajaran dan cita-cita, yang intinya ialah sikap hidup yang berserah diri kepada Tuhan. Pemahaman kepada Islam adalah pemahaman yang terbuka, yang karena keterbukaannya itu ia bersikap inklusif dan mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam. Kemenangan Islam harus merupakan kebahagiaan bagi setiap orang, malah setiap makhluk.

Nurcholish Madjid mustahil dipisahkan dari pembicaraan tentang Islam di Indonesia, bahkan tentang Indonesia secara keseluruhan. Cak Nur adalah sosok cendekiawan tanpa pamrih. Dengan keberanian moralnya yang nothing to loose, dia tampil dengan gagasan segar. Kalau pun dicitrakan sebagai sosok kontroversial, ia memaklumi. Baginya kontroversi semacam hukum alam yang tak bisa dielakkan.

Nurcholish adalah contoh par excellence bagi wajah kaum Muslim santri, kelompok terbesar rakyat Indonesia. Ia memulai gerakan pembaruan pemikiran’ pada awal ’70-an, memprakarsai pendidikan kultural bagi pembentukan kelas menengah kota yg lebih religius. Pemikiran Cak Nur ikut mendorong demokratisasi di Indonesia, terus-menerus membakar bara transformasi dalam tubuh bangsa ini.

Inilah yang menjadi semangat dasar ide-ide Cak Nur dan pesan dasar buku ini. Keistimewaan buku ini terletak pada bahasa yang sederhana, lugas, sesuai bahasa Twitter, tapi tidak mengurangi ketajaman visi dan wawasan yang luas dari sang tokoh yang dikenal amat rendah hati itu.

Buku ini berhasil “menghadirkan” kembali sosok Cak Nur yang selalu mengkampanyekan Islam yang ramah, yang sejalan dengan cita cita kemanusiaan global, dan memahami Indonesia sebagai nation-state yang plural dan dinamis.

Pondok Cabe 21 Juni 2013

Elza Peldi Taher

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 4 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 4 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 5 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 10 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 10 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 11 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: