Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Ali Muakhir

@KreatorBuku --Forum Penulis Bacaan Anak --Forum Lingkar Pena --Penikmat wisata --www.kangalimuakhir.blogspot.com

Inspirator Penulis Cilik di Indonesia

REP | 08 July 2013 | 14:38 Dibaca: 559   Komentar: 17   4

“Sri Izzati dan Abdurrahman Faiz”

Inspirator Penulis Cilik di Indonesia

Sebuah pengalaman tak terlupakan ketika beberapa tahun lalu, saya menjadi salah seorang tim redaksi sebuah penerbit besar di Bandung. Salah satu tanggung jawab saya adalah mengonsep sebuah produk (buku) sekaligus mengader penulis.

Sekitar tahun 2004 datang seorang anak kelas 4 SD ditemani ayah dan bundanya. Di datang sambil menyerahkan sebuah novel anak setebal 120-an halaman yang ditulis pada saat usia 7th. Novel tersebut difoto copy dan dijilid serta dibagikan ke beberapa teman. Novel tersebut membawa penulis masuk Rekor Museum Indonesia sebagai penulis novel termuda.

Setelah saya baca dan saya coba selami, saya hampir-hampir tidak percaya, anak sekecil itu sudah lihai dan lincah sekali merangkai kata. Saya kaget, kagum, sekaligus tidak percaya. Oleh karena itu, saya perlu waktu untuk mengevaluasi novelnya.

Belum sembuh kekagetan saya, kembali saya dikejutkan oleh seorang anak kelas 2 SD yang gape merangkai kata, yang gape menyulam puisi dengan sangat indah. Tidak hanya satu puisi, melainkan puluhan puisi yang semuanya indah dan menakjubkan.

Berbekal dua naskah yang ditulis dua calon penulis cilik ini kemudian saya mematangkannya dalam sebuah konsep produk. Konsep produk untuk mewadahi calon-calon penulis cilik seperti mereka. Setelah konsep kelar, akhirnya buku kedua penulis tersebut terbit.

Mereka adalah Sri Izzati (sekarang sedang menunggu pengumuman untuk masuk salah satu perguruan tinggi) dan Abdurrahman Faiz (sekarang kelas 3 sebuah SMA di Jakarta). Sri Izzati menulis cerita tentang kado spesial untuk bundanya berjudul “Kado untuk Ummi” dan Abdurrahman Faiz menulis kumpulan puisi yang bertema sosial dan kemasyarakatan, berjudul “Untuk Bunda dan Dunia”.

13732685531358493244Sri Izzati dan Abdurrahman Faiz menjadi fenomena sendiri dalam dunia penerbitan di Indonesia. Mereka menulis dengan tulus dan tanpa tendensi apapun, kecuali untuk mencurahkan segala kecintaan, kasih sayang, sekaligus kegelisahan mereka sebagai anak-anak.

Pada awal-awal buku mereka terbit, dunia perbukuan gempar dan media gencar dengan pemberitaan. Pro dan kontra bermunculan. Pada satu sisi, ini menjadi darah segar untuk dunia penerbitan karena ada konsep produk baru yang tidak pernah ada sebelumnya. Pada sisi lain, sebagian tidak percaya dengan kemampuan mereka yang notabene masih anak-anak.

Pro dan kontra tersebut kemudian dijawab dengan lakunya penjualan buku mereka. Bayangkan, pada saat itu, setahun terjual 3000 exemplar saja sudah masuk dalam kategori best seller. Sementara buku mereka, setelah kurang lebih satu bulan beredar di pasaran, langsung cetak ulang. Padahal pada cetakan pertama dicetak 3000 exemplar.

Setelah buku mereka diterima pasar dengan baik, semakin hari semakin banyak naskah yang masuk. Bahkan, beberapa penulis ada yang menulis pada usia kelas 1 SD dan mendapatkan Award tingkat nasional yang diadakan Ikatan Penerbit Indonesia.

Sebut saja misalnya Qurota Aini, penulis yang mengikuti jejak Sri Izzati dan Abdurrahman Faiz dengan bukunya yang berjudul “Nasi untuk Kakek”, buku tersebut membawa penulisnya masuk Museum Rekor Indonesia sebagai penulis kumpulan cerpen paling muda di Indonesia. Buku tersebut juga menyabet penghargaan Anugerah Adikarya Ikapi sebagai salah satu buku anak terbaik. Buku Abdurrahman Faiz “Bunda dan Dunia” juga mendapat penghargaan khusus dalam Anugerah Adikarya Ikapi. Ajang paling bergengsi dalam dunia penerbitan di Indonesia.

1373268851914199337Faiz juga banyak mendapat penghargaan karena karya tulisnya, antara lain Anak Cerdas Kreatif Indonesia tahun 2006, Penerima Anugerah Kebudayaan than 2009 dari Presiden RI, dan The Most Amazing Teen 2011 versi Student Globe.

Semenjak buku-buku yang mereka tulis beredar di pasaran, tidak jarang penulisnya diundang sebagai salah satu nara sumber dalam acara-acara kepenulisan. Tidak jarang pula menjadi headline media nasional. Mereka semakin dikenal masyarakat dan menginspirasi banyak anak-anak Indonesia untuk menjadi penulis.

Sekarang, setelah hampir sepuluh tahun berlalu, entah berapa puluh dan berapa ratus anak-anak Indonesia yang telah menerbitkan buku. Tidak hanya menerbitkan buku, tetapi juga ikut menginspirasi generasi berikutnya.

Konsep produk yang kemudian dikenal dengan “Kecil-Kecil Punya Karya” hingga saat ini, konon menjadi salah satu primadona dalam meraih keuntungan besar bagi penerbitnya. Serial ini pula yang kemudian diikuti oleh beberapa penerbit di Indonesia.

Beruntung sekali, konsep ini terus dikembangkan oleh penerbitnya, misalnya dengan mengadakan pertemuan rutin antarpenulis se-Indonesia yang difasilitasi KemDikBud, lomba-lomba yang diadakan setiap bulan, setiap kwartal, dan acara-acara workshop kepenulisan untuk anak-anak.

Sungguh, langkah yang dilakukan penulis-penulis cilik di atas benar-benar luar biasa. Saya yakin, ini akan terus bergulir seperti bola salju. Pada saatnya nanti, jika tiba waktunya, Indonesia akan dipenuhi  oleh generasi muda yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga generasi yang pandai menulis untuk dirinya, masyarakat, dan untuk bangsa.

Aktivitas mereka telah mengubah pandangan masyarakat kalau buku itu tidak hanya bisa ditulis oleh orang dewasa, tetapi juga bisa ditulis oleh anak-anak. Mereka telah menjadi agen perubahan. Semoga. ***

@alimuakhir II www.alimuakhir.com

Tags: worldvision

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 10 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 10 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Cara Efektif Menghafal …

Masykur | 7 jam lalu

Sembilu Cinta …

Christian Kelvianto | 7 jam lalu

Pembunuhan Karakter Keprofesian Industri …

Vendy Hendrawan | 7 jam lalu

Seorang Perempuan di Pemakaman …

Arimbi Bimoseno | 8 jam lalu

Gayatri Si Anak Ajaib Yang Terbang Ke Negeri …

Birgaldo Sinaga | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: