Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Ngainun Naim

Seorang pengajar di IAIN Tulungagung Jawa Timur. Menyukai dunia menulis. Pengelola http://ngainun-naim.blogspot.com

Kompetisi Hidup Tanpa Titik Akhir

OPINI | 22 July 2013 | 05:33 Dibaca: 122   Komentar: 0   0

Judul Buku: Rantau 1 Muara

Penulis: A. Fuadi

Penerbit: Gramedia Jakarta

Edisi: Mei 2013

Tebal: xi + 407 halaman

Peresensi: Ngainun Naim

1374445860140479401

Buku Rantau 1 Muara

Inilah kisah lebih lanjut seorang Alif dalam menapaki jejak hidup yang penuh tantangan. Tidak jauh berbeda dengan dua novel sebelumnya, Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna, serial ketiga ini tetap sarat dengan potret perjuangan, proses menapaki hidup yang kian tidak ringan, dan dinamika kompetisi yang menegangkan. Juga liku-liku interaksi yang menegangkan dan acapkali tak terduga.

Trilogi besutan A. Fuadi, termasuk seri yang ketiga ini, berangkat dari ruh kata mutiara (mahfudhat) yang penuh energi hidup. Seri pertama berbasis pada man jadda wajada, seri kedua pada man shabara dzafira, maka seri ketiga ini berbasis pada man sara ’ala darbi washala (barangsiapa yang berjalan di atas jalan yang benar, maka ia akan sampai).

Kisah diawali tentang kepulangan Alif dari Kanada dan Singapura. Sebagai mahasiswa yang belum lulus dari Universitas Padjajaran, prestasi Alif ke dua negera asing tentu sebuah prestasi yang membanggakan. Banyak orang yang memujinya. Secara cerdas Fuadi mengajak pembacanya untuk tidak hanya melihat apa yang dialami Alif sebagai hasil semata, tetapi seharusnya juga dipahami bagaimana proses yang ia jalani sehingga mencapai hasil maksimal semacam itu. Coba simak bagaimana Alif bertutur, ”Berapa ratus malam sepi yang aku habiskan sampai dini hari untuk mengasah kemampuanku, belajar, membaca, menulis, dan berlatih tiada henti. Melebihkan usaha di atas rata-rata orang lain agar aku bisa meningkatkan harkat diriku” (hlm. 8).

Fuadi mengajak pembacanya untuk tidak bermental instan. Kesuksesan harus diraih melalui usaha dan kerja keras. Kisah dalam keseluruhan novel ini menceritakan tentang bagaimana satu kesuksesan sesungguhnya hanyalah sebuah terminal. Tantangan baru akan selalu terbuka lebar saat sebuah kesuksesan tercapai.

Misalnya, sukses melanglang ke dua negara tetangga bukan berarti jalan hidup Alif terbuka bagi banyak kemudahan. Dikisahkan bagaimana setelah lulus kuliah Alif mengalami berbagai tantangan hidup yang tidak ringan. Setelah melamar ke banyak perusahaan, akhirnya ia diterima oleh sebuah perusahaan di Jakarta sebagai staf marketing dan komunikasi. Tentu saja ia gembira. Ia pun bersiap ke Jakarta. Namun malang, sesaat menjelang keberangkatannya ke Jakarta, ia menerima pemberitaan bahwa perusahaan tersebut batal menerima Alif karena krisis ekonomi di awal reformasi.

Ajaran pesantren untuk tidak mudah putus asa menjadikan Alif terus berusaha keras agar mendapatkan pekerjaan yang layak. Setelah berjuang dengan sangat keras, akhirnya ia diterima di Majalah Derap. Di tempat inilah Alif menempa dirinya secara keras. Ia terus berusaha berjuang, memepertahankan idealisme, dan berkarier. Ada banyak pernik hidup yang ia alami.

Tetapi satu hal yang selalu tertanam kuat dalam benak Alif, yaitu bisa kuliah S2 di luar negeri. Karena itu, bacaan sehari-harinya adalah TOEFL. Buku tentang bahasa Inggris ini terus menemani hari-harinya. Saat istirahat di kantor, di kereta dalam perjalanan tugas, malam menjelang tidur, dan dalam kondisi yang memungkinkan, buku TOEFL selalu menjadi bagian dari aktivitas Alif. Secara menarik Fuadi melukiskan, ”Ketika kawanku tidur bergelung mendengkur, aku sedang sibuk belajar, riset, dan membaca. Tapi aku tidak sedih, karena aku tahu sedang dalam proses bekerja lebih keras dari orang kebanyakan. Hanya cara itu yang aku tahu untuk menjadi lebih baik (hal. 154).

Perjuangan Alif tidak sia-sia. Ia lolos mendapatkan beasiswa Fulbright. Tetapi sekali lagi, sukses itu hanyalah sebuah terminal. Ia masih harus berjuang untuk mendapatkan universitas yang bisa menerimanya. Penolakan demi penolakan terus saja mendera, sampai akhirnya ada penerimaan dari George Washington University hanya seminggu menjelang waktu deadline. Detail cerita dalam novel ini mengajak pembacanya untuk menikmati ketegangan demi ketegangan.

Sukses menakhlukkan beasiswa bukan berarti sukses dalam urusan cinta. Alif diceritakan begitu lugu dalam urusan cinta. Ia lebih pandai memendam rasa daripada mengungkapkannya. Tampaknya ia lebih bermain perasaan dan hidup dalam harapan daripada berbicara langsung kepada Dinara, gadis yang ditaksirnya. Anda akan tersenyum geli melihat bagaimana Alif berjuang hanya untuk mengungkapkan rasa cintanya. Tetapi di situlah sisi menariknya.

Sukses menakhlukkan hati Dinara sekaligus menikahinya bukan berarti tidak ada masalah sama sekali. Persoalan demi persoalan selalu saja muncul dan menghadang. Semuanya membutuhkan penyelesaian secara bijak. Dan kedua pasangan muda ini memang mampu menjalani dinamika hidup yang begitu pelik dan tidak mudah diurai.

Hidup sukses di negeri orang ternyata mendatangkan kebimbangan dalam diri. Kelanjutan hidup dan pilihan kembali ke tanah air telah membuat Alif dan Dinara kembali terbenam dalam konflik berkepanjangan. Harapan, angan, kekawatiran, dan pilihan-pilihan tidak mudah harus mereka hadapi. Pada akhirnya memang kembali ke tanah air merupakan pilihan yang paling baik. Ya, di sinilah saya kira spirit utama novel ini, Rantau 1 Muara.

Ngainun Naim

ngainun-naim.blogspot.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bangkitnya Semangat Warga Korban Banjir …

Achmad Siddik | | 27 December 2014 | 06:51

Jelekong, Kampungnya Para Seniman …

Jumari Haryadi Koha... | | 27 December 2014 | 07:11

Yuk, Berbagi Cerita Natal dan Tahun Baru …

Kompasiana | | 24 December 2014 | 11:55

Di Rothenburg o.d.T. Jerman Restoran pun …

Cahayahati (acjp) | | 27 December 2014 | 05:25

Kompasiana BlogTrip: Jejak Para Riser …

Kompasiana | | 24 December 2014 | 18:26


TRENDING ARTICLES

ISIS Mengancam, Pemerintah Masih Cuek …

Gatot Swandito | 11 jam lalu

Tangis Korban Tsunami Aceh di Depan …

Agung Soni | 13 jam lalu

‘Koalisi Cinta’ di Kongres PAN …

Jubir Darsun | 13 jam lalu

Ipin-Upin dan Bahasa Indonesia Anakku …

Ahmad Hilmi | 18 jam lalu

Gagal Pahami Jokowi, Kapolri Terancam …

Sowi Muhammad | 19 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: