Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Fike Komala

Suka makan, jalan-jalan, baca novel.

Anak Semua Bangsa (Sinopsis)

OPINI | 07 August 2013 | 19:26 Dibaca: 1198   Komentar: 3   0

Mungkin untuk seorang anak SMA, membaca karya sastra Indonesia hanya buang-buang waktu. Tadinya saya juga berpikiran seperti itu. Tapi ternyata untuk libur Lebaran kali ini, saya mendapat tugas dari sekolah membaca salah satu dari tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer lalu membuat sinopsisnya.

Melihat buku (yang tebal) itu untuk pertama kali, niat membaca saya hampir padam. Tapi berhubung untuk tugas sekolah, mau tidak mau ya harus mau. Saya mulai baca halaman pertama. Kalau ditanya perasaan pertama yang muncul? Bingung. Ceritanya kurang nyambung karena buku yang saya pilih adalah buku kedua dari tetralogi tersebut.

Selama hampir 2 minggu saya membaca novel tersebut. Awalnya seperti perjuangan berat, lama-kelamaan menikmati juga. Bisa penasaran kalau tidak diteruskan membaca. Selain itu, banyak sekali pelajaran ‘cinta Indonesia’ yang membuat saya bercermin. Saya jadi tergerak dan tersindir, apa sih yang telah saya lakukan selama ini? Karya apa yang bisa saya bagikan dan berguna bagi orang lain?

Karena pertanyaan-pertanyaan ini juga saya memutuskan menulis di Kompasiana.

SINOPSIS

Novel Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer menggambarkan penderitaan rakyat Jawa dibawah pemerintahan Belanda yang licik dan haus kekuasaan. Dari sudut pandang Minke, seorang penulis pribumi yang begitu mendewakan Eropa, kita dapat melihat kembali sejarah bangsa Indonesia, serta bercermin melihat diri sendiri. Kita diajak menelusuri pikiran Minke yang terombang-ambing dalam keyakinannya, sampai akhirnya sadar bahwa ia harus turun dan memperhatikan bangsanya sendiri.

Minke kehilangan istrinya, Annelies Mellema, pada bagian awal novel. Sahabatnya, Panji Darman atau Robert Jan Dapperste-lah yang menemani Annelies sampai ajalnya di Belanda. Banyak surat dikirimkan oleh Panji Darman untuk Minke dan mertuanya, Nyai Ontosoroh. Selama waktu ini, Minke dan mertuanya (Mama) saling mendukung untuk lepas dari dukacita.

Pandangan Minke akan dunia dan bangsa-bangsa yang ada di dalamnya dipengaruhi oleh para teman-temannya yang kebanyakan orang Eropa, karena ia sendiri adalah lulusan HBS. Ia sering berkirim surat dan bertukar pikiran dengan keluarga De la Croix (Sarah, Miriam, Herbert),

Salah satu sahabatnya, Jean Marais, adalah seorang seniman berkebangsaan Prancis. Suatu hari ia meminta Minke untuk menulis dalam bahasa Melayu, dengan tujuan agar bangsanya sendiri dapat membaca karya Minke. Minke terkejut dan merasa terhina, ia merasa rendah apabila harus menulis dalam Melayu. Karena percakapan ini, hubungannya dengan Marais menjadi dingin. Hanya karena Maysaroh, anak Jean, Minke akhirnya mau berbaikan dengan Jean.

Selanjutnya, Minke diminta Maarten Niijman, atasannya di S.N. v/d D., untuk mewawancarai Khouw Ah Soe dalam Bahasa Inggris, seorang aktivis dari Cina yang berusaha membangunkan bangsanya dari mimpi-mimpi mereka. Ia dapat melihat Jepang mulai menyamai kedudukan negara-negara Eropa.

Tetapi betapa terkejutnya Minke, saat harian itu terbit, yang tercetak berbeda sekali dengan wawancara dan tulisan yang telah ia kerjakan! Artikel tersebut berisi tuduhan pada Khouw Ah Soe yang mengatakan dirinya seorang pelarian. Kejadian ini menyadarkan Minke bahwa Eropa yang selama ini ia agung-agungkan tidak selamanya benar. “Eropa tidak lebih terhormat daripada kau sendiri, Nak! Eropa lebih unggul hanya di bidang ilmu, pengetahuan dan pengendalian diri. Lebih tidak, “ jelas Mama kepadanya. “Kalau mereka bisa disewa siapa saja yang bisa membayarnya, mengapa iblis takkan menyewanya juga?”

Sepertinya semesta belum mengijinkan Minke untuk tenang, karena setelah itu Kommer, teman Jean Marais, mendukung apa yang telah Jean katakan sebelumnya. Selama ini Kommer telah menerjemahkan tulisan Minke ke dalam bahasa Melayu. Kommer mengatakan bahwa Minke tidak mengenal bangsanya sendiri, karena selama ini ia melihat keadaan dari kacamata Eropa. Minke tidak terima dikatai seperti itu, tapi ia tidak dapat membuktikan sebaliknya juga.

Karena masih diselimuti kesedihan, Minke dan Mama lalu memutuskan untuk berlibur ke Tulangan, Sidoarjo, kampung halaman Mama. Mereka menginap di rumah Sastro Kassier, saudara Mama. Mata Minke menjadi terbuka akan kenyataan bangsanya. Dulu Mama dijual untuk menikahi Tuan Administratur Mellema. Kini Surati, anak Sastro Kassier, terpaksa menikahi Tuan Administratur Vlekkenbaaij karena jebakan orang Belanda itu. Untungnya Surati sengaja menularkan cacar dari kampung sebelah pada Vlekkenbaaij. Jadilah Vlekkenbaaij meninggal, dan Surati yang dulu jelita kembali ke rumah dengan borok di wajahnya.

Kepercayaan Minke akan Belanda mulai pudar, ia makin bertekad untuk mengenal bangsanya. Maka menginaplah ia selama beberapa hari di rumah salah satu petani, Trunodongso, yang tinggal bersama dengan istri dan empat anaknya. Trunodongso bercerita kepadanya mengenai kecurangan-kecurangan pemerintah Belanda yang sering memaksa dan tidak menepati janji, sementara para petani tidak bisa berbuat apa-apa untuk menuntut hak mereka.

Minke berjanji pada Trunodongso akan membantunya dengan jalan menuliskan penderitaannya. Selain itu ia juga menulis tentang Surati. Tetapi saat ingin menerbitkan tulisannya tentang Trunodongso, Niijman menolak. Minke putus asa, memutuskan melanjutkan studinya di Betawi untuk menjadi dokter. Di tengah perjalanan di laut, ia bertemu dengan Ter Haar yang menceramahinya cara kerja dan tujuan penjajahan Belanda di Hindia. Minke hampir berkunjung ke kantor koran lokal di Semarang untuk menulis lagi. Sayang, ia malah dijemput polisi untuk kembali ke Wonokromo, rumah Mama.

Mama mempunyai berita untuk Minke. Robert, anaknya yang lain, telah meninggal karena sakit dan ternyata mempunyai anak dengan salah satu gadis desa bernama Minem. Anak itu dinamai Rono. Mama menampung Minem, tapi pada akhirnya Minem pergi dan meninggalkan anak tersebut di Wonokromo.

Saat Minke pulang, Mama harus berhadapan dengan anak resmi Tuan Administratur Mellema, Ir. Maurits Mellema. Karena perebutan warisanlah Annelies meninggal. Dengan bantuan penjaga keamanan Mama (Darsam), Minke, Jean Marais dan anaknya, serta Kommer, Mama mempertahankan dirinya dan rumahnya. Novel ditutup dengan Maurits Mellema menunda pengusiran mereka dari rumah.

Melewati peristiwa-peristiwa tersebut, bertemu dengan berbagai macam orang dan opininya masing-masing, telah mengubah total cara berpikir Minke. Eropa dulu diagung-agungkannya, Eropa tak pernah salah, Eropa bisa maju dengan ilmu pengetahuannya, sedangkan pribumi hanya bisa disuruh. Dengan bantuan sahabat-sahabatnya, pada akhirnya ia melihat juga kebusukan-kebusukan Eropa. Ia belajar, ternyata sikap seseorang tidak ditentukan oleh kebangsaannya. Ia sadar, sebagai pribumi yang terpelajar yang menguasai banyak bahasa, ia merupakan salah satu dari segelintir yang bisa menggerakkan dan memajukan bangsanya sendiri.

“Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir.”

-Kommer

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 15 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 17 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 17 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 18 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: