Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Hentje Pongoh

HP Institute was founding by Hentje Pongoh, SE, MM on January 2013. The mission of selengkapnya

Indonesia di Pasifik

REP | 24 August 2013 | 14:37 Dibaca: 262   Komentar: 1   1

Tinjauan Akhir Pekan – 24 Agustus 2013:

“Indonesia di Pasifik”

Ada sebuah buku yang menemani perjalanan bisnis saya melalui jalur udara selama minggu ini, dimulai pada hari Senin tanggal 19 Agustus 2013 dari Manado ke Balikpapan dengan Lion Air JT-731, kemudian hari Kamis tanggal 22 Agustus 2013 dari Balikpapan ke Tarakan dengan Sriwijaya Air SJ-164 dan kembali dari Tarakan ke Balikpapan dengan Lion Air JT-757. Dimana akhirnya saya dapat menyelesaikan membaca buku itu didalam penerbangan saya pada har Jumat kemarin tanggal 23 Agustus 2013 dari Balikpapan ke Jakarta dengan Garuda Indonesia GA-565.

Buku “Indonesia di Pasifik” yang berjudul asli “Indonesia in den Pacific” diterbitkan pertama kali di Batavia (Jakarta sekarang) pada pertengahan tahun 1937 dalam bahasa Belanda. Kemudian diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia pada tahun 1982 oleh Penerbit Sinar Harapan. Penulis buku ini adalah tokoh idola saya, seorang pahlawan nasional Republik Indonesia (RI) yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara bernama Gerungan Saul Samuel Jacob Ratu Langie, yang lebih populer dipanggil Doktor Sam Ratulangi. Beliau adalah orang Indonesia pertama yang meraih gelar Doktor di bidang eksakta (Matematika dan Fisika) sekaligus pula menjadi Gubernur Sulawesi yang pertama pasca Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

Bagi saya buku setebal 167 halaman ini sangatlah istimewa karena membaca lembar demi lembarnya bagaikan memasuki lorong waktu yang membawa saya kembali ke masa sebelum Perang Dunia I hingga sesudah Perang Dunia II. Menurut saya sosok Doktor Sam Ratulangi adalah seorang “futurist” pada masanya yang mampu meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan, oleh karena pemikiran beliau yang dituliskannya melalui buku ini sejak 76 tahun silam ternyata masih tetap terasa aktual dan sejalan dengan perkembangan dunia di masa kini. Diantaranya adalah tentang masalah Palestina dimana beliau menyatakan bahwa “suasana di negara-negara Arab yang sesungguhnya akan sangat dipengaruhi oleh cara bagaimana soal Palestina akan dipecahkan”. Selain itu bahwa “Pasifik telah menciptakan sebuah kawasan ekonomi dan politik tersendiri, dengan masalah-masalahnya sendiri, yang basis dasarnya adalah Amerika-Jepang”.

Salah satu buah pemikiran beliau dalam buku ini yang menyatakan bahwa “keperluan ekonomi (economic necessity) mewajibkan setiap bangsa untuk memerdekakan dirinya”, tentu menjadi salah satu pendorong bagi bangsa Indonesia untuk berjuang meraih kemerdekaannya. Beliau juga menyatakan bahwa “Secara geografis Indonesia merupakan jembatan antara Daratan Asia dan Benua Australia. Jawa dan Nusa Tenggara (dahulu pulau-pulau Sunda Kecil) merupakan sebuah rangkaian lanjutan Malaya dan bersambung di sebelah Timur dengan Australia, bersama dengan Sumatra menjadi pintu gerbang antara dua samudra: Lautan Teduh (atau Pasifik) dan Samudra Hindia. Semua jalan penghubung antara kedua samudra ini lewat Kepulauan Indonesia. Dan situasi geografis ini memberikan kepada kawasan Indonesia, sebuah kedudukan penentu di dalam lalu lintas ekonomi dan budaya”.

Oleh karena “secara geografis Indonesia terletak diantara dua kawasan produksi dan konsumsi, pada satu pihak perserangkaian Afrika, Hindia Muka dan Hindia Belakang, Persia, Asia Kecil dan Eropa, di pihak lainnya negeri-negeri Asia Pasifik dengan Amerika dan Australia sebagai lanjutan lalu lintas ekonomi”, menurut beliau apabila ditinjau secara demikian, Indonesia terletak di pusat sebagian lalu lintas barang dagangan dunia. Beliau juga menyatakan bahwa “Singapura yang merupakan pusat niaga Timur Jauh, bertimbunlah barang-barang dari kelima benua, dan dari sana barang-barang itu dibagi-bagikan ke segala penjuru angin. Tetapi untuk mencapai Singapura baik dari arah Timur, Selatan, Barat maupun Utara, tak dapat dicapai kecuali melalui kawasan Indonesia”.

Menurut pemikiran Doktor Sam Ratulangi bahwa arti Indonesia bagi Asia Pasifik dan bagi ekonomi dunia pada umumnya mengandung tiga hal yang bersifat pasif. Pertama, sebagai negeri konsumen. Kedua, sebagai negeri sumber bahan mentah. Dan ketiga, sebagai negeri tempat penanam modal. Di tahun 1937, Indonesia dengan 60 juta orang penduduknya merupakan negeri konsumen yang besar artinya bagi negeri-negeri industri, terutama karena Indonesia sendiri tak punya kemampuan industri. Bila kita bandingkan dengan situasi kondisi saat ini dengan perkiraan jumlah penduduk Indonesia di tahun 2013 sekitar 250 juta tentunya Indonesia masih merupakan negeri konsumen terbesar ketiga di Asia sesudah Cina dan India.

Sebagai negeri sumber bahan mentah, saat itu Indonesia merupakan negeri pertanian. Namun Indonesia berada dalam keadaan yang tak menguntungkan, sehingga Indonesia harus menukarkan bahan-bahan mentah yang murah harganya dengan barang-barang industri luar negeri yang tinggi harganya. Walaupun demikian Indonesia selalu dapat mengekspor lebih banyak ketimbang mengimpor, sehingga Indonesia dapat mempertahankan suatu “neraca perdagangan yang aktif”. Dengan fakta ini Indonesia telah membuktikan daya kemampuan ekspor yang hebat di masa itu.

Sebagai negeri penanam modal, pada periode tahun 1930 sampai dengan 1935, Indonesia memiliki kelebihan ekspor sebesar 1.213 juta gulden. Neraca pembayaran ini memperlihatkan suatu gambaran yang berlainan sekali. Uang bukannya mengalir masuk ke Indonesia, tetapi justru uang mengalir ke luar, ke negeri-negeri modal di Barat. Keseluruhan selisih yang menguntungkan antara impor dan ekspor barang dalam neraca perdagangan, semuanya terpakai untuk upah modal dan otak yang harus dibayar Indonesia kepada luar negeri, dan bahwa itu bukanlah merupakan sumbangan untuk penambahan kekayaan di Indonesia.

Mengapa dalam ketiga hal tersebut diatas, Indonesia berlaku pasif? Menurut Doktor Sam Ratulangi, oleh karena saat itu Indonesia adalah negeri jajahan dalam bentuknya yang modern dan termurni. Inilah sebabnya tidak ada pembentukan modal di dalam negeri ini, dan modal yang terbentuk untuk sebagian terbesar nantinya akan meninnggalkan pula negeri ini, sepanjang modal itu berada di tangan orang-orang bukan Indonesia. Karena mereka tidak berurat-berakar di bumi ini, baik menurut ras, maupun budaya, ataupun secara politik ideologis. Semuanya berkaitan dengan posisi ekonomi Indonesia yaitu: Pertama, sebagai negeri pengahasil bahan-bahan mentah dan negeri penghutang, dan Kedua, dengan status politiknya sebagai negeri jajahan.

Dalam buku ini, Doktor Sam Ratu Langie membuat kesimpulan tentang makna yang dimiliki atau dapat dimiliki Indonesia bagi ekonomi dunia dan politik dunia, dengan ciri-ciri khasnya antara lain:

1. Secara geografis ekonomi, karena terletak di tengah-tengah kawasan konsumsi dan produksi yang berarti bagi ekonomi dunia, Indonesia menduduki suatu posisi penentu di dalam lalu lintas ekonomi dunia;

2. Secara geo-ekonomi, karena tanah Indonesia yang mengandung kekayaan bahan-bahan mentah mineral serta permukaan tanahnya yang dapat menghasilkan bahan-bahan mentah pertanian untuk ekonomi dunia;

3. Secara ekonomi sosial, karena penduduk Indonesia yang giat bekerja sekalipun dengan tingkat hidup yang rendah, sehingga tingkat upahnya juga rendah; jumlah penduduk yang besar itu merupakan kelompok konsumen hasil-hasil industri;

4. Secara iklim, Indonesia memiliki iklim tropis yang lunak dengan musim-musim yang teratur;

5. Secara keuangan, Indonesia tidak memiliki modal nasional dalam negeri dan juga tidak memiliki industri.

Menurut beliau, kelima ciri khas tersebut diatas tentunya akan menarik perhatian dan kegiatan modal dari luar negeri. Namun diatas segala-galanya, negeri dan rakyat Indonesia sendiri merupakan unsur-unsur pasif dalam perhatian dan kegiatan internasional pada masa itu.

Melalui pemikiran Doktor Sam Ratulangi yang dituliskannya melalui buku “Indonesia di Pasifik” ini, tentunya akan dapat menjadi sebuah referensi yang penting bagi Pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia didalam menjalankan dan memainkan peranannya di era globalisasi dunia pada umumnya, maupun di kawasan Asia Pasifik secara khusus. Apalagi di tahun 2013 ini Indonesia menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan acara pertemuan puncak kepala-kepala negara anggota Asia Pacific Economic Coperation (APEC). Tentunya seluruh rakyat Indonesia berharap agar forum APEC tersebut akan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan seluruh rakyat di negeri ini. Semoga…

Oleh: Hentje Pongoh, SE, MM / Chairman HP Institute

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah 5 Butir Penting Putusan MK atas …

Rullysyah | | 21 August 2014 | 17:49

MK Nilai Alat Bukti dari Kotak Suara …

Politik14 | | 21 August 2014 | 15:12

Sharing Profesi Berbagi Inspirasi ke Siswa …

Wardah Fajri | | 21 August 2014 | 20:12

Meriahnya Kirab Seni Pembukaan @FKY26 …

Arif L Hakim | | 21 August 2014 | 11:20

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Dear Pak Prabowo, Would You be Our Hero? …

Dewi Meisari Haryan... | 7 jam lalu

Kereta Kuda Arjuna Tak Gentar Melawan Water …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Dahlan Iskan, “Minggir Dulu Mas, Ada …

Ina Purmini | 9 jam lalu

Intip-intip Pesaing Timnas U-19: Uzbekistan …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Saya yang Memburu Dahlan Iskan! …

Poempida Hidayatull... | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: