Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Mas Budi

ﺑﺎﺭﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻚ

Resensi “Kupu-kupu Fort De Kock” (Fiksi Silat)

OPINI | 03 October 2013 | 05:55 Dibaca: 384   Komentar: 0   0

Judul: Kupu-kupu Fort De Kock, Tarikh Luka Pendekar Selendang Putih
Penulis: Maya Lestari Gf
Penerbit: Koekoesan, Jakarta
Cetakan: Pertama, Juli 2013
Tebal:  415 hlm
Ukuran: 130 x 190 mm
ISBN: 978-602-17419-1-7

ilustrasi: sebuahsaja.wordpress.com

Fort de Kock adalah nama sebuah benteng kuno peninggalan jaman Belanda dahulu yang terletak di kompleks Taman Bundo Kanduang, Bukittinggi, Sumatera Barat. Pada awalnya saya mengalami kesulitan ketika mencoba menghubungkan antara sebuah benteng peninggalan jaman Belanda dulu, serta perannya di dalam satu kisah silat di masa kini. Silat? Ya, silat.

Novel silat ini berhasil menarik hanyut saya ke dalam 2 petualangan sekaligus.

Pertama, menjelajah kisah kependekaran di Sumatera Barat yang sungguh belum pernah saya nikmati sebelumnya, karena selama ini saya banyak tenggelam dalam kisah roman sejarah berlatar belakang Tanah Jawa di masa lampau. Novel ini juga telah membuka wawasan saya tentang kehidupan dunia kependekaran Tanah Minang secara mendalam secara cantik sekali.

Kedua, kisah ini seolah mesin waktu yang telah berhasil membawa para pendekar yang mewarisi kedahsyatan ilmu kesaktian dari para leluhur di masa lampau, untuk hadir dan beraksi di masa sekarang ini, dalam satu jalinan cerita nan pelik, penuh dengan kejutan.

Buku ini tak semata bercerita tentang hitam dan putih, benar dan salah, membunuh dan kemudian membalas dendam seperti kisah silat pada umumnya. Namun ia juga bercerita tentang cinta; cinta antara sepasang lelaki dan perempuan - sebagaimana kodratnya kehidupan diciptakan oleh yang Maha Kuasa -, juga tentang makna kedalaman hakikat cinta yang bak dunia tanpa batas.

Ketika kita masuk kedalam ’sisi melik’, intrik dari cinta yang maha luas itu, tak ada lagi hitam dan putih disana. Bahkan untuk sisi abu-abu sekalipun akan sulit mendapatkan tempat. Hal yang sama sulitnya ketika diberi pilihan untuk hidup atau mati, membunuh atau dibunuh.

Perebutan kekuasaan antara golongan dunia bawah (Under World?) yang ingin menguasai dunia atas. Bagi mereka yang hidup dalam dunia bawah, teror dan ketakutan adalah sebaik-baiknya jalan untuk berkuasa. Pertarungan pendekar golongan putih melawan golongan dunia bawah pun tak dapat dihindari.

Tragedi kemanusiaan, pengkhianatan, hingga roman cinta semua menyatu, membentuk satu “harmonisasi” nan indah. Pada akhirnya, kisah novel ini akan mendudukan kita dalam satu “kontroversi hati”, dimana kita harus menerima kenyataan yang tak terbantahkan, betapa tipis jarak antara cinta dan benci, untuk tetap setia atau berkhianat.

source: mayalestarigf.com

Satu catatan:
Kisah dalam novel ini berjalan lambat.
Diceritakan oleh “aku” sebagai orang yang pernah melihat setiap kejadian dari para tokohnya.

Diperlukan pemahaman yang “dalam” dari setiap paragraf yang terlampaui, agar kita bisa menikmati indahnya kerumitan masalah yang disajikan.
Ingat, sekali kita terikat dalam kerumitan cerita yang disajikan buku ini, akan sulit bagi kita untuk melepaskan diri hingga kita menuntas-bacakan buku ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 8 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 11 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 11 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: