Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Gustaaf Kusno

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a selengkapnya

Duh, Asyiknya Membaca Buku Indonesia Tempo Dulu

HL | 15 October 2013 | 11:44 Dibaca: 1445   Komentar: 40   25

13818121471640992037

(ilust authorsxpress.com)

Ada sebuah buku yang berjudul “Tempo Dulu” yang ditulis oleh Annick M Doeff, wanita Belanda yang lahir dan menjalani masa remajanya di Indonesia pada masa seputar Perang Dunia II. Ayahnya adalah seorang teknisi yang pernah bertugas di Tarakan (Kalimantan) dan juga Palembang. Annick (yang panggilan di keluarganya: Niki) mempunyai satu kakak perempuan, satu kakak laki-laki dan satu adik perempuan. Sesuai dengan ciri khas nama Belanda, kakak lakinya yang nama resminya Wiliem, dipanggil ‘Pim’ dan adik perempuannya yang bernama resmi Henrietta, dipanggil ‘Yettie’.

Membaca buku ini sangat terasa asyik sekali, pertama, dia berkisah tentang Indonesia (sangat langka buku yang bertutur tentang negeri kita), kedua, dia ditulis dengan bahasa Inggris yang manis dan cantik sekali, dan ketiga, dia memotret keseharian Indonesia yang amat khas dengan amat lengkap dan mengalir dengan mulusnya. Sesungguhnya buku ini bukan dimaksudkan untuk memuja dan memuji (glorifikasi) Indonesia, tetapi lebih untuk menggambarkan penderitaan tawanan Belanda pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Namun seperti saya utarakan, Annick berhasil membawa nostalgia Indonesia tempo dulu dengan begitu puitisnya dan diselingi dengan humor yang segar.

Saya coba mengutip beberapa paragraf yang sungguh ‘ngangeni’ berikut ini. Pernah suatu ketika pada saat saat Niki berusia enam setengah tahun, dia dan kakak lakinya, Pim berkelana di tepian sungai Musi (Palembang) sampai jauh lewat malam. Sudah terbayang oleh mereka, mama mereka akan murka dan merotan mereka berdua. Sang kakak timbul ide untuk menyelipkan buku tebal atau majalah ke dalam celana dalam, agar cambukan rotan ini tak akan terasa sakit. Si Niki masuk ke kamarnya lewat jendela dan menemukan buku Injil yang tebal dan dimasukkannya ke dalam celana dalamnya. Namun akal ini ternyata gagal total, karena si mama melihat tonjolan buku tebal ini dan mengenyahkan buku Injil ini sebelum merotan pantat Niki.

Inilah kutipannya dalam bahasa Inggris: It was long past the time we were supposed to be home. Pim and I dragged out our feet through the streets of Pladju, knowing that a spanking awaited us. Pim, ever creative, came up with what I considered to be a brilliant and foolproof idea.

“I know what to do,” he said, trying to buoy my sagging spirits. ‘Let’s put a book or a magazine in our pants so that we won’t feel a thing when Mama spanks us.”

Cheered by the thought of circumventing a punishment we knew would sting, we ran home. Climbing through my bedroom window, a suitable buffer immediately caught my eye. A children’s Bible. The heaviest book in my collection, would be my salvation. It took effort and an extra pair of underpants before God’s word finally was sufficiently anchored to bestow its blessing upon me: a painless spanking. I waddled out of my room, my confidence in my brother’s brilliant idea ironclad. It shattered when my mother yanked my all too visible protection from my underpants and carelessly threw God’s word aside. The spanking remained in my memory as a double whammy. It stung but not nearly as much as my brother’s gloating.

“I didn’t feel a thing. Not a thing.”

With Yettie’s soft baby-doll pillow invisible in his pants, my hero started what I later recognized was his way of protecting himself by letting me be the guinea-pig.

Di Palembang, di tepian sungai Musi, ada rumah sakit yang dikhususkan bagi penderita kusta yang dinamakan RS Sungai Kundur. Di dalam buku ini, saya baru tahu bahwa rumah sakit kusta ini didirikan oleh misi agama Bala Keselamatan (Salvation Army) yang berasal dari Norwegia. Sesuatu yang tak terbayangkan oleh saya, bahwa ada orang Norwegia yang jauh-jauh dari negaranya datang ke negeri kita. Setelah membaca lebih lanjut buku ini, saya juga baru tahu bahwa juga orang berbangsa Yahudi, Perancis, Jerman, Rusia ada di tanah air kita di seputar menjelang Perang Dunia II ini. Inilah sekelumit kutipan mengenai rohaniwan Bala Keselamatan yang memelopori RS kusta: The fifth of December only came around once a year, but Sundays came around every week, and on this day, Norwegian Salvation Army officers, who had established a leper colony some miles up the river, boarded their motorized proa and crossed the wide Musi to teach Sunday school in our town. They were a cheerful lot, enthusiastic and fun to be with. Most importantly, they taught us a religion in which the fear of damnation or hell appeared only in the hymns we sang lustily but, fortunately, uncomprehendingly. To the Norwegians missionaries, we were precious regardless of our sometimes less than admirable behavior. We were children of God who reign in heaven and all was well with the world.

Catatan: the fifth of December di sini bercerita tentang Sinterklaas yang dirayakan setiap tanggal 5 Desember. Niki berkisah tentang Sinterlaas yang datang melalui sungai Musi langsung dari Spanyol. Dia diikuti pembantu-pembantunya yang berkulit hitam legam (orang Moor) yang dinamakan ‘zwarte Piet’. ‘Proa’ yang ditulis di atas adalah ‘perahu’ yang berseliweran di sungai Musi. Niki sangat senang bila mengikuti sekolah Minggu yang diselenggarakan rohaniwan Bala Keselamatan, karena mereka sangat bersahabat dengan anak-anak yang nakal-nakal itu.

Niki pernah dititipkan pada keluarga Yahudi kenalan orangtuanya, waktu ibunya mengalami patah kaki sewaktu mengandung adiknya dan dirawat di rumah sakit. Di keluarga itu dia baru mengenal upacara keagamaan Seder (malam hari Paskah) dan saat itu dia bertanya pada kakaknya Pim, apa kegunaan dari pusar (udel). Kakaknya yang sok tahu, mengatakan bahwa kalau orang melanggar ajaran kitab suci atau tertelan biji buah-buahan, maka dari pusarnya akan tumbuh tanaman. Suatu hari, dia tak sengaja menelan biji buah, dan dalam ketakutan dia memeriksa udelnya setiap pagi kalau-kalau sudah tumbuh tanaman di situ.

Pada bab lain, sewaktu berjalan-jalan dengan rombongan anak sekolah, kepala sekolah bertanya siapa yang tahu mengapa rumah di Palembang dibuat bertiang (disebut rumah panggung). Ada yang menjawab, supaya kalau air pasang tak kebanjiran, ada lagi jawaban, supaya ular tak masuk ke rumah, ada pula yang mengatakan supaya mendapat udara segar karena letaknya yang tinggi. Namun jawaban yang paling tepat menurut ibu guru adalah supaya penghuninya aman dari serangan harimau yang pada masa itu masih banyak berkeliaran di sekitar permukiman.

Buku ini juga menuliskan tentang adu layangan yang diungkapkan dengan ‘indahnya’ dalam bahasa Inggris. Inilah kutipannya: Kite flying was a popular sport that had a peculiarly Asian twist: kite fights. The goal of these fights was to try getting around the string of another kite with yours and then cut it. Victory meant seeing one kite twirled higher and higher into the sky’s vast expanse while the other nosedived to the ground. Cutting a string was made possible by the fact that in Asia, strings were often coated with ground glass that made them as sharp as a razor blade.

Dinarasikan juga tentang petani yang membawa pikulan berjalan beriringan sebagai berikut: In this Asian landscape, native men transporting goods were more common than trucks, which we called “toolcars”. With torsos bare, they ran in single file with a smooth bouncing gait along the side of the road, carrying over their shoulders baskets slung from poles called pikulan used for transporting goods. Those carriers, their heavy baskets bobbing up and down rhythmically, seemed as light on their feet as basketball players jumping high as a warm up to scoring.

Mengunjungi pasar merupakan pengalaman yang terus membekas dalam kenangan Niki, baik kenangan visual maupun kenangan bau-bauan. Dia bercerita tentang kue lapis, kue talam, kue klepon, bahkan telor asin yang dibelah bak matahari yang turun ke peraduannya berikut ini: The pasar stimulated all my senses. Colors seemed brighter, more vibrant here, like the outrageous pink of kue lapis (layered cake), the warm brown of kue talem or the poisonous green of kue klepon, dense sago puddings made with coconut milk that became my favorite desserts. On small mounds of salted black duck eggs, the joke of a cooked egg cut in half illuminated the pasar like a sinking red sun.

Dan tak lupa dia bercerita tentang nyamuk yang datang berbondong-bondong pada musim penghujan dan penangkal obat nyamuk yang dibakar oleh jongos, sekalipun nyamuk itu ternyata tidak mempan oleh asap yang meliuk-liuk lambat-lambat itu. Justru penangkal nyamuk yang ampuh adalah cicak. Inilah kutipannya: With the rains came the mosquitoes and many more-or-less effective remedies against them. One was the ubiquitous obat nyamuk (mosquito medicine). Each evening, Jongos lit the coils made of dried herbs that were supposed to keep them at bay. The slowly spiraling curls of smoke filled the air with their pungent smell but the whir of mosquitoes continued. In the war on mosquitoes, there were other weapons and far better ones: cicaks, an onomatopoeia for the noise little lizards make when no one is around.

Masih sangat banyak yang sebetulnya ingin saya share-kan di sini, namun keterbatasan ruang tak memungkinkan saya mengutip semuanya. Kita harus bersyukur masih ada penulis asing yang mau bersusah-payah menulis buku dengan begitu indahnya tentang Indonesia, negeri yang disebut Multatuli sebagai ‘jamrut khatulistiwa’.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 4 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 5 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 7 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 7 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Sayang Dijadikan Sebuah Alasan Untuk …

Fairusyifa Dara | 7 jam lalu

Semarak Pesta Rakyat Situ Bungur (Bingkai …

Agung Han | 8 jam lalu

Kenapa Lebih PD Dengan Bahasa Asing Dari …

Seneng | 8 jam lalu

Car Free Day Bukan Solusi …

Nitami Adistya Putr... | 9 jam lalu

ATM Susu …

Gaganawati | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: