Media
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Saya mulai jadi Kompasianer sejak Juli 2009 lantaran termotivasi oleh informasi yang disampaikan seorang Sahabat yang sudah Ngompasiana lebih dulu. Lantas menulis hal-hal yang tematis dan kritik sosial. Yang pasti saya masih seorang Angkasawan ( Broadcaster RRI ). Mengapa bergabung ke Kompasiana ? Yang pasti karena ingin menambah teman, menambah pengetahuan dan terlibat dalam pertukaran pikiran secara sehat sebagaimana logi Kompasiana " sharing, conneting ".
Infotainment Haram? Infotainment yang Mana?
Mkabulbudiono-rri
|  30 Juli 2010  |  14:39
159
18
1 dari 2 Kompasianer menilai Bermanfaat.

Infotainment Haram ? Infotainment yang Mana ? Akankah pengharaman itu mengakhiri tayangan infortainment ?

Pertanyaan ini bagi saya penting, untuk mendudukkan pemahaman dan persoalan secara proporsional dan kontekstual. Sebab bagi saya banyak program infotainment yang tidak seharusnya diharamkan karena memang tidak haram. Karena itu terlebih dahulu mesti dipahami dengan jelas apa itu infotainment.

Dalam pemahaman broadcasting, baik radio dan televisi, infotainment adalah suatu program informasi yang disajikan dengan cara yang menghibur. Oprah Winfrey Show itu salah satu program infotainment. Lateshow with David Laterman juga infotainment. TVRI setiap pagi menyiarkan program infotainment mulai 05.30 WIB judulnya Selamat Pagi Nusantara. TVOne hampir selalu mengemas program beritanya dalam format infotainment. Banyak informasi yang disajikan dengan cara yang menghibur dalam bentuk talkshow agar orang tetap mau menonton. Semua acara informasi yang dikemas dan disajikan tidak dengan pola penyampaian berita yang formal, itu bisa dikategorikan program infotainment. Asal muasalnya adalah to inform and entertain. Karena esensinya adalah informasi maka disini berlaku kaidah jurnalistik dan kode etiknya.

Selain infotaiment ada juga edutainment. Sesame Street atau Jalan Sesama, Unyil, si Bolang itu program edutainment. Program pendidikan yang dikemas dan disajikan dengan cara menghibur.

Di Indonesia, setidaknya menurut saya, infotainment dipahami secara salah kaprah. Di televisi kita infotainment dipahami sebagai siaran informasi mengenai tetek bengek dunia artis dan hiburan. Acara ini juga dengan sangat gampang menyebut seseorang yang baru sekali muncul di acara tivi dengan selebriti. Informasi mengenai artis dari pacaran, tunangan, kawinan, hamil, melahirkan, ulang tahun anaknya, cara momong anak ala artis, cerai, rebutan anak dan gono gini, selingkuh, macam macam. Infotainment di Indonesia adalah acara gosip. Berghibah, demikian menurut bahasa agama. Yang nggak perlu dan nggak ada manfaatnya diomongin di omongin. Yang nggak ada di ada adain.Gaya bergosip itu seperti sudah menjadi pola. Cut Tari adalah pembawa acara infotainment yang pas betul. Berpasangan dengan.. akh siapa namanya, gosip menjadi sedemikian enak dipandang dan didengar. Karena memang acara gosip maka , tidak seluruhnya memang, sering bercampur aduklah antara fakta dan opini bercampur aduk dengan intervensi masalah pribadi.

Karena berghibah, bergunjing, dan membicarakan urusan apalagi keburukan orang lain adalah perbuatan tercela, dan dosa serta menjurus pada kemudaratan maka ( meminjam istilah keren ) dalam rangka melindungi umat dari perbuatan dosa, diharamkanlah acara gosip yang diberinama infotainment itu.

Pertanyaan selanjutnya apakah pengharaman itu akan menghentikan infotainment ekh acara gosip itu ?

Fatwa MUI ini, bisa-bisa, akan makin semakin meningkatkan rating acara yang satu ini. Mengapa ? Saya, anda, kita orang Indonesia semakin besar syahwat ingin tahunya kepada sesuatu yang dilarang. Makin di larang nonton infotainment, makin banyak yang dengan alasan ‘ ingin mengetahui kebenaran halal haramnya’ pada nonton. Ini intuisi manusia. Dus,…makin banyak yang nonton, makin tinggi rating acara itu.

Lantas, barangkali akan muncul argumentasi begini. Ya biar saja, naik ratingnya sesaat, tokh tidak lama semua acara infotainment bakal diturunkan dari siaran televisi. Apa memang begitu ?

Saya jadi ingat. Suatu kali atas usulan masyarakat acara Empat Mata nya Tukul, dilarang tayang karena mempertontonkan dengan kasat mata suatu adegan ‘sadis’ di luar batas. Juga karena mewawancarai manusia unik Sumanto. Acara Empat Mata memang sempat tidak mengudara. Tetapi tidak lama kemudian muncullah acara “ Bukan Empat Mata”. Ini untuk suatu acara yang sudah jelas judul, isi dan pembawa acaranya. Bagaimana dengan acara gosip menggosip itu ? Hampir semua televisi punya jenis acara seperti itu. Namanya macam-macam dan pembawa acaranya berbeda beda walau isinya hampir selalu sama. Kalau yang satu sedang mengekploitasi Ariel dan Luna, yang lain sama saja. Itu salah satu misal.

Karena itu jika kemudian dilarang tayang, pertanyaan yang bakal dimunculkan tentu adalah acara gosip mana yang dilarang. Apa nama acaranya, apa dan bagaimana isinya, siapa presenternya. Akan selalu ada pembelaan bahwa acara di televisi ini dengan pembawa acara si Anu tidak mengeksploitasi urusan pribadi. Yang lain membela diri dengan mengatakan bahwa acaranya lebih banyak menyiarkan hal hal positip dan disajikan dengan santun. Lantas kalaupun ada yang dilarang tayang, maka dengan segera muncul akal mengganti nama acara dan presenternya, seperti dalam kasus Empat Matanya Tukul.

Jadi bagaimana ?

Menurut pendapat saya pengharaman menayangkan acara infotainment yang pemahamannya salah kaprah itu tidak akan begitu saja menghentikan acara itu di televisi. Yang mungkin bisa diharapkan adalah dengan adanya maklumat itu ‘ untuk sesaat’ akan ada sedikit perubahan dalam hal isi dan pola penyajian. Habis itu setelah orang lupa, jangan jangan karena efek promosi makin banyak saja jenis acara seperti itu yang diproduksi dengan alasan rating yang tinggi.

Jadi bagaimana ?

Sesungguhnya sangat mudah membuat bubar acara gosip seperti itu dari tayangan televisi. Yaitu jangan menonton ! Sebab begitu dari survey diketahui ratingnya rendah, acara seperti itu pasti turun peringkatnya. Tetapi yang sangat mudah itu menjadi sedemikian sulit karena kemauan untuk menonton acara itu boleh jadi memang sulit dihentikan. Semua yang beragama mestinya tahu bahwa terlibat dalam pergunjingan itu dosa. Pengetahuan itu sama dengan pengetahuan bahwa selingkuh apalagi berzina itu merupakan dosa besar. Tetapi tokh akhirnya banyak yang tahu tetapi mau. Jadi sesungguhnya pelarangan acara apapun, mulainya ya dari rumah. Dari sikap konsekwen dan konsisten memahami dan melaksanakan tuntunan kebaikan. It just depends on a ‘click’.

Jadi……. ?

Salam

M. Kabul Budiono.

catatan ilustrasi diunduh dari <http://www1.istockphoto.com/>


Tags: sorotaninfotainment

Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
30 Juli 2010 14:51
1

Terimakasih untuk pengertian infotainmentnya pak, rasa ingin tahu masyarakat indonesia memang besar, apalagi yang mengandung kontroversial. dan memang manusiawi, jika terdapat sesuatu yang dilarang maka akan dilanggar. mungkin sebagian taat, tapi mayoritas tidak.

30 Juli 2010 | 15:04
0

sama sama mbak Eka. Kenyataannya nampaknya memang begitu.Tksh atensinya. Salam.

30 Juli 2010 16:50
0

betul..betul..betul..
Info : berita
Tai : Kotoran
men : Laki-laki
Jadi Berita kotoran laki-laki..hehehhehheheh,,bejanda pa

30 Juli 2010 | 17:42
0

he…he…he… bisa aja Bung Amal ini. Salam….

31 Juli 2010 07:52
0

saya tertarik alinea terkhir dik Kabul. Masyalahnya bukan pendah cenel atau jangan ditonton, tetapi TV itu mau nayangkan apa lagi hayo……….

Sepengetahuan saya Negara ini sudah tidak mampu lagi mengurangi takaran jumlah tv justru akan makin jelek tayangannya, makin rendah mutunya, makin tinggi distorsi informasinya. Dengan lima tv saja sudah kebablasan jenis siaran apa yang ditayangkan sudah kroyokan atau berebut kue yang hanya menghibur apa lagi sekarang dan setelah digitalisasi nanti akan lebih banyak lagi teknologinya yang diamini pemerintah????? bukankan TV PUBLIK mau bunuh diri.

Solusinya gerakan arus bawah yang media tidak tau. Penyiaran itu bukan monopoli media informasi saja tetapi media pendidikan dan media hiburan yang solusinya tersembunyi demi mas Kabul tetap PNS Lhoo…..he….he

31 Juli 2010 | 12:21
0

Terima kasih Mas, tambahan catatannya. TEtap sehat dan semangat.

31 Juli 2010 14:01
0

heheheheheheh
rating TV memang sangat tinggi utk SInetron air mata, sinetronmakian dan gossip hehehehe

btw, kita serahkan saja ke msyarakat
toh MUI dan bbrp elemen termasuk PWI, KSI dll sudah memberikan arahan & pengertian

salam ukhuwah

7 Agustus 2010 | 17:53
0

… tksh atensinya Bung Elha… Salam

31 Juli 2010 14:01
0

Puntenm ikutan numpang lapak ya. Tks

Mau membantu anak Yatim, dhuafa or Janda tua…Silakan vote artikel kami di (bagian bawah) :
http://lomba.kompasiana.com/group/ib-1000-tulisan/2010/07/29/aku-berselingkuh-dengan-ayahku-sendiri/

Insya, jika menang hadiah favorit tsb akan kami sumbangkan utk mereka tercinta:
1. Bunga, gadis kecil (dhuafa) yg dulu sakit DBD & kini bersemangat sekolah
2. Janda Tua (Rogaya) di Tangerang yg akan menikahkan anaknya
3. Noval, Anak Yatim yang di-titipkan di Pesantren
4. Janda Tua di Paseban yang tinggal di rumah tuaaa banget

Tks atas dukungan rekans semua

Salam ukhuwah
–elha / KLINIK CINTA –

7 Agustus 2010 | 17:53
0

Tksh infonya ya. Salam ukhuwah

1 Agustus 2010 12:17
0

Seandainya disesuaikan namanya saja sudah bagus, saya kira.

JADI ???

ya, namanya Televisi Pendidikan ya jangan diisi lainnya, cukup materi pendidikan saja…
namanya trans, ya diisi sesuai tujuan trans. mau trans-nasional atau trans-jakarta…

Yach, namanya juga cuma mimpi, Pak…

Salam dan terimakasih

7 Agustus 2010 | 17:54
0

Tksh Bung Zaenal. Salam hangat

3 Agustus 2010 13:44
0

Banyak konten dari tulisan Mas Kabul yang benar adanya. Secara definitif, pengertian infotainment adalah penyampaian news (fakta) dengan cara atau gaya menghibur (atraktif). Tapi istilah ini, seperti juga di negara mbahnya bisnis hiburan Amerika sana, terlanjur dimaknai sebagai ‘mempergunjingkan’ perilaku atau malah aib seseorang, dalam hal ini artis (aktris?) atau selebriti. Sulitnya, di sisi lain, mayoritas masyarakat juga suka. Dengan rata2 rating yg tinggi, acara ini sdh (terlanjur juga) jadi kontributor penting bagi pemasukan media, khususnya TV. Jadi? …
Salam kenal.

7 Agustus 2010 | 17:56
0

Kang Deddy. Terima kasih tambahan catatannya. Jadi begitulah memang jika media sudah berorientasi pada bisnis. Ini juga dianut oleh TV Swasta kita…..Salam

8 Agustus 2010 | 08:29
0

Doedi, Pak Kabul .. Eh Pak ERWE .. [tetangga sebelah kok!]

10 Agustus 2010 | 17:01
0

ekh iya anu maaf Kang DOEDI. Salah ketik. Abahnya Ami teh.. Pak eRWe mah kagak lupa. Met Puasa Ramadhan Kang Rahadian ya… he..he,…

4 Agustus 2010 16:37
0

Sampe lupa nih, korupsi pejabat negara dan anggota DPR sudah difatwakan MUI sebagai haram apa belum ?
Habis yang dipikirin selebreties melulu dari yang berbuat aib sampai yang nasionalis !

7 Agustus 2010 | 17:57
0

…he..he.. kayaknya belum tuh. Salam Mas

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Search:
Kompasiana Muda Blogshop
Copyright 2008 - 2010