Media
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Hanya perempuan biasa yang lahir dan besar di Jogja.
Bincang Bareng Anggito Abimanyu di Kompasiana MODIS
REP
Ismawati Retno
|  31 Juli 2010  |  22:42
289
29
2 dari 4 Kompasianer menilai Menarik.


isma2010

Pak Anggito main "flute" bersama grup band Koala. foto:isma2010

Kompasiana Modis kembali digelar di Kota Jogja Sabtu (31/07). Ajang diskusi para blogger yang tergabung di kompasiana(dot)com ini berlangsung seru dengan tampilnya ekonom senior Anggito Abimanyu. Berlangsung di Gedung Telkom Kotabaru, diikuti sekitar seratus orang aktivis blogger Jogja. Pada saat bersamaan juga dilakukan peluncuran buku hasil ngeblog di Kompasiana. Buku berjudul “Pak Beye Dan Istananya” karya Mas Wisnu Nugroho yang wartawan Kompas itu. Kereeenn… hasil ngeblog bisa terbit buku. Kapan neeh teman-teman Kompasianer lain menyusul…???

isma2010)

Siapa belom kenal Mas Inu ??? (foto:isma2010)

Pak Anggito tampil memukau dengan alunan alat musik tiup “flute” kesayangannya. Baginya “flute” yang sudah menemani sejak sepuluh tahun terakhir itu adalah istri keduanya. Menurut pengakuannya kemanapun pergi “flute” itu selalu setia menemaninya. Bersama grup band “Koala” yang berawak sesama alumni SMAN 3 Yogyakarta seperti dirinya, Anggito mengalunkan beberapa judul lagu untuk para blogger Jogja. Suasana segar begitu terasa sesaat sebelum acara diskusi dimulai.

Mas Iskandar sebagai pemandu diskusi segera mempersilakan Pak Anggito duduk di kursi depan menghadap para peserta. Diskusi diawali dengan cerita pak Anggito tentang boyongannya ke Jogja beberapa waktu lalu.

isma2010)

Pak Anggito dan Mas Iskandar di Kompasiana Modis. (foto:isma2010)

Kerinduannya terhadap Jogja selalu muncul hingga beliau betul-betul hijrah boyongan ke Jogja. Pak Anggito mengaku kembali ke Jogja merupakan sebuah karunia. “Di Jogja saya punya banyak memori indah.”

“Sebelumnya saya tidak pernah bermimpi menjadi ekonom. Itu sebuah kecelakaan karena sewaktu muda saya suka musik dan olahraga basket. Lulus dari SMA saya ingin masuk ke Akademi Musik, namun tidak diperkenankan oleh keluarga,” kata ekonom senior pengagum Gus Dur ini.

“Di Departemen Keuangan, saya dianggap belom pantas menjadi eselon I karena kepangkatan belum cukup. Pada birokrasi pemerintah memang pemilihan pejabat tidak berdasarkan ‘meryt system”. Meski “good people” tidak akan bisa masuk dalam jajaran pemerintahan karena terkendala factor kepangkatan,” tandasnya.

Pak Anggito tidak pernah merasa menyesal sedikitpun setelah selama 10 tahun mendampingi menteri keuangan, dan saat ini kembali ke almamater. “Saya tidak pernah merasa menyesal, justru beruntung. Saya kembali ke Jogja untuk menjalankan impian memberi bimbingan terhadap anak didik di UGM. Saya masih optimis masa depan Indonesia akan lebih baik lagi karena SDM-nya juga bagus. Lulusan universitas juga bagus. Saya akan tetap berkarya memberikan yang terbaik dimanapun berada.”

Pak Anggito orang pertama dalam sejarah Indonesia yang keluar dari pemerintahan dari jabatan eselon I. “Saya adalah orang pertama dalam sejarah pejabat eselon I yang mengundurkan diri. Selama ini belum pernah ada eselon I yang mengundurkan diri.”

Ketika ditanya tentang birokrasi yang tidak merit system, dengan panjang lebar Pak Anggito berbagi pandangannya. Saat ini masih banyak birokrat yang hanya mencari keuntungan sendiri.

“Contohlah pemimpin yang bisa menunjukkan sifat kesederhanaan. Pemimpin yang bisa membangun system. Di Depkeu sudah dilakukan system renumerasi. Meski begitu masih ada birokrat yang seringkali merasa kurang cukup dan mencari-cari lagi. Tetapi banyak juga yang tidak pernah merasa cukup, ngelaba terus. “

“Kalau sudah begitu, dosa terbesar birokrasi ada pada perencana. Pada waktu reformasi birokrasi di Depkeu gaji telah disesuaikan dengan tanggungjawab. Namun ternyata masih ada birokrat yang merangkap menjadi komisaris. Sudah digaji tinggi masih ngurus yang lain. Pekerjaan sampingan menjadi pekerjaan utama, pada jam kerja lagi. Sistem harus ditegakkan, harus ada yang mengawasi,” tegasnya.

“Tahun 2006 saya keluar dari komisaris PT Telkom begitu juga beberapa teman lain. Menjadi contoh tidak bagus kalau birokrat masih nyambi di tempat lain. Hal itu bisa dikatakan korupsi. Karenanya system dan disiplin harus ditegakkan. Ada job diskripsi yang jelas, output dan outcome terukur, dan remunerasi yang memadai.”

“Untuk menjadi benar harus membutuhkan leader yang tegak dan tegas. Kuncinya ada dua yaitu ada yang memberi contoh teladan dan membangun system yang bebas korupsi. Birokrat harusnya loyal pada system, namun kejujuran lebih utama. Di akherat akan ditanya harta datangnya darimana. Apa yang anda cari dalam hidup : ibadah, ilmu yang bermanfaat..??”

“Ga usah diurus pangkat yang penting bekerja dengan baik jujur, lillaahitaala. Saya merasa bersyukur, saya ngga mimpi jadi pejabat. Bangun kosakata : tidak menyakitkan hati orang. Mari membangun generasi yang lebih baik sopan dan jujur,” pungkasnya.

Itulah beberapa hal yang saya petik dari bincang bareng dengan Pak Anggito. Sungguh sangat bijaksana dalam menyikapi keadaan yang ada. Saya rasa Pak Anggito seorang ilmuwan yang tidak saja mengejar kehidupan di dunia namun beliau juga sangat konsen terhadap tujuan hidup. Bahwa tujuan hidup yang sebenarnya menurut beliau adalah masuk surga. Amiin.

gugun)

Kompasianer yg narsis…. (foto:gugun)


Tags: modis, anggitoabimanyu, canting

Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
31 Juli 2010 23:23
0

Halo Mbak Isma… Waaaahhhhhh.. komplit tulisannya. Makasih ya :-)

1 Agustus 2010 | 08:42
0

Halo Mbak Endah….
sengaja dibuat komplitt… biar Mbak Endah dapat info yg komplitt juga…

Salam komplit… :D

1 Agustus 2010 01:18
0

Kapan ya…ketemu beliau lagi…

1 Agustus 2010 | 08:43
0

Kapan mau kita undang lagi….
Ga ada habisnya bincang bareng beliau… cerdas, wawasan luas…

Salam

1 Agustus 2010 03:55
0

saya ingin sekali kenal tersembunyi dengan ekonom nasional setingkat mas anggito secara pribadi. mengapa tersembunyi, mungkin mas anggito dapat menjadi pihak ketiga yang seperti biasaanya saya bisikki konsep menggali devisa dan lapangan kerja cara saya.

bila berkenan mohon baca dulu profilku atau ketik REVOLUSISPIRITUALBANGSA model saya yang sudah saya lakukan tersembunyi selama ini.

1 Agustus 2010 | 08:44
0

Terimakasih Pak Suharsono

Salam Sembunyi… :D

1 Agustus 2010 08:12
0

asliii nyesel g jdi dateng,padahal malem dah prepare..ehhh tiba2 panggilan tugas menghadang di pagi buta..ouww..so soriii…..

1 Agustus 2010 | 08:45
0

tulisan ini buat obat nyesel…
supaya nggak ketinggalan infonya…

Salam

1 Agustus 2010 08:41
0

Prinsip hidup jujur tulus rendah hati, suka menolong memang Brother Anggito punya tujuan hidup, hal ini saya alami sendiri waktu kost sama-sama dengan beliau dulu di Jakarta.

1 Agustus 2010 09:14
0

Ini lioutan yang komplet. Makasih ya…. sayang saya tidak bisa hadir di Yogya berhubung saya ada acara yang tidak bisa saya tinggalkan selama semingggu penuh.

1 Agustus 2010 09:19
0

komplet, menarik n sangat informatif….
tks dah share ya

1 Agustus 2010 09:19
0
1 Agustus 2010 09:29
0

liputan lengkap, senang lihat wajah Pak Anggito yang cerah dan sumringah……..

1 Agustus 2010 09:51
0

Komplit Mbak Isma,,,,,,,wajah wajah cerah penuh semangat

salam positif

1 Agustus 2010 10:57
0

kirimi aku fotoku…… liputan dari secarik note.. tulis… tulis…tulis.

1 Agustus 2010 11:31
0

Kapan mereka para pejabat merasa cukup apalagi cukup meyudutkan masyarakat dengan segala kebijakan yang kurang pas di masyarakat. buktinya masih banyak ya Mba masalah seperti pejabat yang ngelaba di tempat lain.. :-)
Salam kenal dan kompasiana,
Achir

1 Agustus 2010 11:47
0

yach…ga tau ada acara ini…nyesel deh sudah lama ga buka kompasiana…tolong dikabar-kabari y mb kalau ada acara serupa apalagi yg diundang pak anggito…salut banget sama beliau…trimakasih…salam kenal mb..:)

1 Agustus 2010 11:53
0

yang saya ingat kok cm makannya aja ya.,.
hehehhee :oops:

1 Agustus 2010 12:26
0

Harapan saya untuk modis selanjutnya dibuat acara ngangkring atau cangkru’an aja. Sambil lesehan rasanya lebih enak untuk bisa dibilang diskusi, dan yang pasti lebih terasa suasa Jogja-nya. :D

1 Agustus 2010 15:07
0

Pak AA memang cerdas, tegas & jujur…
Saya beruntung pernah diajar beliau utk mata kuliah Manajemen Keuangan Internasional….

1 Agustus 2010 | 15:18
0

wow, mbak Tyas ternya mashasiswanya mas AA toh? hebat dong!

salam
Omjay

1 Agustus 2010 15:17
0

wah senang sekali bisa bertemu dengan tokoh sekaliber mas AA. Salut dan bangga!

salam
Omjay

1 Agustus 2010 15:27
0

saya pernah mendengarkan alunan flute pak anggito..

“jangan menyerah dan ibu pertiwi…”

selain cerdas…. bapak ini seorang yang berseni tinggi….

Kadang saya berfikir..pemimpin yang memiliki seni, akan memiliki caranya sendiri dalam memimpin dirinya, lingkungan dan anak buahnya…

terima kasih liputannya mb….

1 Agustus 2010 15:39
0

kerennn jadi iri nih..

1 Agustus 2010 15:41
0

ANGGITO SELALU DI HATI….

1 Agustus 2010 16:13
0

Salam , Wah Tulisanya cukup Menarik apalagi kalau ” main sulingnya ” duet sama mas Nono yang sekarang dirut BPD Yogya pasti lebih seru , Mas Anggito contoh anak bangsa yang mempunyai prinsip kuat dan mempunyai pakem yang Jelas dimanapun berada , saya sempat tanya Adik saya yang waktu itu sama2 di DepKu sama2 dari UGM Ekonomi /tetanggany mas anggito di JKT tentang pengunduran Mas Anggito , adik saya membenarkan pengunduran dirinya dan diapun kaget waktu itu. Mbak coba deh sekali2 mas Anggito ditemokan Mas Nono ( dirut BPD sekarang ) untuk duet ” main sulind ” pasti seru .

1 Agustus 2010 18:45
0

sayang Raden Abimnayunya harus segera pulang … *ngiri belum sempet minta poto bareng

2 Agustus 2010 17:33
0

Gimana klo pak AA duet sama pak SBY. Flute - Gitar

25 Agustus 2010 11:33
0

Diskusi yang menyegarkan, mencerdaskan dan penuh inspirasi…. salam kompasiana modis…

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Search:
Kompasiana Muda Blogshop
Copyright 2008 - 2010