Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Ciki

ya begitu deh :)

Liputan Bulutangkis Ala Kompas

OPINI | 11 January 2011 | 15:58 Dibaca: 554   Komentar: 5   3

“Kami senang dan tak menyangka bisa mengalahkan Ricky/Rexy” kata Henrik Svarrer ketika diwawancarai oleh wartawan Kompas, Brigitta Isworo Laksmi (ISW) pada ajang Piala Thomas 1996.

Jika Svarrer menyikapi kemenangan tersebut dengan kalem, maka Sogaard, pasangan duetnya, menanggapinya dengan melonjak-lonjak kegirangan. Sogaard memang emosional dan meledak-ledak, demikian tulis Brigitta.

Saya lupa apa persisnya judul artikel yang ditulis wartawati senior Kompas itu. Namun yang jelas, artikel itulah yang membuat saya jatuh hati dengan bulutangkis, untuk pertama kalinya. Brigittalah yang membuat saya, siswi kelas 2 SMP yang sama sekali tidak tertarik dengan olahraga blas, menjadi tergila-gila pada profesi jurnalis bulutangkis.

Pada masanya, Brigitta tak sendirian bertugas di desk Olahraga, sub bulutangkis, Kompas. Bersamanya ada Mohammad Bakir (MBA) dan Hendry Ch. Bangun. Ketiganyalah yang membuat reportase bulutangkis Kompas terasa sangat humanis, bukan sekedar mengetengahkan data teknis semata.

Kompas pernah mengangkat profil Hendrawan, satu halaman penuh. Kala itu tim bulutangkis Indonesia berhasil menjuarai Thomas Cup 1998 di Hongkong. Kemenangan ini terasa dramatis, sebab bukan hanya prestasi bulutangkis kita yang sedang babak belur, namun juga karena bangsa ini sedang berduka hebat pasca kerusuhan Mei 1998.

Lebih dramatis lagi, kemenangan itu dicapai oleh anggota tim, yang sebagian besar beretnis Tionghoa yang pada masa itu kerap diragukan nasionalismenya dan dipersulit dalam pengurusan SBKRI.

Sosok Hendrawan sendiri tak kalah uniknya. Hampir saja didegradasi dari pelatnas karena dianggap tak berprestasi, ia justru menjadi penentu kemenangan Indonesia di partai Final.

Masih dalam suasana euforia kemenangan Thomas & Uber Cup 1998, Kompas juga menyajikan profil alm. Agus Wirahadikusuma, petinggi TNI yang menjadi manajer tim bulutangkis Indonesia. Dengan penuh welas asih dan kebapakan, Agus berusaha merangkul semua anggota tim, yang kala itu kekompakan dan semangatnya di bawah titik nadir.

“Saya mengundang mereka untuk makan malam di rumah, hampir setiap hari. Disana kami melakukan pembicaraan dari hati ke hati” kata Agus kala itu.

Tidak hanya ofisial dan atlet lokal saja yang menjadi konsern reportase Kompas, penggiat bulutangkis manca negara pun kerap diangkat sebagai feature.

Kompas pernah menulis profil Gong Zhicao, pebulutangkis mungil asal China, yang pada pertengahan dekade 90an menjadi rising star yang sulit dikalahkan pemain manapun.

Dari artikel tersebut, pembaca dapat mengetahui latar belakang atlet kelahiran 15 Desember 1977 itu. Ternyata ia berasal dari keluarga miskin di propinsi Hunan, China. Gong harus berjuang dari bawah hingga pada akhirnya berhasil masuk skuad nasional setelah berhasil mengalahkan ribuan saingannya. Dari sini pula pembaca dapat melihat betapa tertatanya sistem pembinaan bulutangkis di China. Sejarah mencatat, Gong pensiun dini. Setelah tak lagi menjadi atlet, ia melanjutkan pendidikannya.

Peter Rasmussen, atlet londo dari Benua Biru sana, juga pernah disasar Kompas. Khusus mengenai Peter, saya masih ingat persis judul artikel yang terbit pada saat perhelatan kejuaraan Thomas & Uber 1996 ; “Peter Rasmussen, Calon Dokter”.

Kala itu, selain berprofesi sebagai atlet bulutangkis, Peter (22 thn), memang masih menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran. Kini, ia benar-benar telah menjadi seorang dokter spesialis mata. Meski telah pensiun dari gelanggang, kecintaannya pada bulutangkis diwujudkannya dengan mengelola coaching website bagi para juniornya.

Selepas era Brigitta dkk, desk bulutangkis Kompas diramaikan oleh para jurnalis yang tak kalah humanis. Brigitta sendiri kini menangani desk humaniora. Mohammad Bakir masih di desk olahraga, namun tak lagi menangani bulutangkis. Adapun Hendry Ch. Bangun, sesekali masih didaulat sebagai analis saat ada perhelatan akbar. Tongkat estafet kemudian berlanjut pada era Adi Prinantyo (ADP), Ingki Rinaldi (INK), Yulia Sapthiani (IYA), dan Johannes Waskita (WAS). Yang terbaru, desk bulutangkis kini ditangani Gatot Widakdo (OTW) dan seorang wartawati yang saya lupa namanya hehe..

Tak kalah humanis dengan pendahulunya, Johannes Waskita pernah menulis feature tentang para atlet bulutangkis “yang tak terkenal” namun memiliki semangat yang luar biasa untuk berpartisipasi pada Kejuaraan Dunia di Hyderabad, 2009 lalu.

“Perlu menjadi penggemar bulutangkis fanatik untuk mengenal nama atlet berikut ini” demikian tulis Waskita pada paragraf pembukanya.

Sekarang, jika ada yang saya sayangkan dari reportase bulutangkis Kompas adalah semakin menyusutnya jumlah halaman. Jika pada dekade 90an, Kompas berani menerbitkan suplemen khusus hingga 6 halaman untuk liputan kejuaraan besar, kini paling banter hanya 1 halaman saja. Kualitas memang tetap terjaga, tapi kuantitas sudah jauh berkurang.

Media memiliki peran yang strategis untuk menggetarkan kembali hati rakyat Indonesia akan bulutangkis. Media tidak hanya berfungsi sebagai pengabar data teknis, namun juga dapat mengabarkan secara komprehensif perkembangan bulutangkis nasional saat ini. Bukan hanya di tingkat pusat, tapi juga kabar dari klub-klub daerah.

Kini, meski tak lagi berkecimpung di dunia bulutangkis, kharisma Brigitta tetap terasa. Ketika beberapa waktu lalu berkesempatan menyaksikan konferensi pers Thomas Lund, ingatan saya langsung tertuju pada reportase yang ditulis Brigitta, 14 tahun lalu : “Thomas Lund Cedera“. Ya, petinggi BWF (Badminton World Federation) itu memang mantan atlet bulutangkis Denmark era 90an.

Saking mengidolakan Brigitta, sulit bagi saya untuk melepaskan diri dari bayangannya, meski telah lewat belasan tahun. Ketika menjadi kontributor bagi bulutangkis.com, saya selalu membandingkan tulisan saya dengan Brigitta. Sudah sehumanis Brigitta kah? Sudah seluwes Brigitta kah? Haha…

Terimakasih Kompas. Terimakasih Brigitta dan kawan-kawan. Kedepannya, saya berharap Kompas dapat mempelopori berdirinya Pusat Kliping Bulutangkis Nasional, semacam museum yang didalamnya pengunjung dapat menyaksikan sejarah perkembangan bulutangkis Indonesia & Dunia melalui kumpulan artikel yang ditulis para jurnalis Kompas.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Rekor pun Ternoda, Filipina Bungkam …

Achmad Suwefi | | 25 November 2014 | 17:56

Pak Ahok Mungutin Lontong, Pak Ganjar …

Yayat | | 25 November 2014 | 21:26

Menunggu Nangkring Bareng PSSI, Untuk Turut …

Djarwopapua | | 25 November 2014 | 21:35

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | | 24 November 2014 | 10:02

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41



HIGHLIGHT

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 9 jam lalu

Bom Nuklir Ekonomi Indonesia …

Azis Nizar | 9 jam lalu

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | 10 jam lalu

Festival Foto Kenangan Kompasianival 2014 …

Rahab Ganendra 2 | 10 jam lalu

Lagi-lagi Kenaikan BBM …

Anni Muhammad | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: