Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Shulhan Rumaru

Penulis Buku: Komunikasi Politik Sebuah Pengantar | Peminat Kajian Media & Politik | Editor | selengkapnya

Media dan Pengukuhan Nilai-nilai Pancasila

OPINI | 01 June 2011 | 08:24 Dibaca: 458   Komentar: 16   3

13069165051385151808

gambar diadopsi dari globalmuslim.web.id

Peringatan kelahiran Pancasila pada 1 Juni 2011 hari ini, membawa semua elemen bangsa larut dalam kontemplasi kebangsaan yang mendalam. Siapa pun kita, dianjurkan melihat lebih dalam pada diri terkait sumbangsih kita pada kemajuan bangsa ini. Tak terkecuali media sebagai bagian dari bangsa ini, juga dianjurkan melakukan hal yang sama yakni introspeksi diri atas kinerjanya selama ini.

Sebagai pilar keempat bagi Negara Indonesia, media seharusnya ikut merayakan Pancasila, ikut melakukan perenungan terhadap kinerjanya selama ini terkait dengan pengukuhan nilai-nilai idiologi dan nilai moral-etis Pancasila. Kedua nilai-nilai Pancasila ini, sejatinya juga menjadi landasan bagi media dalam menjalankan fungsinya, baik fungsi informasi, hiburan, pendidikan maupun fungsi pilar keempat yakni pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan.

Seperti diungkapkan Presiden ke-5, Megawati Soekarno Putri, hari ini dalam acara peringatan Pancasila di Gedung MPR RI, bahwa Pancasila harus dijadikan sebagai nilai idiologi dan nilai etis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka, dalam pandangan saya hal ini berlaku pula untuk media. Mengapa demikian? Sebab media adalah bagian dari keluarga bangsa ini yang ikut mendongkrak kemajuan negara sekaligus sebagai pengawas atas penyelenggaraan pemerintahan.

Bila Pancasila dipandang sebagai landasan idiologi dan etis bagi media, maka media dianjurkan secara terstruktur untuk menerapkannya dalam kehidupan media, baik sebagai visi-misi maupun dalam pola operasional media itu sendiri. Artinya, di balik kebebasan dan kemerdekaan media di Indonesia, media juga berkewajiban menjaga kelangsungan hidup bangsa ini, termasuk di dalamnya melakukan kritik terhadap pemerintah.

Karena itu, penerapan Pancasila sebagai idiologi bukan dimaksudkan untuk membatasi ruang gerak media sebagai pilar demokrasi, melainkan memberikan keleluasaan bagi media dalam mengamalkan idiologi tersebut sesuai dengan fungsi media. Artinya, media tidak memandang kehadirannya sebagai alat kumulasi ekonomi bagi pemilik media saja, tapi juga menjalankan tanggungjawab sosialnya bagi khalayak media. Di sini, bukan hanya sebagai intitusi ekonomi, politik, dan hiburan, melainkan juga sebagai institusi sosial, dimana ada jalinan sosial dengan masyarakat.

Selain sebagai idiologi media, Pancasila seyogyanya menjadi nilai etis dalam kehidupan media. Nilai etis ini meliputi produksi dan reproduksi media, dimana banyak konten media yang memiliki tanggungjawab etis terhadap khalayak. Salah satu hal paling urgen terkait etika media adalah menyangkut konten media yang dianggap kurang mendidik, baik secara akademik amaupun akhlak.

Keberadaan media, seharusnya menjadi lumbung penanaman pola prilaku sehat dan tidak menyimpang, bukan sebagai medium untuk mewacanakan pola hidup yang tak karuan dan menyimpang. Misalkan, media bertanggungjawab untuk mengurangi konten acara yang banyak mengumbar kekerasan, pornografi, dan tindakan melawan hokum lainnya. Karena itulah, Pancasila menjadi penting untuk dihadirkan dalam etika media.

Sebagaimana yang diungkapkan presiden ke-3 BJ. Habibie, bahwa reaktualisasi pancasila itu dibutuhkan agar mampu menjawab tantangan masa depan. Dalam interpretasi saya, reaktualisasi ini juga termasuk di dalamnya menyoal pola pengukuhan nilai-nilai Pancasila sebagai idiologi maupun etis dalam agenda media. Jika nilai-nilai Pancasila tersebut mampu diaplikasikan oleh media, maka secara mendasar media sudah ikut mengedukasi masyarakat agar menyadari pentingnya merayakan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud nasionalisme.

Selamat merayakan hari lahir Pancasila, semoga bangsa ini semakin membaik,amiin.

Salam Kompasiana

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 2 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 4 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 6 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 7 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 7 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: