Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Tutik Handayani

Yang "Kompromis" lah kuusahakan.. dalam artian menjadi orang yang "moderat"..

Urgenisitas Tulis Menulis dalam Menghadapi Tantangan Zaman Edan

OPINI | 16 December 2011 | 06:22 Dibaca: 165   Komentar: 2   0

Dunia tulis menulis saat ini menghadapi pergeseran posisi di kalangan sivitas akademika. Dari yang dulunya merupakan hal yang amat urgen untuk menghasilkan sebuah karya yang monumental, atau pun untuk sarana mengeluarkan unek-unek melalui artikel misalnya. Seakan-akan adalah hal mutlak yang senantiasa menjadi ruh bagi segenap kalangan para insan akademis. Dalam segenap perkembangannya yang mengikuti alur modernisasi zaman, pengaruhnya pun sangat kuat dirasakan. Masuknya dinamika perombakan paradigma yang mendasar membuat perubahan yang signifikan. Realita yang ada menyuguhkan banyak bukti tentang surutnya minat untuk menulis. Bahkan di beberapa pengamatan yang dilakukan penulis, tulis menulis sekarang ini yang menghasilkan karya yang monumental sekalipun tidak ada penghargaan yang memuaskan bagi penciptanya. Hanya dianggap sebagai tulisan yang tidak representatif untuk menjadi sebuah rujukan atau pun sebagai bahan bacaan.

Penulis di sini lebih menspesifikkan obyek penguasaan pembaca pada majalah kampus “Suara Akademika”. Di tilik dari jargon yang terpampang di halaman cover majalah yang menyuarakan “Wahana Berfikir dan Berkarya”, sudah mewakili isi pada majalah yang bermaksud untuk mewadahi seluruh sivitas akademika kampus untuk menyalurkan karya-karyanya yang layak untuk dipublikasikan. Logo yang berbentuk segi lima, dengan background dasar hijau, bertuliskan “Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang” yang biasanya tertera di pojok kiri atas pun juga sudah sangat mengindikasikan bahwa majalah tersebut adalah majalah kampus Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Indikator-indikator yang disuguhkan memberikan nuansa tersendiri bagi pembacanya untuk ikut andil di dalamnya, meskipun dalam tanda kutip sebagai “pembaca semu” yang hanya bisa membaca apa adanya tanpa ada review ulang dan mengkaji lebih lanjut terhadap isi pokok berita yang di paparkan. Hal-hal yang menjadi perwajahan di dunia kampus memungkinkan untuk diungkap dan ditelisik lebih jauh di isi majalah tersebut. Tentang semua yang terjadi di daerah kampus secara khusus di potret dalam majalah ini. Mulai dari kejadian-kejadian menarik dan semua tetek-bengek yang meliputi seluruh kegiatan. Keterkaitan majalah untuk meng-update informasi harus diikuti dengan kebersinambungan seluruh elemen yang ada, tanpa adanya keterpihakan pada salah satu pihak maupun marginalisasi pada sekelompok golongan. Sehingga berita mampu mengkaji secara obyektif pengangkatan tema sehingga benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Kepentingan-kepentingan yang sifatnya subyektif disisihkan terlebih dahulu. Tetapi hal itu berbanding terbalik jika para responden, yang pada kajian ini dimaksudkan adalah para elit kampus yang kesannya acuh dan tidak mau tahu terhadap kemajuan serta berkembangnya majalah sehingga menjadi media yang paling efektif untuk menyampaikan info-info terkini yang ada di kampus. Tidak berbanding lurus dengan jerih payah para komponen redaksi majalah yang mengerahkan seluruh tenaganya, mengorbankan waktu, bahkan mengabaikan kepentingan pribadi demi mendapatkan hasil yang maksimal demi terwujudnya majalah yang benar-benar berkualitas dan berkompetensi untuk bisa go international. Tetes-tetes peluh keringat reporter yang mencari berita di tengah terik matahari sungguh sangat tidak adil jika dibalas dengan memperlakukan semena-mena terhadap majalah, semisal membuang begitu saja majalah setelah dibaca atau pun hanya sekedar sebagai bahan tumpukan di meja para security fakultas tanpa ada respon yang positif dan keingintahuan para konsumennya. Begitu juga dengan bidikan-bidikan jepret para fotografer dan layouter yang berimaginasi setinggi mungkin dan berkreatifitas sepenuhnya yang diapresiasi oleh sebagian pembacanya dengan kilasan lihatan semata. Tidak kalah lagi dengan kerja para staf redaksi yang mengerahkan pikiran-pikiran inovatifnya untuk membuat majalah lebih menarik dan menyentuh ego paling dalam para pembacanya.

Sekelumit perwajahan ini memberikan indikator-indikator yang menggambarkan bagaimana wajah majalah “Suara Akademika” yang sebagai salah satu media informasi yang representatif untuk memaksimalkan seluruh komponen di dalamnya. Simbiosis mutualisme di butuhkan demi hidupnya sebuah kebersinambungan yang elegan tanpa merugikan salah satu pihak. Respon-respon yang positif dan apresiasi yang menjungjung tinggi etika tulis-menulis dengan saran dan kritik yang konstruktif juga sangat dibutuhkan untuk terciptanya media yang benar-benar memfasilitasi pembacanya untuk senantiasa aktif mengikuti perubahan yang signifikan, tidak terpaku dan monoton pada salah satu konstruk yang baku. Jadi seluruh elemen kampus, yakni sivitas akademika yang ada di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang sangat menunjang terhadap kemajuan Suara Akademika.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Perjuangan PPP & PPP Perjuangan …

Ribut Lupiyanto | | 31 October 2014 | 14:24

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

Nonggup, Contoh Pergerakan Cerdas Orang …

Evha Uaga | | 31 October 2014 | 17:40

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 6 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 11 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 11 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 7 jam lalu

Persebaya Gagal Di 8 Besar, Karma Kah ? …

Djarwopapua | 7 jam lalu

The Mystery of Ancient City …

Arif Wihananto | 7 jam lalu

Apa Kabarmu Mr. Gayus? …

Nala Arung | 8 jam lalu

I Should Know From The First …

Yasmin Medina Anggi... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: