Artikel

Mainstream Media

Pepih Nugraha

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Gemar catur namun tak pernah juara. Disalurkan dengan mengoleksi papan/bidak catur dan menulis artikel catur. Hari-hari diisi membaca, menulis, dan bersosialisasi. Selain sharing menulis virtual di halaman "Nulis bareng Pepih" di Facebook, mempraktikkan Citizen Journalism tentang peristiwa remeh-temeh. Juga membuat projek Hybrid Journalism, dimana jurnalisme warga menjadi berita mainstream lewat keterlibatan jurnalis/editor. Bermimpi melahirkan para jurnslis/penulis kreatif anak negeri yang andal di masa mendatang sebagai sebuah obsesi.

Siapa Bilang Berita Ficer Tak Perlu Straight?


OPINI | 01 February 2012 | 13:05 Dibaca: 136   Komentar: 7   1 dari 1 Kompasianer menilai bermanfaat

1328076177579553384

Ilustrasi/Shutterstock

Banyak yang mengira menulis berita ficer (news feature) tidak perlu straight atau langsung, sebagaimana menulis berita langsung (straight news). Banyak yang mengira, menulis ficer bisa bermain dengan kata-kata berima, kalimat yang indah, dan seterusnya. Tidak keliru. Akan tetapi yang harus menjadi catatan, bahwa menulis ficer juga menulis berita yang sarat dengan fakta!

Beda jurnalis, beda gaya. Beda editor, juga beda gaya dalam menulis berita langsung atau berita ficer. Akan tetapi bagi saya pribadi, saya lebih memilih menulis berita ficer dengan gaya straight, langsung dan to the point saja. Saya tidak perlu menggunakan bahasa yang mendayu-dayu, hiperbolik, berputar-putar, dan lebay. Saya tidak mau sok berfilsafat, juga kurang suka mengutip ucapan-ucapan bijak, dalam menulis ficer atau berita ficer. Saya ketat dengan fakta-fakta yang ada dan saya dapatkan, fakta yang telah selesai diverifikasi sehingga paling tidak mendekati kebenaran meski kebenaran lain masih harus terus digali dan terus dicari.

Ini memang gaya dan cara saya saja. Gaya orang lain belum tentu sama. Dan, saya tidak berpretensi orang lain mengikuti gaya saja. Intinya, saya suka yang “to the point” menyampaikan pokok persoalan kepada pembaca dalam menulis berita ficer, jika memungkinkan unsur klimaks saya taruh di paragraf pertama atau kedua, biar pembaca tidak terlalu lama menunggu.

Dalam kesempatan ini saya ingin mencontohkan satu berita ficer yang ditulis rekan jurnalis, DWA, yang menurut saya bisa dijadikan contoh yang tepat bagaimana berita ficer dibuat. Berita berjudul “Saat Bekas Musuh Saling Membantu di Bosnia” itu dimuat Harian Kompas edisi Rabu (1/2/2012) hari ini di halaman Internasional, yang merupakan hasil olahan dari kantor berita AP. Kita bisa sama-sama belajar dan melihat bagaima berita ficer bisa ditulis dengan gaya langsung:

Kisah Kasih
SAAT BEKAS MUSUH SALING MEMBANTU DI BOSNIA

Dahulu mereka bertemu di medan pertempuran dan berupaya saling membunuh. Akan tetapi, roda nasib dan sejarah justru memosisikan para veteran Perang Bosnia dalam sebuah ironi sejarah saat ini.

”Sekarang saya membantu orang-orang yang dahulu menembaki saya di pertempuran. Saya membantu mereka menghidupi keluarga dan memberi makan anak-anak mereka,” ujar Nihad Grabovica, seorang veteran perang asal etnis Bosnia.

Pernyataan Grabovica bukan sekadar selorohan. Bersama sejumlah rekannya, termasuk juga para veteran perang asal etnis Kroasia, mereka patungan membantu eks musuh mereka. Kondisi para veteran perang beretnis Serbia memang tak seberuntung musuh mereka, yang beretnis Kroasia dan Bosnia.

Pada tahun 2010, Pemerintah Serbia yang berupaya meremajakan militer memensiunkan dini para prajurit berusia di atas 35 tahun. Akibat persoalan politik di dalam negeri itu, alokasi anggaran untuk membayar tunjangan bagi para veteran dan juga para pensiunan militer di sana menjadi tidak jelas.

Pemerintah Serbia tidak kunjung mampu, bahkan menolak, membayar uang tunjangan veteran beretnis Serbia tadi, termasuk salah satunya Slavko Rasevic. Bahkan, Rasevic tidak mampu lagi membayar biaya ketiga anaknya untuk bersekolah. Sang putri sulung yang berusia 17 tahun nyaris putus sekolah.

Beruntung Rasevic mendapat bantuan sebesar 500 euro yang diperolehnya dari hasil patungan para veteran perang beretnis Kroasia dan Bosnia. Bersama-sama mereka menyisihkan sebagian tunjangan untuk kemudian disalurkan kepada para veteran perang asal Serbia.

Untuk bulan ini saja, para veteran asal etnis Bosnia dan Kroasia mampu mengumpulkan dana sebesar 5.000 euro. Uang itu disalurkan dan oleh koordinator di lingkungan veteran Serbia kemudian dibagi-bagikan lagi, dengan prioritas mereka yang sudah sangat terdesak seperti Rasevic.

Dana bantuan diberikan secara bergulir. Kalangan veteran Bosnia lebih beruntung karena berhasil memaksa pemerintahan Bosnia-Herzegovina mengalokasikan anggaran sebesar 160 euro per veteran per bulan.

Nasib malang dialami para veteran asal etnis Serbia. Ketidakpedulian Pemerintah Serbia memicu solidaritas dari para veteran bekas musuh mereka tadi. ”Banyak terima kasih atas apa yang mereka lakukan kepada kami. Kami sangat menghargai semua itu,” ujar Rasevic.

Dulu perang merenggut nyawa sedikitnya 100.000 orang dan memaksa dua juta orang lainnya mengungsi. (AP/DWA)

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: