
Dibaca: 177
Komentar: 2
Nihil
Sebelum santer pemberitaan mengenai gonjang-ganjing di tubuh partai demokrat, saya termasuk orang yang jarang nonton TV, apalagi yang berkaitan dengan politik. Namun ketika banyak muncul ‘badut-badut’ politik di TV, serasa menonton comedy show yang membuat saya terpingkal-terpingkal dan semakin sering nonton acara TV semacam Jakarta Lawyers Club ataupun wawancara dengan petinggi demokrat.
Dari berbagai program acara TV yang menghadirkan para petinggi demokrat, semakin membuka mata saya mengenai kebobrokan moral partai yang katanya ‘nasionalis -religius’ . Pendidikan tinggi nyatanya tak menjamin petinggi partai menjadi lebih ’santun’ dalam berkomunikasi, tetapi justru menunjukkan keangkuhan dan rasa ingin menang sendiri. Tak jarang para poliTIKUS semakin ‘maju’ mulutnya nerocos membalikkan argumen lawan bicaranya, bahkan dengan dosen seniorpun yang jauh lebih tua berani mencela dengan ucapan-ucapan yang sangat merendahkan. Sungguh mantan-mantan mahasiswa terdidik tersebut tak menunukkan respek dengan dosen senior yang usianya jauh lebih tua sekalipun.
Di tengah kicauan para petinggi demokrat yang semakin menggelikan, muncul ungkapan yang sangat familiar di kalangan politikus, “Ngeri-ngeri sedap”, yang seringkali dilontarkan oleh salah satu ‘komedian’ di demokrat. Saya sendiri memandang, dibalik ucapan tersebut tersimpan ‘makna’ yang mengerikan.
Pertama, ungkapan tersebut bisa mengisyaratakan akan adanya ’serangan’ argumentasi yang siap dilontarkan pada lawan bicaranya. Artinya dia sudah memasang ‘kuda-kuda’ untuk melawan habis-habisan pada lawan bicaranya, entah itu benar atau salah. Dan ketika ungkapan itu dilontarkan ketika orang yang akan menjadi teman bicaranya datang, tentunya si pelontar kata-kata tersebut sudah su’udzon dulu dengan orang yang akan diajak bicara.
Kedua, bisa jadi si ‘komedian’ tadi suka dengan hal-hal yang mengerikan, memainkan peranan yang cukup ngeri di mata hukum, dan menganggap ‘permainan’ yang mengerikan tersebut sangat menyenangkan dan dianggap ‘wajar’ baginya. Ini akan sangat berbahaya ketika orang sudah menganggap hal2 yang bertentangan dengan norma agama sebagai suatu tindakan yang wajar.