Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Weny Arindawati

Alumni Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Alumni dari Sekolah Pascasarjana UGM program studi Kajian selengkapnya

Perspektif Kritis Review Atas Essays Walter Benjamin Tentang “The World of Art in the Age Mechanical Reproduction” Part 1

OPINI | 10 April 2012 | 16:59 Dibaca: 174   Komentar: 0   0

Tulisan essay yang berjudul The World of Art in The Age Mechanical Reproduction” ini dibuat oleh seorang neo-marxist, salah satu tokoh aliran teori kritis yang terlibat aktif dalam sebuah kelompok kajian bernama Madzhab Frankfrut, dialah Walter Benjamin.


Esai yang ditulis oleh Benjamin (pada tahun 1935) ini merupakan sebuah bantahan argumentatif yang secara kritis hendak mengajukan pandangan yang berbeda terhadap koleganya, Theodor Adorno, mengenai industri budaya yang semakin berkembang (pesat) pada zamannya (era masyarakat industri modern) dan soal seni.

Terhadap perbedaan pandangan ini, dalam esai itu Benjamin berusaha merefleksikan sejarah seni secara materialistis, demikian menurut F. Budi Hardiman di dalam bukunya “Filsafat Fragmentaris” (hal.96).

Pandangan Marx terhadap budaya yang dapat berfungsi sebagai ideologis telah mengaitkan logika kapital dengan hubungan manusia yang difetisisasi-komoditaskan. Cermin bahwa pandangan Marx yang dibangun di dalam setiap hubungan yang terkomodifikasi di mana pekerja menukar tenaga kerja dengan upah, meramalkan hegemoni dan dominasi budaya.

Pada tataran ini, Benjamin seolah menangkap pesan khusus dari pandangan Marx tersebut sehingga menurutnya, suatu kondisi itu memungkinkan untuk menghapuskan kapitalisme itu sendiri.“The result was that one could expect it not only to exploit the proletariat with increasing intensity, but ultimately to create conditions which would make it possible to abolish capitalism itself”.

Namun, penilaian ini hanyalah sebuah apologi seorang Walter Benjamin, sebab setelah Perang Dunia (zamannya ketika itu) pun kapitalisme masih terus memperbaiki diri, bermetamorfosa dan cenderung dinamis mengikuti arah zaman, meski hal itu dapat dibedakan berdasarkan model dan pengaruh paradigma (pendekatan) tokoh-tokoh penganut ekonomi liberal.

Reproduksi Mekanik suatu karya seni (the work of art) bagi Benjamin merupakan bagian dari pola representasi yang diproduksi secara terus menerus dengan menggunakan suatu alat mekanis yang meniscayakan kehadirannya dalam ruang dan waktu tertentu.


Alat disebutnya sebagai mekanis (mechanism). Sedangkan reproduksi mekanis menurutnya, mengacu pada proses teknis sebuah alat produksi yang mampu menghasilkan karya. Karya ini bisa berupa gambar, Benjamin mencontohkannya dengan kehadiran Fotografi yang menggantikan fungsi Litografi untuk mengambil obyek gambar sesuai ‘aslinya’.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Live Streaming dan Selfie Berhadiah di …

Yayat | | 21 November 2014 | 20:43

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 13 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 13 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 15 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Guru Menulis Berdiri, Siswa Menulis Berlari …

Muhammad Irsani | 8 jam lalu

Financial Management Education Sebagai …

Sariyatul Ilyana | 8 jam lalu

Curma 1 : Mahasiswa dan Organisasi …

El Manda | 8 jam lalu

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 8 jam lalu

Seks = Suatu hal yang Kotor atau Penuh Dosa …

Qurrota A'yuni... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: