Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Djasli Djosan

Mantan redaktur dan reporter RRI, anggota Dewan Redaksi majalah Harmonis di Jakarta.

Menyimak Damai Indonesiaku TV One

OPINI | 07 June 2012 | 07:56 Dibaca: 1455   Komentar: 2   1

Acara ‘Damai Indonesiaku’ TV One tiap Sabtu dan Minggu pukul 1300 wib cukup menarik untuk disimak, memberi pencerahan tentang Islam , menampilkan ustadz-ustadz yang sudah punya nama seperti Anwar Sanusi, Nur Iskandar dan Daud Rasyid. Setiap pemunculannya ‘Damai Indonesiaku’ membahas masalah-masalah khas yang sedang terjadi meliputi penegakkan hukum, demokrasi, kepemimpinan dan lain-lain.
Sayang, ada kalanya ketika menampilkan contoh masalah yang sedang terjadi kurang sesuai dengan yang sebenarnya.Misalnya dalam tayangan tanggal 26 Mei lalu, seorang ustadz mengatakan betapa lemah sistem hukum di Indonesia karena seorang terpidana narkoba dari Australia ‘bebas begitu saja untouchable’. Rasanya tidak ada terpidana narkoba asal Australia yang bebas begitu saja dan untouchable. Jika yang dimaksud Corby, ia memperoleh pengurangan hukuman penjara 5 tahun dari yang seharusnya 20 tahun. Pengurangan hukuman itu cukup membuat gempar dan menjadi perbincangan di mana-mana.
Ustadz lainnya membahas soal demokrasi dalam Islam. Setelah Nabi Muhaammad SAW meninggal dunia, kekuasaan negara tidak turun kepada keturunannya. Para sahabat memilih salah seorang di antara mereka menjadi Khalifah. Ini beda dengan searing. Presidennya masih menjabat, bininya sudah disuruh menjadi capres 2014. Begitu kurang lebih ucapan sang Ustadz. Kalau yang dimaksud adalah Ibu Negara Ani Yudhoyono, baru merupakan wacana. Ani Yudhoyono sendiri belum pernah menyatakan pencalonan dirinya. Begitu juga Partai Demokrat belum mencalonkan siapa-siapa untuk capres 2014. Yang ada baru pendapat kader Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, yang akan mendukung jika Ani Yudhoyono dicalonkan. Apalagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum terdengar ‘menyuruh bininya’ menjadi capres.Yang sudah dinyatakan Presiden adalah janji keluarganya tidak akan mencalonkan diri sebagai capres. Logikanya, jika di belakang hari nanti Partai Demokrat mencalonkan Ani Yudhoyono menjadi capres, SBY harus menepati janjinya dengan meminta isterinya menolak pencalonan Partai Demokrat.
Mengenai penegakkan hukum, sang Ustadz menyatakan diperlukan tokoh yang tegas dan tidak pilih,bulu, bukan yang badannya kekar dan berkumis tebal. Orang tentu mengerti siapa yang dimaksud.
Dakwah Islam seyogyanya disampaikan dengan penuh hikmah dalam arti tidak menyudutkan atau menyindir siapa-siapa. Sebab yang disindir atau disudutkan tentu merasa tidak nyaman. Sedangkan dakwah seyogyanya mencerahkan fikiran semua oang tentang kebenaran Islam. Semoga ke depan para Ustadz yang megisi acara ‘Damai Indonesiaku’ TV One lebih bijak, mengungkap fakta dengan pas, mampu mengajak pihak-pihak yang keliru langkahnya untuk kembali ke jalan Allah SWT.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah Bantuan Sangat Mendesak yang …

Siwi Sang | | 18 December 2014 | 09:08

Bunga KPR Turun, Saatnya Beli Rumah? …

Rizky Febriana | | 18 December 2014 | 11:44

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59

Rangkuman Foto: Menyusuri Monumen Penting di …

Bisurjadi | | 18 December 2014 | 14:42

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



HIGHLIGHT

Cerdik Pemerintah: Dualisme Pimpinan Golkar …

Petra | 7 jam lalu

Jalan Menuju Kampung Sejuta Internet …

Wahyuddin Al Mandar... | 8 jam lalu

(Hendaknya) Kita Berbagi Masalah, juga …

Wiendra Perdana | 8 jam lalu

Penemu Logo “OSIS “ …

Resti Anugrah | 8 jam lalu

Melihat Peternakan Nyamuk di Loka Litbang …

Nurlaila Yusuf | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: