Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Supadiyanto Espede Ainun Nadjib

Sekadar seorang pengamen di kampus-kampus. Penulis buku: "BERBURU HONOR DENGAN ARTIKEL, TIPS DAN STRATEGI MENANGGUK selengkapnya

Kiat Kilat Sukses Mewawancarai Narasumber

OPINI | 01 October 2012 | 09:33 Dibaca: 4135   Komentar: 0   2

Salam terhangat teruntuk rekan-rekan Perwira TNI dan PNS TNI yang sangat tercinta… Dalam seleksi dunia kerja, umumnya perusahaan-perusahaan maupun instansi pemerintahan melakukan proses seleksi calon karyawan atau calon pegawai bahkan calon pejabat negara, dengan menggunakan salah satu model yakni wawancara. Di mana sang calon pegawai, karyawan maupun calon pejabat tersebut diwawancarai oleh satu pewawancara atau tim (lebih dari dua orang pewawancara) untuk memastikan kompetensi dan kemampuan intelektual, kecakapan lisan dan keluwesan tubuh dari orang-orang yang diseleksi. Dalam konteks itu, wawancara menjadi sangat penting maknanya, karena umumnya juga menjadi tahap akhir untuk sebuah penyeleksian lowongan kerja atau jabatan.

Salah satu cara untuk menggali atau mendapatkan sumber berita yakni dengan melakukan wawancara. Wawancara adalah proses kegiatan liputan jurnalistik yang diadakan untuk mendapatkan sumber data/berita primer mengenai sebuah masalah atau kejadian dari para narasumber yang berkompetens. Sangat jelas, untuk membuat berita yang bermutu baik, jurnalis tidak cukup mengandalkan hanya dengan cara pengamatan langsung di lapangan atau yang biasa disebut sebagai reportase. Tetapi juga harus diikuti dengan penjelasan-penjelasan dari berbagai pihak yang mengetahui mengenai duduk persoalan, kejadian atau peristiwa. Dalam dunia hukum, kita mengenal saksi. Saksi-saksi inilah yang dalam proses persidangan hukum, kerap kali menjadi kunci bagi para hakim memutuskan keputusan hukum tetap.

Dalam bidang jurnalisme, saksi-saksi mata yang melihat langsung sebuah kejadian, mengetahui mendalam mengenai sebuah perkara (para pakar atau ahli), adalah pihak-pihak yang sangat layak dijadikan narasumber. Narasumber merupakan orang yang dinilai paling berkompetensi dalam memberikan berbagai keterangan mengenai sebuah kejadian atau kasus, karena yang bersangkutan menyaksikannya langsung, bahkan terlibat langsung atau menjadi pelaku. Namun bisa juga mereka ini menguasai masalah-masalah kehidupan, misalkan ia seorang ahli komputer dan lain sebagainya.

Kegiatan wawancara berfungsi untuk mendapatkan data, fakta, komentar dan keterangan pokok sebagai pendukung keobjektivitas berita. Karena keterbatasan wartawan, entah dalam hal jumlah maupun ruang geraknya, mengakibatkan banyaknya peristiwa yang luput dari perhatian para jurnalis. Inilah yang menyebabkan kenapa para wartawan tidak bisa menyaksikan secara langsung peristiwa awal sebuah kecelakaan lalu lintas, kebakaran dan kasus-kasus spontanitas atau insidental lainnya. Untuk itu, melakukan wawancara dengan orang-orang yang menyaksikan langsung atau dengan para korban kecelakaan lalu lintas dan kebakaran di atas, menjadi sangat penting dan utama, dalam membantu keobjektivitasan membuat berita.

Wawancara juga berfungsi sebagai bentuk konfirmasi atas kebenaran sebuah informasi. Dalam dunia wartawan, ada istilah check and balance serta recheck atau istilah lainnya verivikasi. Adalah tuntutan yang harus dilakukan oleh para wartawan untuk selalu mengkonfirmasi ulang kebenaran sebuah berita/informasi kepada para narasumber atau pihak-pihak yang berkompetens. Berita dibuat harus berlandaskan pada data dan fakta, bukan hasil opini penulisnya, maka prinsip mengakomodasi kepentingan dua belah pihak menjadi prasyarat mutlak dalam menghasilkan berita yang netral.

Ditinjau dari sisi fungsinya, ada tiga jenis wawancara. Pertama, wawancara berita faktual. Kedua, wawancara pribadi. Ketiga, wawancara biografi. Sedangkan berdasarkan situasi dan kondisinya, ada 6 model wawancara:

Pertama, wawancara terjadwal (teragenda). Kedua, wawancara insidental (spontanitas). Ketiga, wawancara bersama. Keempat, wawancara dalam jumpa pers. Kelima, wawancara jalanan. Keenam, wawancara per telpon dan atau melalui surat-menyurat (email, surat dll).

Persiapan umum menghadapi wawancara: Pertama, persiapan pengetahuan. Kedua, persiapan peralatan. Ketiga, persiapan mental. Ketiga jenis persiapan prawawancara itu sangat menunjang kesuksesan seseorang dalam melakukan tugas wawancara. Wawancara yang sudah terencana dan terskenario dengan baik, diharapkan dapat menghasilkan kegiatan wawancara yang mengasyikkan. Acap kali banyak jurnalis pemula yang grogi alias kurang percaya diri ketika mewawancarai para tokoh. Entah tokoh politik, artis, pengusaha, ulama terkenal, pakar maupun tokoh-tokoh Internasional.

Untuk mengatasi masalah ketidakpercayaan diri dalam melakukan wawancara, ada baiknya setiap jurnalis maupun pewarta warga (citizen journalism) harus mempersiapkan segala persiapan yang harus dilakukan.

Berikut ini, adalah jurus jitu yang bisa Anda terapkan ketika melakukan wawancara dengan narasumber (tokoh nasional maupun Internasional):

Pertama, carilah seluruh jejak rekam (track record) mengenai sosok yang ingin Anda wawancara. Baik profilnya (kepribadian, keluarganya, kesukaannya dll), gagasan (pemikirannya) maupun prestasi menonjol yang dimiliki.

Kedua, perluas cakrawala pengetahuan Anda terkait bidang keilmuan apapun, hal ini untuk memudahkan bagi Anda untuk berdialektika dengan para tokoh nasional.

Ketiga, lontarkan pertanyaan-pertanyaan yang cerdas dan kreatif. Mempertanyakan pertanyaan yang sudah kerap atau pernah dilontarkan oleh wartawan lain, meskipun lain waktu, akan memberikan kesan buruk bagi narasumber. Sebab ada sejumlah narasumber yang kerap merasa kesal mendengar pertanyaan yang kurang lebih sama, dipertanyakan oleh para pewawancara lain. Maka dari itu, akan sangat membantu para pewawancara jika mereka membikin semacam konsep pertanyaan dalam selembar kertas. Strategi ini sangat membantu Anda, dalam mengorganisir pertanyaan, sehingga pertanyaan yang terlontar tidak terkesan “melompat-lompat”.

Keempat, wawancara itu lebih kepada kepandaian seseorang dalam melontarkan pertanyaan. Sekaligus memberikan tanggapan cerdas, dari jawaban yang diberikan oleh para narasumber, sehingga kemudian memunculkan pertanyaan lanjutannya. Sangat ideal, jika konsep pertanyaan yang dibuat harus runtut, dan merupakan satu kesatuan ide/gagasan. Gunakan rumus 5WH (What, Who, When, Where, Why dan How) untuk menentukan model pertanyaan yang akan dilontarkan.

Bertanya, juga memiliki seninya tersendiri. Sebagaimana para wartawan yang memiliki seni dalam menulis berita. Bahkan kegagalan wartawan dalam mewawancarai narasumber bisa menurunkan derajat nilai berita yang dihasilkan. Sebab, berita yang ditulis hanya mengandalkan pada pengamatan langsung di lapangan saja (reportase) tanpa diikuti dengan wawancara, menjadikan beritanya terkesan “kering”.

Dengan demikian para jurnalis maupun pewarta warga harus bisa menguasai seni bertanya dengan cerdas. Jangan sekali-kali menanyakan kepada seorang pakar ekonomi, apakah makna kata dari “inflasi?”. Sebab Anda akan dianggap “anak kecil” kalau bertanya dengan cara seperti di atas. Tetapi tanyakan pada pakar ekonomi tersebut, bagaimanakah cara terefektif dalam mengatasi “inflasi?” dan tipologi pertanyaan yang jauh lebih berbobot lainnya.

Ingat juga, bertanya adalah soal komunikasi face to face, di mana Anda akan kontak langsung dengan narasumbernya. Maka sejatinya, wawancara itu sebagai sebuah seni berbicara. Kefasihan Anda dalam melontarkan kalimat pertanyaan kepada narasumber, akan membantu para narasumber dengan cepat segera merespons pertanyaan Anda tersebut dengan jawaban yang cerdas. Kita kerap kali melihat, ada narasumber yang meminta sang pewawancara untuk mengulangi pertanyaannya. Hal ini menunjukkan bahwa proses komunikasi yang Anda lakukan kurang efektif. Kecuali memang, kalau sang naraumber memang dipermaaf, sudah terganggu kesehatan telinganya (pendengarannya).

Bagi para pewawancara yang bekerja untuk media cetak seperti surat kabar, masih memungkinkan membikin “revisi” atas berbagai kesalahan yang terjadi dalam proses selama berwawancara dengan para narasumber. Namun bagi Anda yang bekerja untuk televisi dan radio, yang umumnya untuk disiarkan secara langsung (live report), tentu sangat fatal jika sang pewawancara membuat berbagai kesalahan dalam melontarkan pertanyaan. Karena sulit untuk merevisinya, dan bisa menjadi citra buruk bagi Anda, sebab disaksikan langsung oleh para pemirsa maupun pendengar.

Kembali lagi, wawancara adalah seni berbicara dan seni bertanya. Penguasaan bahasa asing, di samping bahasa Indonesia, menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar lagi. Untuk itulah, ada baiknya para jurnalis dan pewarta warga di masa kini harus memiliki kemampuan bahasa asing, minimal bahasa Inggris dengan kemampuan yang baik. Hal tersebut akan memudahkan bagi Anda bisa membangun komunikasi yang apik, tanpa bebas gangguan.

Satu hal penting yang juga harus Anda lakukan, ketika berhadapan dengan “orang-orang besar” adalah kenalilah psikologi atau kecenderungan berbagai karakter para narasumber. Masing-masing narasumber memiliki jenis kepribadian dan karakter yang berbeda-beda. Ada narasumber yang sangat senang disinggung-singgung tentang masa lalunya. Namun, tak sedikit pula terdapat narasumber yang tidak suka diungkit-ungkit masa lalunya.

Ada karakter narasumber yang suka diwawancarai ketika berada di kantor, dan tak suka ditemui di rumah pribadi. Namun terdapat sebaliknya, ada banyak narasumber yang lebih senang diwawancarai ketika berada di rumah dan tidak suka ditemui ketika ada di kantor. Yang terpokok harus dilakukan oleh setiap pewawancara adalah mengetahui karakter asli dari para narasumber, termasuk kalau perlu bahkan kita harus mengetahui berapa ukuran sepatunya.

Berikut ini saya tampilkan berbagai masalah atau hambatan yang menimpa ketika proses wawancara, menurut pengalaman pribadi saya:

Pertama, rasa grogi dan tidak percaya diri. Ciri orang yang mengalami “penyakit” ini adalah detak jantungnya semakin cepat, bahkan seolah terdengar dalam gendang telinga kita. Pada sebagian orang, yang mengalami demikian, biasanya segera keluar keringat dingin di sekujur tubuh. Ada hal mudah untuk mengatasi “penyakit” grogian ini. Ada cara jitu untuk mengatasi rasa grogi ini, yaitu dengan tehnik pernafasan. Ketika Anda dilanda rasa grogi yang amat sangat, segeralah ambil nafas panjang dan dalam sekuatnya, kemudian keluarkan dengan perlahan-lahan. Cara mengeluarkan hirupan nafas tersebut jangan melalui mulut. Tapi keluarkan melalui lubang hidup, secara pelan-pelan saja. Jika sekali hirup nafas panjang, masih juga merasa grogi alias jantung “berkelojotan”, tarik nafas panjang kuat-kuat dan dalam, lantas keluarkan dengan perlahan. Lakukan hal tersebut hingga rasa grogi hilang dengan sendirinya. Teknik pernafasan ini bisa dilakukan dengan sambil berdiri ataupun duduk, sesuaikan dengan kondisi terkini ketika rasa grogi menimpa Anda.

Cara lain bisa dilakukan dengan mengalihkan perhatian. Pada umumnya, rasa grogi itu muncul lantaran kita sudah membayang-bayangkan hal buruk akan terjadi pada kita, ketika akan mewawancarai seseorang, apalagi orang yang kita wawancarai tersebut seorang yang kharismatik dan lawan jenis kelamin kita. Dalam bahasa Jawa ada istilah “awang-awangen“. Yakni suatu kondisi di mana kita membayang-bayangkan sesuatu yang belum terjadi, entah sesuatu itu bernilai baik pada kita atau bernilai buruk pada kita.

Model grogi semacam ini, bisa ditaklukkan dengan cara mengalihkan perhatian. Tekniknya, cukup Anda bayangkan dalam alam pikiran Anda, bahwa Anda ini sedang akan mewawancarai seorang tokoh, yang kemampuannya “setara” dengan Anda. Atau coba Anda ambil cermin, kemudian lihat wajah Anda, dan katakan pada diri Anda sendiri “saya bisa melakukan pekerjaan ini”. Dengan teknik sugesti ini, kepercayaan diri Anda akan berlipat ganda dan akhirnya rasa grogi akan sirna seketika itu juga. Saya kira masih ada banyak teknik yang bisa dilakukan untuk meminimalisir atau bahkan menghilangkan sama sekali rasa grogi atau demam panggung ini.

Kedua, kerap kali dalam proses wawancara, sang narasumber berbicara tidak sesuai dengan bingkai pertanyaan yang Anda ajukan. Maka tugas Anda adalah mengingatkan sang narasumber bersangkutan untuk kembali ke fokus permasalahan yang Anda tanyakan. Namun ingat dengan gaya bahasa serta cara yang halus, agar sang narasumber tidak “sakit hati”. Selalu dahulu dengan kata, maaf atau dipermaaf… lantas lontarkan pertanyaan aslinya, yang memberikan pesan penting kepada narasumber agar sesuai dengan konteks pertanyaan.

Ketiga, miskomunikasi juga acap kali terjadi dalam proses wawancara. Hal ini bisa dihindari dengan jalan mempersamakan persepsi. Miskomunikasi juga bisa terjadi karena keterbatasan bahasa (entah bahasa asing maupun bahasa lokal). Maka tidak ada salahnya, ketika ada narasumber yang melontarkan pernyataan dalam bahasa lokal (Jawa, misalkan) atau dalam bahasa Inggris, Anda sebagai pewawancara perlu mempertegas maknanya tersebut. Sebab, tidak semua orang atau bahkan pewawancara menguasai dialektika/bahasa lokal dan bahkan bahasa Inggris dengan sempurna.

Keempat, ingatan manusia itu pada dasarnya cepat lupa kalau tidak kerap diasah dan digunakan. Maka tidak ada kelirunya, ketika Anda melakukan tugas wawancara, Anda harus membuat corat-coret pada kertas kosong. Memang Anda sudah merekam seluruh pembicaraan tersebut, tapi suatu ketika ada cerita begini.

Dalam sebuah wawancara, sang pewawancara dan narasumber asyik dalam berwawancara. Eh, setahu sang pewawancara, ia sudah merekam seluruh proses wawancara. Akan tetapi, ternyata alat perekamnya tersebut hanya bisa merekam sampai pertengahan waktu wawancara saja. Dan sanga pewawancara tidak menyadari kalau mesin perekamnya itu tiba-tiba mati, dan ia tidak mengetahuinya karena terlalu asyik bertanya dan mendengarkan dengan serius. Dan sebenarnya, kendati Anda sudah merekam proses wawancara tersebut, sejumlah narasumber semakin menghargai Anda yang sambil melakukan corat-coret dikertas kosong terkait poin-poin jawaban yang dilontarkan oleh sang narasumber. Sebab mereka menganggap, setiap ucapannya dinilai penting bagi Anda.

Cara kita mewawancarai seorang petani gurem yang tinggal di pedesaan, tentu berbeda cara kita mewawancari seorang guru besar pada fakultas pertanian PTN. Kita juga harus pandai dalam membawa diri, ketika melakukan wawancara dengan seorang petinggi militer, dengan mengenal karakter dan psikologi yang dimilikinya. Untuk memudahkan tugas wawancara, setiap jurnalis maupun pewarta warga memang harus memiliki “ilmu titen” untuk mengetahui kecenderungan perilaku orang lain. Sehingga secara tak langsung, mereka akan dengan sangat mudah dalam menjalin kontak-kontak maupun komunikasi dengan pihak narasumber.

Wawancara hanyalah salah satu tahap awal dalam mencari sumber berita. Anda masih harus melakukan pembuatan berita yang sesungguhnya, setelah selesai melakukan sesi wawancara. Sebagus apapun Anda memiliki banyak data dari hasil wawancara, kalau tidak dibarengi dengan kemahiran dalam membikin berita, ya hasilnya menjadi kurang optimal. Kunci sukses untuk membikin berita adalah latihan. Kalau Anda bekerja untuk media cetak, berarti Anda harus menulis berita. Kalau Anda bekerja untuk media televisi dan radio, berarti Anda harus membuat berita lantas menyiarkannya. Modal dasar untuk melakukan pekerjaan terakhir tadi, yakni dengan kelihaian dalam menguasai bahasa jurnalistik.

Untuk mengetahui lebih dalam mengenai bahasa jurnalistik, Anda bisa membaca dua buku yang pernah saya tulis. Yakni: Booming Profesi Pewarta Warga, Wartawan dan Penulis (Mantra Pereguk Pundi-Pundi Rupiah) yang diterbitkan oleh PPWI Intramedia Press (2009) dan buku gres yang baru saja diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo (Kompas Gramedia) berjudul: “Berburu Honor Dengan Artikel, Tip dan Strategi Menangguk Rupiah dari Surat Kabar“. Nah, semoga tulisan pendek ini bermanfaat bagi Anda. (*)

Yogyakarta, 01 Oktober 2012 (Hari Kesaktian Pancasila,

Hari Manula&Hari Vegetarian Sedunia), pukul 04.02 WIB

**) Makalah pendek ini khusus saya paparkan dalam Pendidikan Penataran Citizen Journalism Puspen TNI-PPWI Angkatan II di Balai Wartawan PUSPEN TNI MABES TNI Cilangkap Jakarta Timur yang diikuti oleh para Perwira TNI dan PNS TNI pada Selasa Wage-Rabu Kliwon (2-3 Oktober 2012)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Food Truck - Konsep Warung Berjalan yang Tak …

Casmogo | | 23 April 2014 | 01:00

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 7 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 9 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 9 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 10 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: