Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Ismail Sunni Muhammad

Dream to be a Backpacker. To study overseas. Like Green and Red. Paris - Turkey, selengkapnya

Mengenal Macam-macam Tulisan dalam Rubrik Majalah (Bag.I)

OPINI | 31 October 2012 | 09:46 Dibaca: 9479   Komentar: 0   2

Bismillah ar-Rahman ar-Rahiim

Sekapur Sirih:

Dengan keadaan yang sempit dan tertekan, terkadang seseorang baru benar-benar mampu mengeluarkan kekuatan dan kemampuannya yang sebenarnya. Terlahir sebuah daya kreatif yang belum tentu dicapai dalam kondisi luas dan leluasa. Begitu juga dengan catatan di bawah ini, lahir dari keterbatasan. Tidak ada buku jurnalistik yang pastinya, sangat memudahkan penyusunan catatan ini. Setidaknya masih ada internet sebagai “pintu kemana saja”. Semoga membantu dan mencerahkan. Saran dan kritik sungguh sangat ditunggu dan diterima. ^^

Secara global, hampir 95% obyek rubrik yang dijelaskan di sini diambil dari AL-FIKRAH. Karena terlalu luas, maka “Kue Pertama” ini dibagi menjadi 2 catatan sederhana, sebagai berikut.
Catatan pertama mencakup:

1). Salam Redaksi

2). Editorial

3). Sajian Utama/Tajuk Utama

4). Surat Pembaca

5). Cantrik

6). Reporter

7). Telaah Hadist/Quran

8). Opini & Kolom

9). Investigasi

Catatan kedua mencakup:

10). Refleksi

11). Suara Mahasiswa

12). Galeri Foto

13). An-Nisa

14). Galeri Insani & Biografi

15). Resensi

16). Bilik Ma’had

17). Catatan Akhir

18). Bingkai Kata

19). Extra Insights (Wawasan Tambahan)

a. Artikel

b. Feature

c. Esai

d. Tulisan Ilmiah

e. Tulisan Ilmiah Populer

f. Prosa

g. Puisi

Selamat membaca!!

—–ooOoo—–

#1. Salam Redaksi

Adalah macam tulisan sederhana sebagai sapaan redaksi pada pembaca di halaman awal majalah yang berisi uraian singkat mengenai tema dan judul dalam berbagai rubrik yang tengah dikupas dalam suatu majalah atau media cetak lainnya.

Berbeda dengan editorial, salam redaksi ditulis dengan bahasa ilmiah, rapi, singkat dan bertujuan memberitahukan tentang semua hal baru yang tengah dibahas. Adapun editorial, mengumpulkan pembahasan dari beberapa judul sajian utama dengan ringkas dalam bentuk tulisan dengan beberapa analisis alasan pengangkatan tema dan judul- judul tersebut.

—–ooOoo—–

#2. Editorial

@ Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Editorial adalah:

(1). Mengenai atau berhubungan dengan  editor atau pengeditan (pekerjaan) .

(2). Artikel dalam surat kabar atau majalah yang mengungkapkan pendirian editor atau pimpinan surat kabar (majalah) tsb mengenai beberapa pokok masalah; Tajuk rencana.

@ Menurut kamus Wordnet 30, Editorial adalah

(1). Sebuah artikel yang menyatakan sejumlah pendapat atau memberikan beberapa sudut pandang; sebuah kolom editorial.

(2). Mengenai beberapa karakter/ ciri khas seorang editor; tugas- tugas redaksi.

@ Menurut kamus Webster 1913, Editorial adalah

(1). berkenaan dengan seorang editor, baik ditulis maupun didukung oleh seorang editor. Sebagai tugas seorang redaksi ataupun ucapannya.

(2). Sebuah artikel utama sebagai pengantar dalam suatu koran atau majalah; artikel redaksi; sebuah artikel yang dimuat sebagai ekspresi atau pandangan seorang editor.

Pengantar mengenai Editorial.

Editorial sebenarnya bukanlah kolom yang paling dicari pembaca. Ketika berhadapan dengan media cetak, misalnya saja surat kabar, orang cenderung akan terfokus pada informasi utama. Jarang sekali, kalau boleh dikatakan demikian, ditemukan orang yang langsung mencari dan membaca kolom editorial.

Fakta tersebut pulalah yang mungkin menyebabkan kebanyakan media cetak tidak menaruh editorial pada halaman muka, tapi bukan berarti tidak ada sama sekali. Dalam format surat kabar skala nasional, “Media Indonesia” tercatat sebagai salah satu dari segelintir surat kabar yang memilih meletakkan kolom editorialnya pada halaman depan. Sementara dalam format majalah, “GetLife” boleh disebut sebagai yang cukup mengedepankan kolom tersebut; Anda akan langsung menatapnya begitu membuka kovernya.

Kolom editorial memang tidak selalu hadir dengan nama editorial. Masing-masing media cenderung memberi nama yang berbeda sebagai ciri khas medianya. Ada yang menyebutnya sebagai “Dari Kami” (Intisari), “Readmefirst” (GetLife), “Prologue” (PC Media), “Mata” (Matabaca), “Dari Meja Redaksi” (Buletin Pillar). Sementara “Kompas” menyebutnya “Tajuk Rencana”, “Seputar Indonesia” “Tajuk”. Adapun “Media Indonesia” dan “Berita GKMI” termasuk yang masih memakai nama “editorial” pada kolom tersebut.

Apa Itu Editorial?

Sederhananya, editorial itu merupakan kata pengantar dari redaksi. Yang menulis tidak harus seorang editor, meskipun namanya “editorial” (lihat, misalnya, pada St. S. Tartono 2005). Meski bisa disebut sebagai pengantar, editorial memang memiliki karakter yang unik sehingga, sebagai pengantar, posisinya tidak selalu berada di halaman utama. Sebab editorial bukan daftar isi yang menceritakan secara gamblang sajian edisi yang diantarkannya.

Itulah sebabnya, KBBI (2003:284) memuat nama ini untuk menyebut artikel dalam surat kabar atau majalah (pada praktiknya bisa berupa apa saja) yang mengungkapkan pendirian editor atau pimpinan surat kabar (majalah) tersebut mengenai beberapa pokok masalah. Sementara tentang tajuk rencana hanya disebut sebagai karangan pokok dalam surat kabar (KBBI 2003:1123).

Pandangan editorial sebagai salah satu tulisan yang mengekspresikan opini tercermin dalam pendapat Meyer Sebranek dan Dave Kemper. Opini tersebut menjadi suatu reaksi terhadap berita(-berita) terkini, kejadian, atau isu-isu yang merisaukan.

Beberapa Jenis Editorial.

Berdasarkan isinya, editorial bisa dibedakan atas empat jenis.

1). Editorial yang menjelaskan atau menginterpretasikan sesuatu. Model ini sering digunakan untuk menjelaskan cara media tersebut menutupi subyek/topik yang sensitif atau kontroversional. Terkadang model ini juga dipakai untuk menjelaskan situas-situasi baru yang berlangsung di seputar media tersebut. Misalnya, editorial pada surat kabar sekolah akan menjelaskan peraturan-peraturan baru.

2). Editorial yang mengkritik. Editorial ini menghadirkan kritik terhadap tindakan, keputusan, maupun situasi yang sifatnya membangun sembari menyediakan solusi bagi masalah yang diidentifikasikan. Tujuan praktisnya ialah mendorong pembaca untuk melihat masalah, bukan solusinya.

3). Editorial yang persuasif. Berbeda dengan tipe sebelumnya, editorial model ini bertujuan untuk menyoroti solusi, bukan masalah. Umumnya, pembaca (atau institusi tertentu, biasanya pemerintah) akan didorong untuk mengambil tindakan spesifik yang nyata terhadap suatu masalah. Pernyataan politik sering kali menjadi contoh editorial persuasif yang baik.

4). Editorial yang memuji. Ini tipe editorial yang paling jarang ditemui ketimbang dua model sebelumnya. Jenis editorial ini biasanya akan memuji orang(-orang) atau organisasi(-organisasi) tertentu karena telah menghasilkan sesuatu yang sangat baik.

Apa yang dimiliki Editorial.

Sebenarnya, hal-hal apa saja yang ada pada sebuah editorial? Samakah karakternya seperti jenis tulisan lainnya?

Setidaknya ada tujuh hal yang seharusnya terdapat dalam sebuah editorial.

(1). Pengantar, isi tulisan, dan simpulan seperti tulisan-tulisan lainnya.

(2). Penjelasan yang objektif mengenai isu-isu tertentu, terutama yang kompleks.

(3). Disampaikan dalam sudut pandang berita yang akurat.

(4). Opini dari sudut pandang berlawanan yang secara langsung menyanggah isu yang dialamatkan penulis.

(5). Opini penulis disampaikan secara profesional. Editorial yg baik mengangkat isu/berita, bukan personalitas dan tidak menyebutkan nama panggilan/julukan atau taktik persuasi yang licik lainnya.

(6). Solusi alternatif kepada masalah atau isu yang sedang diangkat. Siapa saja bisa mengeluhkan suatu masalah, tapi editorial yang baik harus mengambil pendekatan yang proaktif untuk menjadikan suasana lebih baik dengan menggunakan kritik yang membangun, sekaligus memberikan solusi.

(7). Simpulan yang padat dan ringkas, yang merangkum opini penulis.

Prinsip-Prinsip Editorial.

Berikut ini beberapa prinsip umum yang berlaku dalam menulis editorial.

(1). Editorial adalah sikap sebuah lembaga (penerbit) bukan sikap pribadi, pahami secara benar karakter, visi dan misi media yang bersangkutan.

(2).  Editorial harus mencerminkan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat dan menonjolkannya, hindari pemaparan bersifat menggurui, sok tahu, dan menganggap pembaca tidak memahami isu yang bergulir.

(3). Topik, arah, dan permasalahan yang akan diangkat harus dirembukkan dengan tim redaktur.

(4). Jangan menjadikan editorial hanya sekadar penghias atau pelengkap halaman; sajikan pendapat/pemaparan tentang berita yang sedang hangat.

(5). Gunakan pemakaian kalimat yang ringkas, padat, jelas, lugas, dan langsung ke pokok persoalan; jangan bertele-tele dan berputar-putar.

(6). Pada hakikatnya, editorial itu merupakan sebuah analisa singkat, diperlukan penggarapan yang serius berupa argumentasi yang solid dan valid dengan memperkaya melalui refrensi yang ada melalui kepustakaan yang lengkap dan representatif.

(7). Halaman yang tersedia sangat terbatas, oleh karena itu hindari penulisan latar belakang permasalahan secara berlebihan.

(8). Ukur dan kenalilah kemampuan serta keahlian Anda mengenai suatu bidang tertentu (menguasai permasalahan secara pasti).

(9). Pemaparan editorial harus berpijak pada kebenaran.

Penutup mengenai Editorial.

Di negara maju seperti Amerika Serikat, keberadaan editorial memang mulai dipertanyakan. Ada anggapan bahwa kolom ini tidak perlu ada sebab daya nalar masyarakat Amerika dianggap sudah cukup tinggi. Mereka dapat memberi kesimpulan secara mandiri terhadap apa yang dibaca. Namun, kolom ini tetap dipertahankan karena dianggap sebagai jantung dan roh media.

Editorial memang bukan kolom yang paling dicari. Meski demikian, posisi editorial tetaplah penting. Bukan semata-mata untuk memenuh- menuhi isi sebuah publikasi. Bukan pula karena publikasi lain (surat kabar, majalah, atau tabloid) menyajikannya (sekadar ikut-ikutan; karena memang sudah seharusnya ada). Tetapi sebuah editorial menghadirkan aspek edukatif (sekaligus sedikit provokatif dalam arti positif) kepada pembacanya (lihat lagi butir 2 di atas).

—–ooOoo—–

#3. Sajian/ Tajuk Utama

Adalah macam tulisan dengan penulisan terpadu, berasaskan EYD serta tata bahasa yang baik dan padat, yang menjadi tulisan utama dari suatu tema dan pokok pembahasan majalah. Sajian utama atau juga bisa dinamakan Tajuk, layaknya menu terlezat yang menjadi kebanggaan dan ciri khas suatu rumah makan. Sehingga seakan kurang lengkap rasanya, bila kita mengunjungi rumah makan tersebut, tanpa mencicipi menu special yang menjadi andalannya.

Tajuk Rencana (biasa disingkat “tajuk” saja) dikenal sebagai  “induk karangan” sebuah media massa. Disebut juga “Opini Redaksi”, yakni penilaian redaksi sebuah media tentang suatu peristiwa atau masalah. Merupakan “jatidiri” atau identitas sebuah media massa.  Melalui  tajuklah redaksi media tersebut menunjukkan sikap atau visinya tentang sebuah masalah aktual yang terjadi di masyarakat.

Tajuk rencana yang berupa artikel pendek dan mirip dengan tulisan kolom ini, biasanya ditulis oleh pemimpin redaksi atau redaktur senior yang mampu menyuarakan pendapat korannya mengenai suatu masalah aktual. Sikap, opini, atau pemikiran yang disuarakan lewat tajuk adalah visi dan penilaian orang, kelompok, atau organisasi yang mengelola atau berada di belakang media tersebut.

—–ooOoo—–

#4. Surat Pembaca

Rubrik khusus yang menjadi media penyambung ukhuwah dan sarana komunikasi antara redaksi dan pembaca dari berbagai media seperti email, korespondensi dengan redaksi, sms dll. Di sini, pertanyaan, harapan dan kejanggalan pembaca yang dijelaskan oleh redaksi.

—–ooOoo—–

#5. Cantrik

Pengantar: Cantrik adalah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti orang yang berguru kepada orang pandai, sakti; murid seorang pendeta atau pertapa; istilah Cantrik kemudian berkembang arti menjadi pengikut.

Dalam kehidupan sehari-hari istilah Cantrik lebih digunakan atau merujuk pada orang yang selalu mengikuti seorang guru kemanapun pergi, tentunya dengan satu tujuan utama dan yang dijunjungnya – agar dapat belajar keahlian tertentu dari orang yang diikuti.

Meskipun sudah lampau, namun sebagian orang masih melestarikan budaya Nyantrik (menjadi Cantrik). Kendati tidak sekental dulu, kebiasaan Nyantrik masih bisa dijumpai. Misalnya dalam dunia para pelestari budaya pewayangan, seseorang yang hendak memperoleh kepandaian dalam bidang pewayangan, menjadi dalang atau penabuh gamelan, ia akan mengikuti orang lain yang sudah ahli. Orang seperti itu sering disebut Dalang Cantrik atau Dalang Magang. Pola ajar seperti ini sering diterapkan masyarakat Jawa untuk menularkan ilmunya melalui pewarisan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Pada masa “invasi” Islam ke Indonesia, tutur tinular (mengajar dan menularkan ilmu) yang tergambar dalam hubungan Guru dan Cantrik masih terus dilestarikan. Jikalau ada perubahan, hanya terletak pada istilah saja. Istilah guru dan Cantrik kemudian berubah menjadi Guru dan Santri.

Nyantrik adalah keinginan luhur yang seharusnya terus lestari. Mencari ilmu, rela mengabdi demi ilmu dan berbakti sepenuhnya pada guru – belajar dalam keseharian sang guru, adalah bentuk ideal pengajaran, yang tidak hanya berorientasi pada uraian teori, tapi lebih melihat pada pola hidup, dan bagaimana sang guru menghidupi ilmunya.

Cantrik sejati adalah orang yang ngawula (menghamba, atau memosisikan diri sebagai hamba) pada sang guru. Tidak sekadar mencari ilmu, tapi rela merendahkan diri sebagai salah satu aktualisasi ilmu. Tidak hanya belajar teori, tapi juga aktualisasi dalam kehidupan pribadi. Tidak sekadar beraksi tapi juga patuh pada sistem yang disepakati.

Namun sayang, dewasa ini Cantrik sejati seolah sudah tidak lagi dihidupi. Bahkan ada kecenderungan terbalik. Cantrik memosisikan dirinya sebagai guru, dan guru dianggap orang yang ketinggalan jaman, sehingga dianggap lebih “bodoh” dari murid.

Ironisnya, Cantrik yang seharusnya rela merendahkan diri pada aturan yang disepakati, justru abai terhadap sistem, bahkan hendak membokar sistem dan diganti sitem baru yang menurutnya lebih afdol, kontekstual dan tidak ketinggalan jaman – tanpa terlebih dahulu ingin tahu keunggulan sistem yang dianggap “basi”. Belum lagi pola Cantrik yang tidak tulus mengabdi, yang jadwal Nyantriknya selalu pas dengan jadwal Gurunya mengajar, padahal jika guru tidak ada, sudah dapat dipastikan akan absent Nyantrik menjalankan amanah gurunya mendampingi Cantrik-cantrik lain.

Dari pengantar di atas, secara ringkas, Cantrik dalam majalah AL-FIKRAH adalah sebuah rubrik yang membahas suatu permasalahan berkaitan dengan tema yang dikupas dalam bentuk interview (wawancara) dengan narasumber yang dirasa berkapabilitas dan ahli dalam bidang permasalahan tersebut. Selain untuk mengorek lebih dalam tanggapan beliau mengenai permasalahan yang muncul dipermukaan, juga untuk menemukan argumentasi yang kuat dan solusi yang tepat untuk menyelesaikan dan menghadapi masalah tersebut.

—–ooOoo—–

#6. Reportase

Rubrik yang akrab di telinga kita dengan nama Berita ini memuat kabar/ laporan agenda dan aktifitas seluruh pelajar.santri Ponpes. Mambaus Sholihin dalam satu batas waktu dari awal proses penyusunan majalah hingga pengumpulan tulisan dan pengeditan.

Pengantar:

Berita (news) adalah laporan peristiwa berupa paparan fakta dan data tentang peristiwa tersebut. Unsur fakta yang dilaporkan mencakup 5W+1H: What (Apa yang terjadi), Who (Siapa pelaku atau orang yang terlibat dalam kejadian itu), Why (Kenapa hal itu terjadi), When (Kapan kejadiannya), Where (Di mana terjadinya), dan How (Bagaimana proses kejadiannya).

Ada beberapa jenis berita yang dikenal di dunia jurnalistik, antara lain berita langsung (straight news), berita mendalam (depth news), berita opini (opinion news), dan berita foto. Struktur tulisannya terdiri dari judul (head), baris tanggal (dateline), teras berita (lead), dan isi berita (body).

Prinsip penulisannya antara lain mengedepankan fakta terpenting (mode piramida terbalik, inverted pyramid), tidak mencampurkan fakta dan opini, dan berimbang (balance, covering both side). Isi berita merupakan fakta peristiwa yang benilai berita (news value), yakni aktual, faktual, penting, dan menarik.

—–ooOoo—–

#7. Telaah Hadist/ Quran

Rubrik khusus yang secara dalam menelaah kandungan ayat/ hadist yang musykil, unik dan menarik dibahas, yang berkaitan dengan tema Majalah saat itu. Rubrik ini adalah representatif kepiawaian santri/mahasiswa dalam sisi agama, utamanya dalam kajian kritis Quran dan hadist yang akhir- akhir ini hangat dibahas dan banyak menyebar dalam komunitas masyarakat Indonesia.

—–ooOoo—–

#8. Opini dan Kolom

Adalah pendapat atau pandangan (views) yang sifatnya subjektif mengenai suatu masalah atau peristiwa yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Jenis-jenis naskah opini antara lain artikel opini (article), kolom (column), tinjauan (essay), tajuk rencana (editorial atau opini redaksi), surat pembaca (letter to the editor), karikatur, dan pojok.

Isi tulisan berupa pendapat pribadi penulis berdasarkan fakta ataupun ungkapan pemikiran semata. Struktur umum tulisan opini/artikel: judul (head), penulis (by line), pembuka tulisan (opening), pengait (bridge), isi tulisan (body), dan penutup (closing).

Lebih lanjut

Opini adalah tulisan yang berupa pendapat seseorang atau lembaga. Segala sesuatu yang bukan berita disebut opini. Opini dapat dikategorikan dalam dua jenis.

@ Pertama, opini yang mewakili lembaga disebut tajuk, pojok, opini atau rubrik.

@ Kedua, opini yang mewakili perorangan disebut kolom. Tidak ada referensi yang pasti tentang asal usul mengapa sebuah rubrikasi tulisan opini di sebuah media massa cetak itu disebut sebagai kolom. Pada dasarnya, kolom adalah salah satu jenis tulisan artikel ilmiah populer yang muncul di media massa cetak.

Bentuk tulisan kolom, sebagaimana opini dan editorial, sesungguhnya sudah bukan lagi ragam berita, tetapi tulisan jenis ini adalah jenis artikel populer gagasan atau pendapat murni dari penulis. Hanya saja, karena jenis artikel ini muncul sebagai tulisan di media massa, maka seringkali masih digolongkan sebagai ragam penulisan jurnalistik, meskipun sebenarnya secara hakiki jenis tulisan itu sudah bukan lagi karya jurnalistik. Oleh karenanya, bentuk ini juga sering disebut sebagai ragam penulisan ilmiah populer.

Antara Opini dan Kolom.

Opini lebih mendekati bentuk argumentasi, yaitu pemaparan yang intinya menggiring opini orang atau meyakinkan orang lain agar sepakat dengan ide atau pandangannya. Tentu saja, penulisan jenis ini juga harus disertai dengan referensi yang ada dan bersifat argumentatif. Pada opini orang dihadapkan pada pertanyaan “mengapa”.

Kolom sesungguhnya masih merupakan ragam opini. Hanya saja gaya penulisannya cenderung sangat santai, dengan menyertakan idiom-idiom tertentu. Kolom barangkali boleh disebut sebagai artikel subjektif. Tulisan ini biasanya bersifat renungan, reflektif dengan gaya humor dan satir.

Gaya individual sang penulis sangat lekat dalam jenis tulisan seperti ini. Kolom adalah tulisan sederhana tentang berbagai hal yang ada di sekitar kita. Tulisan ini biasanya menggunakan bahasa yang mudah dipahami, merakyat, sinis, kadang juga penuh canda. Berbeda dengan opini, misalnya. Walaupun harus tetap dengan bahasa populer tetapi opini tak lazim kalau dibuat dengan cara bercanda.

Apa Saja yang Bisa Ditulis?

Dalam tulisan kolom, apa saja bisa menjadi bahan tulisan, bahkan hal-hal yang sering kali mengabaikan aktualitas. Banyaknya anak-anak jalanan di sekitar Bangjo lalu lintas, di tangan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) akan menjadi kolom yang sangat analitis dan mengesankan. Dengan berbagai pandangan yang merakyat khas Kyai Kanjeng tentunya. Lalu lalang Bus Kota, banyaknya pedagang dadakan, menjadi inspirasi tersendiri bagi Gus Dur untuk menuliskannya dalam kolom. Putu Setia, seorang praktisi jurnalistik mengatakan bahwa baik opini maupun kolom menyoroti sebuah berita aktual dengan memberi pendapat-pendapat, baik saran, solusi, kritik dan sebagainya. Apa pun bisa dipermak menjadi sajian kolom yang memikat.

Victor Silaen, seorang penulis media massa, mendapatkan ide-ide menulis dengan menulis secara rutin. Dia biasanya mengonsumsi berita dari radio, koran dan televisi setiap hari. Majalah, tabloid, dan media-media maya merupakan menu tambahannya. Kita harus merasakan ada “sesuatu” yang penting untuk kita angkat dalam sebuah tulisan setiap kali kita mendengar, melihat, menonton sesuatu, atau juga mengalami sesuatu. Di dalam “sesuatu” itulah terkandung ide atau ilham, yang harus kita ingat dan pikirkan terus hingga akhirnya dituang menjadi sebuah tulisan.

Pemula Menulis Kolom?

Bolehkah kemudian sebagai pemula menulis kolom? Tidak ada yang melarang! Dengan ketekunan, kesabaran untuk menyampaikan naskah-naskah tulisan dengan gaya tulisan kolom seorang pemula pun bisa jadi akan menjadi perhatian media massa. Menulis adalah keterampilan. Seperti keterampilan bersepeda, menyetir mobil, atau berenang, tanpa bersentuhan langsung dengan tindakan menulis, kita tidak akan bisa menulis.

Sebagai keterampilan, menulis bisa dipelajari. Setiap orang mampu menjadi penulis. Sebab, kemampuan menulis tidak tergantung bakat — walaupun bakat diperlukan untuk “keindahan” tulisan, membuat sebuah tulisan menjadi “berseni”. Orang yang tak berbakat pun bisa jadi penulis jika dia sering berlatih menulis. Bakat adalah urusan orang-orang terpilih, segelintir orang yang mendapat berkah. Adapun kemampuan menulis diperuntukkan bagi siapa saja, tak kenal kasta, status, suku dan agama.

Penulis yang baik adalah orang yang mampu menulis dengan baik kapan saja, di mana saja, dan dalam kondisi apa pun. Penulis yang baik tidak hanya mengandalkan inspirasi. Juga tidak hanya mengandalkan suasana hati. Dia menggunakan seluruh pikiran, perasaan, dan tindakan konkretnya saat menulis.

Penulis yang baik juga mampu merangsang dirinya untuk menciptakan suasana hati yang mendukungnya menulis. Dia mampu menyemangati dirinya agar dapat menulis di mana saja dan kapan saja. Dia mengolah pikiran, perasaan, dan tindakan serta dicurahkan dalam bentuk tulisan agar dapat disebarkan kepada orang lain. Penulis yang baik mau berbagi cerita dengan banyak orang lewat tulisannya. Dia adalah seorang dermawan yang mau berbagi pengetahuan dengan siapa saja.

—–ooOoo—–

#9. Investigasi

Ada sejumlah pengertian investigasi yang dikemukakan oleh para tokoh.

Wartawan senior Goenawan Mohammad, misalnya, memberikan pengertian jurnalisme investigasi sebagai jurnalisme yang membongkar kejahatan. Artinya ada sebuah kejahatan yang berusaha ditutup-tutupi oleh sekelompok orang, dan wartawan melakukan investigasi untuk membongkar kejahatan tersebut, kegiatannya, otak di balik kejahatan, pola dan modusnya.

Steve Weinberg, penulis buku The Reporter’s Handbook, An Investigator’s Guide to Documents and Techniques, memberikan definisi reportase investigatif sebagai, “Reportase terutama melalui hasil kerja dan inisiatif sendiri yang artinya penting yang oleh beberapa pribadi atau organisasi ingin tetap dirahasiakan.

Tiga unsur dasarnya adalah bahwa investigasi itu merupakan kerja wartawan, bukan laporan investigasi yang dilakukan oleh orang lain; bahwa masalah yang diberitakan melibatkan sesuatu yang sangat penting bagi pembaca atau pemirsa; dan bahwa pihak-pihak lain berusaha menutup-nutupi masalah ini dari publik.”

Anton Harber, dalam Power Reporting Workshop 2005, memberikan pandangan menarik tentang jurnalisme investigasi, yakni, “Mempertanyakan klaim dari para penguasa, mempertanyakan, mempertanyakan, dan mempertanyakan, apa yang selama ini para penguasan tidak menginginkan suatu hal diketahui oleh publik.

Pendeknya, investigasi adalah menyodorkan kepada publik prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas yang tanpa hal itu demokrasi tak akan bisa bekerja dengan baik.

Kegiatan investigasi juga berlangsung di luar dunia jurnalis. Para penegak hukum, misalnya jaksa dan polisi, banyak melakukan kegiatan investigasi ketika menyelidiki dan menyidik suatu perkara. Tak hanya itu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pun bersinggungan dengan kegiatan investigasi dalam upaya penegakan hukum persaingan usaha.

Sementara, dalam ranah audit keuangan, dikenal istilah audit investigasi, yang menurut Dasriel Adnan Noeha, lebih dikenal dengan istilah fraud audit alias pemeriksaan kecurangan.

Dari akar katanya, mengutip kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary, kata investigate berarti:

1) To discover and examine all the facts about something;

2) To try to discover the facts about somebody’s character, background, political view, etc;

3) To try to discover facts, information, ets, by study or research;

4) To make a brief check.

Dari sejumlah pandangan di atas, kita bisa melihat benang merah/unsur-unsur dari istilah investigasi itu, yakni:

Ada dugaan kejahatan, kecurangan, kebusukan, dan sejenisnya. Kecurangan, kejahatan, kebusukan, dan sejenisnya itu, ingin ditutup-tutupi oleh orang atau sekelompok orang. Kecurangan, kejahatan, kebusukan, dan sejenisnya itu bermakna dan berdampak penting/luas, baik dalam upaya penegakan hukum, menegakan prinsip transparansi, akuntanbilitas, maupun dalam kaitannya dengan kepentingan publik lainnya. Ada upaya, atau lebih spesifik lagi ada inisiatif, untuk mencari, menelusuri, menemukan, memeriksa fakta-fakta, informasi, dan bukti, tentang kecurangan, kejahatan, kebusukan, dan sejenisnya itu, baik yang berkaitan dengan peristiwa itu sendiri, otak/pelaku, latar belakang, dan fakta-fakta lain yang selama ini tersembunyi.

Karakter Investigasi.

Karakter paling pokok dari sebuah investigasi adalah menggali ke bawah permukaan atas sebuah peristiwa. Bondan Winarno dalam skandal emas Busang, misalnya, menggali lebih dalam fakta tentang kematian Geolog senior Bre-X Michael de Guzman, yang diberitakan bunuh diri di tengah hutan Busang. Bondan bertahun-tahun menelusuri dokumen, mewawancarai banyak orang, dan akhirnya ditemukan bahwa mayat yang ditemukan di tengah hutan itu tidak memiliki gigi palsu di rahang atas seperti dimiliki Guzman, keterangan yang Bondan dapat dari salah seorang istri Guzman. Bondan juga mempelajari dokumen tentang pertambangan mineral dan cara meracuni mata bor dengan emas luar sedemikian rupa, dan ia berkesimpulan ada emas yang luar biasa banyak di bawah hutan Busang.

Karakter lainnya dari investigasi adalah tidak begitu saja mempercayai suatu klaim, seruan, jargon, dan terus menerus mempertanyakan klaim tersebut, melengkapi dengan fakta dan informasi yang kuat, sehingga suatu persoalan bisa dipahami dalam kedudukannya yang paling terang. Saya baru saja membaca laporan investigasi wartawan lepas Tom Knudson berjudul Promises and Poverty, Starbucks Calls Its Coffee Worker-Friendly- But in Ethiopia A Day’s Pay Is a Dollar .

Tak ada perusahaan kopi di dunia ini yang mengklaim telah berbuat lebih bagi perbaikan lingkungan dan petani di negara dunia ketiga, selain Starbuck. Knudson menggarap liputan selama empat bulan, tiga minggu berkeliling Ethiopia, dan menemukan bahwa klaim itu omong kosong. Pembelian biji kopi oleh Starbuck di Ethiopia secara besar-besaran ternyata telah menyebabkan 10 ribu hektare hutan rusak per tahunnya di negara Afrika itu.

Kehadiran Starbuck ternyata juga tak mampu mengangkat perekonomian Ethiopia yang tetap negara termiskin di dunia dengan pendapatan per kapita penduduknya sebesar US$ 180/tahun, pendapatan per hari petani kopi di sana hanya 66 sen. Lantas apa makna dari slogan Starbuck, Coffee and Farmer Equity Practices (CAFE)?

Karakter selanjutnya yaitu adanya inisiatif. Melakukan investigasi tidak hanya menuliskan dokumen yang diberikan oleh sumber, meneruskan dan mengulang apa yang sudah ditulis orang, dan sebagainya. Harus ada inisiatif, perspektif, dan kerangka berpikir, yang membuat suatu peristiwa/ fakta bisa dipahami sebenar-benarnya.

Praktisasi Investigasi.

Secara praktis, kegiatan investigasi memiliki pola/alur kerja yang mirip dengan prinsip-prinsip manajemen: ada perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi. Hasil akhir bisa dituangkan dalam bermacam bentuk, misalnya, laporan kasus, laporan jurnalistik di media massa, buku, dan sebagainya.

Kendati demikian, sikap dan sifat seorang investigator akan membedakan satu dengan lainnya. Setidaknya investigator harus memiliki sikap skeptis (kurang percaya/ ragu- ragu), jeli, cermat, sabar, berwawasan, cerdik, dan santun.

Berikut Tehnik Investigasi menurut Andreas Suharsono;

Investegasi dibagi menjadi  2 bagian;

@ Bagian Pertama

Petunjuk awal (First Lead) Bisa berasal dari mana saja, misalnya berita di media massa, informasi dari seseorang, pengamatan, dan sebagainya.

Investigasi pendahuluan (Initial Investigation) Mulailah mencari informasi tentang objek investigasi, bisa lewat internet, wawancara dengan sumber, membaca laporan dan dokumen, dan sebagainya. Tujuannya, supaya anda memiliki gambaran dan pengetahuan yang kuat tentang konteks peristiwa dari objek investigasi.

Buatlah hipotesis (Forming An Investigative Hypotesis) Hipotesis ini sangat penting dan membedakan laporan investigasi dengan laporan-laporan lainnya. Tentu, hipotesis dibuat setelah anda melakukan investigasi pendahuluan. Misalnya, hipotesis bahwa dana yang dialirkan Bank Indonesia kepada anggota DPR itu adalah untuk keperluan pembelian pasal dalam proses legislasi aturan perundang-undangan yang terkait Bank Indonesia. Hipotesis inilah yang nantinya akan anda buktikan kebenarannya.

Wawancara mendalam dengan pakar dan sumber-sumber ahli (Interviewing Expert).

Pelacakan dokumen (Finding A Paper Trail) Kumpulkan dan lacak sebanyak-banyaknya dokumen yang terkait dengan objek investigasi. Bisa berupa surat, laporan audit, memo pejabat, transkrip pembicaraan, surat elektronik (email), surat keputusan resmi lembaga, buku harian, daftar hadir, notulensi, dan sebagainya.

@Bagian kedua:

Pengamatan langsung (First Hand Observation) Ada yang kerap luput dari pengamatan langsung ini yakni pertimbangan tentang faktor lokasi dan geografis. Padahal kita tahu bahwa banyak sekali pertimbangan politik, militer, bisnis, didasarkan pada faktor geografis. Artinya perhatikan konteks geografis dari objek investigasi.

Pengorganisasian data (Organizing Files)

Data yang terkumpul, baik dari hasil observasi, dokumen, wawancara, atau dari sumber lain, diorganisasikan dengan baik. Lebih bagus lagi dibuat bagan/matriks supaya lebih mudah memetakan kecenderungan-kecenderungan dari objek investigasi, selain untuk memisahkan antara mana yang betul-betul fakta, mana yang bukan. Wawancara lebih lanjut jika ada data yang kurang maupun untuk memperoleh pendalaman.

Analisis data (Analyzing Data) Analisislah data anda, bentuklah sebuah bangunan peristiwa yang utuh. Jika belum utuh, lengkapilah lagi data anda.

Penulisan (Writing) Pada tahap ini anda tidak bisa lepas dari kaidah-kaidah penulisan yang baku, tersusun dan runut, serta memperhatikan sudut pandang penulisan laporan.

Pengecekan fakta (Fact Check) Cek lagi apa yang sudah anda tulis. Misalkan, ejaan, nama dan pangkat orang, nama lokasi, nomor, dan sebagainya.

Pelajari kemungkinan ada gugatan atas laporan anda (Libel Check). Berarti anda harus memperhatikan betul-betul akurasi fakta, supaya anda tidak dicap melakukan pencemaran nama baik. Ada hal penting yang sering dilupakan orang

ketika melakukan investigasi. Banyak orang menulis hasil investigasi setelah semua data terkumpul, atau di bagian akhir. Padahal, itu salah. Sebaiknya anda memiliki memo/buku catatan untuk menuliskan apa yang anda lakukan, apa yang anda dapat, apa yang anda lihat, setiap waktu.

Hal ini penting untuk menjaga ritme investigasi selain untuk menjaga supaya tidak ada hal yang terlewat dari proses investigasi kita.

—–ooOoo—–

Terima kasih berkenan meluangkan waktu untuk mampir melihat dan membaca ^^v

Feel Free untuk mencopy dan membagikannya pada teman dekat anda ..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 7 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 9 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 10 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 11 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: