Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Febrian Arham

alumni DIII STAN' 04, (harusnya) DIV STAN' 08

5 Orang Terkaya di Indonesia di Seluruh Stasiun TV Gratis Nasional

OPINI | 25 December 2012 | 14:35 Dibaca: 18928   Komentar: 0   9

Saat ini dengan era Demokrasi dan Kebebasan Pers kita bisa menemukan berbagai stasiun TV lokal di berbagai daerah di Indonesia. namun jika ditelisik hanya Ada 10 Stasiun TV Nasional yang beredar di secara gratis untuk pemirsanya di seluruh Indonesia. kesepuluh stasiun pemilik itu jika dikerucutkan lagi hanya memiliki 5 nama dalam status kepemilikannya, yaitu :

1. Chairul Tanjung : Trans TV dan Trans 7

2. Harry Tanoesodibjo : RCTI,Global TV dan MNCTV

3. Eddy kurnadi Sariaatmadja : SCTV dan Indosiar

4. Aburizal Bakrie : ANTV dan Tvone

5. Surya Palloh : MetroTV

Menariknya dari kesemua invidu pemilik TV tersebut hanya satu yang tidak memiliki afiliasi langsung dengan partai politik, atau politik sebagai arus utamanya yaitu Edy Kurnadi Sariaatmadja dari SCTV grup. walau siapapun sebenarnya bisa, tapi Chaerul Tanjung dari Grup Trans kalau ditelusuri lebih lanjut memiliki keterkaitan yang kuat dengan penguasa Negara terlepas juga dengn kepemimpinan penguasa Negara di partai politik tertentu. Partai Nasdem sebagai partai baru yang belum pernah mengikuti Pemilu, ‘dimiliki’ oleh Metro TV oleh Surya Palloh dan MNC grup oleh Harry Tanoe, sementara Aburizal bakrie di Golkar.

Dan dari kelima nama itu, hanya Surya palloh yang belum pernah mencatatakan namanya di 40 besar orang terkaya di Indonesia.

Pada rilis forbes 40 indonesia richest baru-baru ini, Chaerul tanjung adalah yang terkaya dengan menempati urutan ke-5 terkaya di Indonesia dengan kekayaan 3,4 billion dollar atau setara dengan 30 trilyun rupiah. Harry Tanoe menempati urutan ke dua pada daftar pemilik stasiun Tv ini sebagai orang nomer 29 terkaya di Indonesia. Dan Eddy kurnadi Sariaatmadja menempati urutan ke -40 orang terkaya di Indonesia atau menempati urutan ke-tiga dengan kekayaan 750 juta dollar atau sekitar 7 trilyun rupiah.

Abuizal Bakrie dengan kepemilikan sahamnya yang berkurang signifikan di beberapa emiten terbesar di Indonesia, serta dengan kebijakan perusahaannya yang banyak membayar utang jatuh tempo, melorot dari urutan nomer 1 di Indonesia 3 tahun lalu hingga menjadi terlempar keluar 40 besar orang terkaya di Indonesia saat ini. dan mungkin ini juga disebabkan oleh pengaliran dana yang dimilikinya untuk membiayai sendirian partai politik yang dipimpinnya.

Dan Televisi adalah media pendidikan satu arah. Dalam komoditasnya sebagai alat Demokrasi, Televisi tidak berbayar adalah TV yang menyiarkan Informasi berdasarkan kepentingan si pemilik ataupun subjek lain yang memiliki modal.

Ke lima pemilik stasiun TV tidak berbayar di Indonesia adalah pendidik satu arah yang mengajarkan murid-muridnya, tak perduli latar belakang pendidikannya, tidak pedagogis.

Dan Demokrasi adalah entitas yang positif sekarang ini.

Dengan liberalnya modal untuk berpropaganda, dengan pentingnya acara TV dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, Demokrasi ini tidak lain adalah Demokrasi transisi yang pada suatu saat akan menghasilkan bentuk lain yang lebih equilibrium.

John Mayer dalam lagu “waiting for the world to change” secara tersurat menyebutkan kekuatan orang-orang kuat dalam bisnis media yang juga kuat dalam politik sebagai :

..And when you trust your television, What you get is what you got, Cause when they own the information, oh, They can bend it all they want..

Dan Negara Indonesia, dalam Televisi, digambarkan sebagai sesuatu yang terus-terusan berkontradiktif satu sama lainnya. Dengan ideologi bahwa yang baik adalah yang praktis dan instan, korupsi, hiburan dan budaya populer seolah merupakan satu kesatuan kenyataan dimana unsur pembentuk satu kesatuan tersebut sudah jelas bukan hal yang disukai menjadi bagiannya.

Walau segala ini adalah yang tersirat bukan sesuatu yang jelas memprovokasi, tapi informasi yang terekam dalam bawah sadar adalah informasi yang berperan besar dalam mendorong laju kegiatan pribadi dalam dimensi yang sebenarnya.

Yang perlu dipahami oleh masyarakat awam adalah tidak semua kebenaran itu adalah benar adanya.

TV di masa depan seperti Youtube yang memungkinkan pemirsanya untuk berinteraksi dan memberikan kebenaran menurut versinya masing-masing adalah demokrasi yang seharusnya. Rasanya Bukan TV dengan subsidi tidak langsung dari para pembayar iklan dan penjual produk yang bermotif terbatas seperti sekarang yang tidak memberi ruang untuk umpan balik yang seimbang, selain konsumerisme produk iklan yang semakin menggila yang merupakan perwakilan dari demokrasi politik.

Obama, seorang etnis Minoritas, dapat memenangkan Pemilihan Presiden di Negara Amerika serikat salah satunya berkat dukungan taipan media Televisi, Oprah Winfrey.

Dan Politik adalah lingkup paling fundamental sekaligus puncak dari kehidupan social seseorang.

Tanpa kekuatan politik, kompetisi masa modern yang menghasilkan disparitas antara entitas satu dengan yang lainnya yang semakin membatas– dalam arti absolutisme dan kekerasan yang mengikutinya bukanlah hal yang ingin dicapai dalam pemikiran manajemen modern– ,maka kekuatan media, paling berpengaruh pada masyarakat luas, Televisi, saat ini, merupakan factor kunci dalam menentukan seorang menang dalam kehidupan sosial tertinggi di masa yang akan datang di Indonesia.

Orang-orang kaya pemilik stasiun TV nasional tidak berbayar di Indonesia ini tidak mungkin  tidak signifikan dalam politik dan demokrasi Indonesia.  Tinggal siapa yang mau berpegang dan beri atensi yang lebih sekarang .

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 12 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 13 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Jadilah Peniru …

Wiwik Agustinanings... | 7 jam lalu

Pesan Membaca di Film The Book of Eli …

Eko Prasetyo | 7 jam lalu

Wisata Magelang – Menuju Kejayaan …

Sigit Mardiyanto | 7 jam lalu

Gejolak Pikiran setelah Berkunjung ke …

Mad Solihin | 7 jam lalu

Buku: antara Hidup dan Mati …

Onenation | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: