Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

A. Dardiri Zubairi

membangun pengetahuan dari pinggir(an) blog pribadi http://rampak-naong.blogspot.com/

Berita Mesum di Radar Madura Menjijikkan

OPINI | 08 January 2013 | 20:43 Dibaca: 11073   Komentar: 11   1

13576524521358553676

Lagi-lagi Radar, media local milik Jawa pos Group, selalu mengulang kekonyolan yang sama. Dalam memberitakan kasus porno cenderung vulgar dan melupakan jati dirinya sebagai media umum. Saya pernah menulis di kompasiana, bagaimana [jurnalis] Radar Madura menulis berita perkosaan yang tak kuat sisi kemanusiaannya terhadap korban. Berita yang ditulis itu malah “mengorbankan korban” [victimizing the victim] atau dalam istilah Kompasianer yang fokus menulis Aids, Syaiful W Harahap, jurnalis Radar Madura telah melakukan the second rape (silahkan baca, Kepornoan radar Madura).

Induknya, Jawa Pos, juga melakukan kekonyolan yang sama ketika memberitakan video porno yang diduga dilakukan anggota DPR. Tidak dalam wujud berita, tetapi dalam bentuk foto porno yang dijejer layaknya gambar yang bisa bercerita. Betul gambar itu sudah diburamkan, tapi kronologi foto itu bagi saya sangat tidak etis, mengingat Jawa Pos adalah koran umum yang dibaca oleh siapa saja, termasuk pelajar dan anak-anak [silahkan baca, Guru Terusik Adegan “syur” Jawa Pos].

Mengulang Lagi

Hari ini [8/1] Radar Madura melakukan kekonyolan lagi. Berita di bawah judul “ Heboh Video Mesum Pedagang Gula”, ditulis begitu menjijikkan karena Radar Madura secara detail memindahkan bahasa visual itu ke bahasa kata. Berita ini bagi saya bukan sekedar berita, lebih tepat disebut berita stensilan.

Opini yang bersifat subyektif juga tampak dalam penulisan berita ini. Untuk “mendramatisir” agar kasus ini dibaca banyak orang, Radar Madura perlu memanggil ulang ingatan pembacanya terhadap video porno Cut Tari dengan Ariel yang dulu pernah heboh. Adegan perempuan yang diduga pedagang gula disamakan dengan gaya Cut Tari. Radar Madura menulis, “Bahkan, si perempuan yang diyakini berinisial ZN itu terkesan meniru gaya Cut Tari saat beradegan dengan Ariel Noah.” Kata terkesan jelas merupakan opini jurnalisnya. Rupanya si jurnalis Radar Madura ini kaya referensi soal video beginian.

Di bagian lain, kalimatnya begitu vulgar karena begitu detail mengulas adegannya. “sebelum beraksi, dua pasangan ini tampak melakakun pemanasan. Mulai saling cium, hingga [maaf] saling meraba alat kelamin keduanya. Nah, sekitar satu menit tindakan pemanasan itu berlangsung berlanjut ke hubungan intim.

Kekonyolan terus berlanjut pada paragraph di bawahnya. Radar Madura menulis, “dari gambar yanga ada keduanya seolah menikmati adegan demi adegan. Sesekali keduanya mengambil posisi duduk, telentang, dan giliran atas bawah. Terkadang pula dengan posisi miring dan berbagai gaya erotis lainnya.”

Sebagai media umum, seharusnya Radar Madura tidak ceroboh menulis berita mesum seperti ini. Radar Madura tidak perlu detail mengulas adegannya, hingga bagi saya menjijikkan. Sebagai media umum, Radar Madura yang disisipkan di Jawa Pos tentu dengan mudah bisa dibaca oleh anak-anak di bawah umur. Terus terang, saya harus menyimpan koran ini di tempat yang tidak bisa dijangkau anak saya.

Radar Madura sebenarnya bisa mengambil angle lain untuk menulis berita ini. Misalnya, dengan mewawancari tohoh agama, pendidik, atau budayawan untuk melihat dari sudut dimensi etisnya. Sementara video porno cukup ditulis, dilakukan oleh siapa, kapan, kalau bisa dilacak dimana, tanpa harus detail pertanyaan bagaimananya. Sehingga pembaca memperoleh makna dari setiap berita yang ditulis. Bukan vulgar seperti ini, yang kadang sangat menjijikkan.

Bagaimana Radar Madura?

Matorsakalangkong

Pulau Garam | 8 Januari 2013

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | | 24 November 2014 | 06:23

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 5 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 7 jam lalu

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 16 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Autokritik untuk Kompasianival 2014 …

Muslihudin El Hasan... | 8 jam lalu

Kangen Monopoli? “Let’s Get …

Ariyani Na | 8 jam lalu

Catatan Kecil Kompasianival 2014 …

Sutiono | 8 jam lalu

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Beda Banget Nasib Rinni dan Aris …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: