Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Rahmat Paska Risalah

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta @ CHANIAGO 07

“FILM INDONESIA ATAU FILM LUAR NEGERI?”

REP | 15 January 2013 | 23:54 Dibaca: 303   Komentar: 0   0

2 pekan terakhir saya melakukan wawancara ke beberapa orang mahasiswa di Yogyakarta tentang kesukaannya dalam perfilman khususnya indonesia. Rata-rata mereka menjawab mereka lebih menyukai film-film luar negeri. Mereka beralasan karena efek dan daya dukung film tersebut sangat luar biasa. Terlebih cerita-cerita mereka yang mengasah logika sehingga membuat kita berfikir seperti apa ending dari film tersebut.

Mungkin jika pertanyaan tersebut ditanyakan kepada kita, termasuk saya sendiri maka kita akan menjawab hal yang sama. Adapun yang menjawab hal berbeda disebakan karena perbedaan perspektif individu masing-masing.

Publikasi film luar negeri yang akhir-akhir ini semakin memuncak, membuat film-film Indonesia seolah-olah terhimpit gelombang arus publikasi tersebut. Sebagai contoh film-film drama korea yang begitu menggerogoti kaula muda saat ini. efek dari film-film tersebut bisa kita lihat dari gaya dan penampilan kaula muda saat ini. gaya rambut catokan mulai menghiasi penampilan anak-anak muda baik laki-laki maupun perempuan. Parahnya rambut catokan ini di pakai oleh laki-laki yang awalnya terkesan sangat jantan dan perkasa. Ketika dihiasi dengan rambut lurus seperti layaknya pria korea, steriotip atas kejantanan tadi hilang beberapa persen. Memang urusan gaya dan penampilan adalah hak setiap individu, akan tetapi problematika seperti ini telah memaparkan dengan jelas kepada kita betapa berhasilnya indrustri perfilm-an korea saat ini.

Lagu-lagu india juga telah menghiasi beberapa kalangan masyarakat. Hal ini juga merupakan salah satu efek mediasi dari perfilm-an india. Belum lagi film-film dari benua eropa dan amerika. Hal ini sangat mudah kita temukan di masyarakat. Kita lihat di perkumpulan-perkumpulan anak muda saat ini tak sedikit yang membahas dengan semangatnya tentang film Breaking Dawn 2. Ada yang mempu menceritakan sampai bercucuran keringat jalan cerita film tersbut dari awal sampai akhir tanpa mengilangkan satu segmen. Europhoria film-film luar negeri saat ini memang di akui sudah mencapai klimaksnya.

Jika kita berbicara perfilm-an indonesia juga tidak kalah menarik dengan perfilm-an luar negeri. Salah satu contoh adalah film The Reid Redemption yang mampu memukau penontonnya hingga ke kancah Internasional. Belum lagi film-film yang berangkat dari novel-novel terkenal, seperti Ketika Cinta Bertasbih, Perempuan Berkalung Sorban, Laskar Pelangi, dan lain sebagainya. Kita juga tak kalah di hebohkan dengan film yang berceritkan kisah ainun habibie. Memang efek mediasi positif belum terlihat sangat dominan saat ini dalam perfilm-an indonesia, karena masih banyak film-film indonesia yang belum mampu menganggkat dan menggambarkan kehidupan dan kebuadayaan masyarakat Indonesia.

Tak sedikit juga film-film indonesia yang merusak moral masyarakat Indonesia itu sendiri. bukan berarti perfilm-an luar negeri melakukan sebaliknya. Perlu dilakukan filter yang matang guna mengambil pelajaran dari film-film tersebut.

Steriotop yang berkembang di masyarakat tentang perfilm-an indonesia saat ini tidak keluar dari dunia mistik dan horror. Memang di akui oleh beberapa pihak film-film dengan kategori tersebut mendapat rating bagus belakangan ini. hal ini di karenakan situasional dan beckground yang mendukung. Selain itu tingkat kepercayaan masyarakat indonesia terhadap dunia mistik sangat tinggi. Sehingga tingkat penasaran masyrakat terhadap film-film berbau horror tersebut sangat tinggi.

Akan tetapi jika kita melihat mamfaat yang diberikan oleh film-film tersebut bisa dibilang nihil, bahkan bisa merusak moral masyarakat Indonesia. Film-film horror tersebut dengan sendirinya akan mempengaruhi psikoligis terhadap mental dan sikap seseorang. Jika seseorang lebih banyak di suguhkan film-film yang berbau mistik dan horror mentalnya akan sedikit terganggu dibanding orang-orang yang lebih banyak di suguhkan film-film motivasi. Belum lagi kebanyakan film-film horror indonesia di bumbui oleh beberapa adegan yang mendekati pornografi. Bisa dibilang film film semacam ini “sudah tidak berguna, bahkan ingin memakan kita”.

Film-film luar negeripun memang tidak terlepas dari adegan-adegan yang mendekati pornografi. Tetapi itu adalah bidaya mereka tanpa ada hak untuk menyalahkan. Tugas kita hanyalah memfilter sebaik mungkin. Kemudian alangkah baiknya jika perfilm-an Indonesia lebih banyak mengengakat film-film yang berasal dari novel-novel terkenal. Karena kebanyakan film-film yang berangkat dari novel-novel tersebut mengangkat nilai-nilai kehidupan masyarakat. Europhorianya pun juga tidak kalah dari film-film yang datang dari luar negeri. Dengan begini setidaknya kita telah belajar bagaimana mencintai produk-produk dalam negeri.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 8 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 11 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 12 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips Tampil PD ala Kispray …

Sandra Nurdiansyah | 7 jam lalu

Cinta Tak Melulu Indah …

Anugerah Oetsman | 7 jam lalu

Lisa Rudiani, Cantik, Penipu dan Pencuri …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Revolusi Biru …

Dinoto Indramayu | 8 jam lalu

Jenis-jenis Disfungsi Seksual yang Harus …

Lailatul Badriah | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: