Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Febry Arifmawan

Pernah menjadi pemimpin redaksi majalah mahasiswa Himmah, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Sekarang bekerja sebagai news selengkapnya

Riset Opini Publik di Media Massa

REP | 08 February 2013 | 16:30 Dibaca: 492   Komentar: 0   0

Hiruk-pikuk di tubuh Partai Demokrat kembali menyeruak dipicu oleh hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Dalam rilis survei SMRC bertajuk Kinerja Pemerintah dan Dukungan Pada Partai; Trend Anomali Politik 2012-2013, menyatakan bahwa jika Pemilu diadakan sekarang maka Golkar akan mendapat 21,3%; PDIP 18,2%, sementara suara Partai Demokrat diprediksi terjun bebas di angka 8,3%. Survei ini dilaksanakan pada 6-20 Desember 2012.

Hasil survei SMRC seolah menjadi bola panas di internal Partai Demokrat. Posisi Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum kembali digoyang. Akankah Anas menjadi ketua umum partai pertama yang terjungkal oleh survei? Kita lihat saja perkembangannya. Ada hal menarik dari peristiwa ini, yaitu bagaimana kontribusi riset yang dipublikasikan secara luas melalui media massa bisa bermanfaat bagi masyarakat? Seberapa penting keberadaan bagian penelitian dan pengembangan (litbang) di sebuah media massa? Berikut ini sepintas pengalaman saya di media yang memperlihatkan peran litbang di media kita.

Salah satu babak penting inovasi pemberitaan di media elektronik Indonesia adalah penayangan quick count atau hitung cepat perolehan suara di pemilu 2004. Saya sebut penting karena lewat quick count ini banyak aspek saling terkait, misalnya: berjalannya instrumen demokrasi, pemantauan dinamika opini publik, penerapan metodologi statistik dalam meneropong proses politik, serta konvergensinya dengan industri pertelevisian.

Quick count merupakan metode yang dipakai untuk memprediksi siapakah pemenang dari sebuah pemilihan langsung kepala daerah (bupati/walikota/gubernur) dan presiden, serta berapa perolehan suara masing-masing kandidat? Quick count ini semakin marak seiring dengan pilkada langsung yang diterapkan di tanah air. Saya pernah mencermati kesibukan proses quick count pilkada DKI tanggal 16 Agustus 2007. Pilkada yang menjadi barometer politik di Indonesia ini, disambut dengan persiapan khusus oleh hampir seluruh stasiun televisi swasta nasional. Beberapa televisi bekerjasama dengan lembaga-lembaga survey yang jumlahnya juga semakin banyak. Metro TV misalnya bekerjasama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI), Trans TV dan Trans|7 bekerjasama dengan Litbang Kompas. Belum lagi stasiun-stasiun lain yang meng-up date langsung pantauan lembaga-lembaga lain macam: LP3ES, Lingkaran Survei Indonesia (LSI), dsb.

Pada hari-H pilkada DKI, kebetulan saya membantu pengaturan traffic data quick count yang ditampilkan dalam bentuk running text Trans TV. Trans TV dan Trans|7 menurunkan running text up date quick count tiap 10 menit mulai pukul 14.00 WIB, atau 1 jam setelah penutupan Tempat Pemungutan Suara (TPS). Dari ruang rapat Litbang di lantai 4 gedung pusat Kompas, Palmerah Selatan, saya mengikuti pergerakan perolehan suara dari tiap-tiap titik sample TPS.

Dari pukul 13.40 WIB, angka-angka di layar terus bergerak. Suara supervisor berbicara dengan petugas lapangan kian sibuk, input data semakin cepat. Akhirnya pada pukul 17.20 WIB seluruh perhitungan telah diverifikasi. Litbang Kompas mengeluarkan prediksi Fauzi Bowo – Prijanto menang dengan perolehan suara 57,76%, sedangkan Adang Daradjatun – Dani Anwar memperoleh suara 42,24%.

Hasil ini tak beda jauh dengan quick count lembaga-lembaga lain. “Inilah magic statistic” kata Hari-panggilan akrab manajer penelitian database Kompas, Hariadi Santoso. Quick count melandasi metodologinya pada ilmu statistik. Dengan quick count kita tidak membuat suatu rekapitulasi penghitungan suara pemilih di semua kotak TPS (seperti yang dilakukan KPUD), namun hanya menghitung sejumlah data riil pada sebagian kecil TPS yang dipilih secara random (acak) dengan teori statistik untuk memprediksi angka perolehan setiap kandidat.

Lembaga survei cukup mengambil sampel dari total populasi TPS. Misalnya dari 11.228 TPS di Jakarta dengan jumlah pemilih 5,6 juta penduduk, Litbang Kompas mengambil 250 TPS sample, LSI lebih banyak dengan 400 TPS sample. Hasil perhitungan suara dari TPS sample inilah yang digunakan untuk memprediksi siapa menang siapa kalah? Ilmu statistiklah yang digunakan dalam penentuan TPS sample. Bagaimana agar sampel yang dipilih bisa merepresentasikan populasi yang lebih besar. Representatif terhadap aspek demografi maupun geografi. Umumnya lembaga survei memakai metode statistik multistage random sampling (acak bertingkat). Dengan metode yang benar, sim salabim ternyata hasilnya tak meleset jauh dari penetapan KPUD DKI pada tanggal 16 Agustus 2007 yang menetapkan perolehan suara Fauzi Bowo sebesar 57,87%, sedangkan Adang Daradjatun sebesar 42,13%.

Peran litbang di media massa

Begitulah kini metodologi penelitian sudah kerap dipakai untuk meneropong proses dan perhelatan demokrasi di sebuah negara. Tidak hanya quick count, tetapi juga polling mengenai penerimaan masyarakat terhadap produk kebijakan dari pemerintah, tingkat popularitas dan akseptabilitas para pemimpin lembaga-lembaga negara di mata warganya. Media kemudian yang berperan mempublikasikan penelitian-penelitian tsb. Disinilah peran dan fungsi media sebagai alat kontrol sosial berjalan. Tidak semua media memang mampu melakukannya. Penelitian butuh biaya tak sedikit. Untuk quick count pilkada DKI saja, Kompas mengeluarkan dana tak kurang dari 200 juta. Litbang Kompas memperkirakan butuh dana 2 milyar untuk quick count Pilpres 2009. Kepercayaan masyarakat kepada lembaga maupun hasil quick count pada akhirnya sangat tergantung pada sumber pembiayaannya. Untuk menjaga independensi, quick count Kompas dalam pilkada DKI Jakarta ini dibiayai sendiri oleh Kompas. Dana besar itu tentu bermanfaat selain meningkatkan kredibilitas Kompas sebagai sebuah media, melalui data yang diperoleh dari quick count dapat digunakan sebagai landasan analisis terhadap kualitas proses pemilu secara keseluruhan dan mengidentifikasi penyimpangan yang dapat mempengaruhi hasil pemilu. Terakhir, meningkatkan kepercayaan terhadap proses pemilu dan hasil akhirnya.

Beberapa media sudah mempunyai litbang yang kuat, selain Kompas, Media Indonesia sudah serius membangun divisi penelitiannya. Secara berkala kedua media itu merilis polling mereka terhadap berbagai macam kebijakan pemerintah. Di media cetak penguatan litbang sangat penting untuk meningkatkan presisi dan kedalaman liputan jurnalistik pada isu-isu penting.

Televisi pun mulai membangun litbang ini. Tugas litbang di televisi umumnya selain menganalisis performa seluruh program, kaitannya dengan kompetisi antar stasiun, juga mensurvei minat pemirsa. Misalnya ada bagian riset komunitas yang bertugas meneliti secara kuantitatif maupun kualitatif minat pemirsa. Hal ini berguna untuk mengetahui titik jenuh suatu trend yang diangkat sebagai content tayangan, menggali topik-topik potensial yang disesuaikan dengan segmentasi program acara, dsbnya. Secara berkala diadakan focus group discussion (FGD) dari sample pemirsa televisi yang diambil dari perwakilan pemirsa dari berbagai macam status sosial ekonomi, pendidikan, jenis kelamin, hingga umur. Hasil FGD inilah yang kemudian dijadikan masukan bagi program-program acara untuk merumuskan strategi penyusunan content tayangan. Melihat pentingnya litbang, media massa bisa bekerjasama dengan lembaga lain, atau memperkuat divisi litbang yang sudah mereka punya.

Sebuah tantangan di masa mendatang bagi media massa Indonesia untuk memperkuat divisi litbang dalam kerangka meningkatkan presisi jurnalismenya. Riset yang kredibel mampu meneropong opini publik secara akurat. Melalui peran media massa yang merilisnya, riset ini bisa dijadikan acuan oleh seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) dan sebagai sarana menunjukkan partisipasi serta keinginan masyarakat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Peran Kita untuk Menghindari Jebakan Negara …

Apung Sumengkar | | 01 August 2014 | 15:26

Tunjangan Profesi Membunuh Hati Nurani …

Luluk Ismawati | | 01 August 2014 | 14:01

Empat Cincin Jantungnya Masuk Lewat Pembuluh …

Posma Siahaan | | 01 August 2014 | 13:46

B29: Medan Ekstrim Intip Keindahan Bromo …

Teguh Hariawan | | 01 August 2014 | 08:09

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Kader PKS, Mari Belajar Bersama.. …

Sigit Kamseno | 13 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 14 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: