Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Menanti Reaksi Aher & PKS terhadap Tempo

OPINI | 26 February 2013 | 00:34 Dibaca: 6209   Komentar: 229   15

1361812042365446087
Majalah TEMPO edisi RUNYAM AHER Bank Dibobol, Edisi 25 Februari - 3 Maret 2013.

Ketika orang bicara tentang Netty Prasetyani yang menjanjikan peti mati bagi suaminya, Ahmad Heryawan (AHER), apabila pulang ke rumah dengan membawa uang hasil korupsi, sejujurnya saya tak terlalu tertarik untuk menyimaknya. Saat ada yang yakin kalau AHER bakal memenangkan Pilgub Jawa Barat periode 2013-2018, saya pun biasa-biasa saja. Tapi, begitu membaca message BB teman, soal harga Majalah TEMPO yang disebut-sebut mencapai Rp 60 ribu untuk edisi yang terbaru, saya langsung beraksi, buru-buru ikutan membeli. Pffiiiiiuuuhhhhh … beruntung di lapak itu harganya normal.

* * *

Sampul muka Majalah TEMPO dengan warna dominan kuning ini memuat ilustrasi gambar AHER sedang memegang buku tabungan Bank Jabar dan Banten (BJB). Judulnya: RUNYAM AHER : BANK DIBOBOL. Inilah majalah edisi 25 Februari - 3 Maret 2013. Rubrik LAPORAN UTAMA majalah ini dimuat pada halaman 34 - 47, termasuk ada dua halaman iklan yang full satu halaman. Bolehlah disebut, terdiri dari lima bahagian tulisan. Dimana penulisannya, sudah jelas berbentuk investigative reporting. Kelima bahagian tulisan tersebut adalah:

* * *

13618130181127534017
LAPORAN UTAMA Majalah TEMPO edisi 25 Februari - 3 Maret 2013.

1. Tulisan berjudul: KREDIT LANCUNG DAN JANJI PETI MATI. Pada lead-nya tertulis: Bank Indonesia menemukan kejanggalan dalam pengajuan dan pencairan kredit sebuah perusahaan suku cadang di Sukabumi. Diduga ada permainan politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan bank pemberi kredit.

Dalam naskah ini, TEMPO mewawancarai Ketua Budget Government Watch Dedi Haryadi tentang dugaan kredit bermasalah Bank Jabar untuk Koperasi Bina Usaha bentukan PT Alpindo Mitra Baja. Pinjaman sebesar Rp 38,7 miliar pada 2012 itu rencananya dipakai untuk usaha simpan-pinjam 600-an karyawan perusahaan suku cadang alat berat tersebut dan 6.200 nasabahnya. “Pencairan kreditnya begitu mudah karena diduga ada campur tangan sebagai pemilik saham mayoritas,” ujar Dedi. (hal 36)

Selain itu, TEMPO juga melakukan konfirmasi ke sejumlah narasumber berkompeten (termasuk Bupati Banjar Herman Sutrisno yang memiliki 0,34 persen saham), terkait sinyalemen Budget Government Watch bahwa sebagai pemegang saham terbesar, AHER leluasa mempengaruhi kebijakan Bank Jabar. AHER, misalnya, bisa merombak susunan direksi dan komisaris bank daerah paling sehat di Indonesia ini. (hal 37)

* * *

13618133451976819629
LAPORAN UTAMA Majalah TEMPO, edisi 25 Februari - 3 Maret 2013.

2. Tulisan berjudul: KREDIT MENGALIR SAMPAI MANA. Sebenarnya, ini adalah paparan tabel grafis yang menggambarkan bagaimana aliran proses pengajuan permohonan kredit dari PT Alpindo Mitra Baja senilai Rp 376 miliar; dan pinjaman Koperasi Bina Usaha sebesar Rp 38,7 miliar. Dua-duanya ditujukan kepada PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJB) Tbk.

Dibawah judul KREDIT MENGALIR SAMPAI MANA, terdapat (hanya) satu paragraf naskah yang bertuliskan: BANK JABAR dan Banten diduga tak hati-hati mencairkan kredit untuk Koperasi Bina Usaha PT Alpindo Mitra Baja. Audit Bank Indonesia sepanjang Agustus-November 2012 menyimpulkan pinjaman sebesar Rp 38,7 miliar itu “memiliki unsur penyimpangan serius”. PT Alpindo adalah perusahaan pembuat suku cadang alat berat yang didirikan pada 1996 di Cisaat, Sukabumi. Perusahaan yang berkembang sebagai  industri rumahan binaan Astra International inimilik Ayep Zaki , simpatisan Partai Keadilan Sejahtera. Kredit bisa cair dengan mudah meski banyak kejanggalan karena Ayep dikawal orang-orang dekat Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat, pemilik 38,26 persen saham BJB.

* * *

13618131011626992173

Foto pertemuan itu. LAPORAN UTAMA Majalah TEMPO edisi 25 Februari - 3 Maret 2013.


3. Tulisan berjudul: TRANSFER RAHASIA BUAT USTAD. Lead-nya berbunyi: Tersangka pembobol Bank Jabar dan Banten membeberkan kedekatannya dengan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera. Memiliki bukti pengiriman uang miliaran rupiah.

Naskah ini dilengkapi dengan foto yang menampakkan (rapat) pertemuan di meja besar antara Luthi Hasan Ishaaq, Ahmad Fathanah, dan Yudi Setiawan. Dimuat pula ‘Surat pemberitahuan persetujuan pemberian kredit atas nama PT Cipta Inti Parmindo’, dan ‘Tanda bukti cek yang diterima Ahmad Fathanah dari Yudi Setiawan’. Tercantum nilai Rp 950 juta, tertanggal 25-09-2012.

Siapa Yudi Setiawan? Pria berusia 35 tahun ini adalah Direktur Utama Cipta Inti Parmindo yang sekarang mendekam di LP Teluk Dalam, Banjarmasin, Kalsel. Ia menjadi tersangka proyek pengadaan alat peraga dan sarana penunjang pendidikan di Dinas Pendidikan Kabuapten Barito Kuala, Kalsel, pada tahun lalu.

Di Jakarta, Yudi juga terjerat. Kejaksaan Agung pada 22 Januari lalu menjadikan dia dan tiga orang lain sebagai tersangka kasus korupsi penggunaan kredit BJB senilai Rp 55 miliar.

Selain wawancara langsung dengan Yudi, dikutip pula hasil interview dengan Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Setia Untung Arimuladi. Menurutnya, kasus ini bermula saat Cipta Inti Parmindo mengajukan permohonan kredit di BJB Cabang Surabaya untuk pembiayaan proyek pengadaan pakan ikan di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Proses pengucuran kredit inilah yang melanggar prosedur. “Verifikasi dalam analisis pemberian kredit tidak sesuai dengan fakta,” kata Kapuspenkum Kejakgung.

Sementara dari sisi Yudi terungkap, bahwa perusahaannya pada awalnya memang memerlukan dana untuk pembiayaan sejumalh proyek di beberapa instansi. Dari penghitungan rasio keuangan dan kemampuan membayar, diperkirakan kebutuhan modal kerja perusahaan sebesar Rp 76 miliar. “Namun saat permohonan diajukan, tanpa diminta, bank menaikkan plafon menjadi Rp 250 miliar,” katanya. (hal 41)

* * *

13618129201463461597

Wawancara singkat TEMPO dengan AHER.

4. Tulisan wawancara singkat berjudul: AHMAD HERYAWAN: ITU FITNAH BESAR. Isinya jelas bantahan AHER mengenai dugaan bahwa dirinya mengetahui skandal pembobolan kredit BJB. Berikut sejumlah kutipan bantahan AHER: “Kalau soal itu, saya enggak mau. Itu fitnah besar. Saya bisa melawan. Maaf, saya enggak mau itu”.

Bahkan ketika ditanya, Bank Indonesia menemukan manipulasi kredit di BJB, sontak AHER memotong dan berkata, “Saya enggak tahu. Itu urusan manajemen Bank Jabar. Mereka yang tahu. Jangan tanya saya. Yang saya tahu saham Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bank itu. Mau tahu berapa? Tiga puluh delapan persen!”

* * *

5. LAPORAN UTAMA ini kemudian ditutup dengan tulisan OPINI dua halaman milik Burhanuddin Muhtadi berjudul PKS, ANTARA IDEOLOGIS DAN ELEKTORALIS. Burhanuddin adalah peneliti serta penulis buku “Dilema PKS : Suara dan Syariah” (2012).

* * *

Saya menahan diri untuk tidak mengomentari content kasus di atas. Kecuali, hanya ingin melihat sejauhmana awak redaksi TEMPO menurunkan sebuah karya jurnalisme reportase investigasi. Hasilnya? Secara umum, reportase investigasi yang ‘dimainkan’ TEMPO pada edisi ini sudah merangkum kronologis secara runut sekaligus mencari fakta plus data kebenaran yang sesungguhnya kepada narasumber terkait.

Meskipun, pada awal paparannya kesan bahwa TEMPO menjadi ‘media perpanjangan’ atas temuan Budget Government Watch menjadi teramat kuat. Akan tetapi, hal ini sah-sah saja karena pada dasarnya reportase investigasi mengartikan kegiatan orang melaporkan adanya “jejak-jejak kaki” peristiwa tertentu dari tempat kejadian perkara. Dengan kata lain, reportase investigasi memang merupakan sebuah kegiatan peliputan yang mencari, menemukan, dan menyampaikan fakta-fakta pelanggaran, kesalahan, atau kejahatan yang merupakan kepentingan umum atau masyarakat.(Septiawan Santana H, “Jurnalisme Investigasi”, Buku Obor, 2009).

LAPORAN UTAMA Majalah TEMPO kali ini jelas sebuah pengumpulan dan penggalian informasi, yang dalam pandangan Melvin Mencher dalam News Reporting and Writing (1997), disebut sebagai upaya untuk membantu masyarakat memahami kejadian yang mempengaruhi kehidupan mereka. Penggalian membawa para reporter untuk melakukan sejumlah hal, diantaranya:

(1). SURFACE FACTS (penelusuran fakta-fakta dari sumber orisinal, seperti pelbagai rilis berita, catatan-catatan tangan, dan pelbagai omongan/speeches).

Dalam kaitan LAPORAN UTAMA ini, TEMPO melakukan Surface Facts dengan memuat hasil temuan Budget Government Watch sekaligus mewawancarai ketuanya. Juga menelusuri fakta dari sumber-sumber orisinal seperti dengan Yudi Setiawan (tersangka tersangka kasus korupsi penggunaan kredit BJB), AHER, Herman Sutrisno (Bupati Banjar), karyawan PT Alpindo Mitra Baja, Kapuspenkum Kejakgung, Ketua Badan Pemenangan Pemilu PKS, dan kuasa hukum mereka yang terkait. Termasuk kutipan dari Mantan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bandung, serta Kepala Divisi Sekretaris Korporasi Bank Jabar.

Puncaknya, TEMPO memperoleh foto pertemuan antara Luthfi Hasan Ishaaq, Ahmad Fathanah, dan Yudi Setiawan. Juga, dua carik dokumentasi keuangan yang terkait. Baik foto maupun bukti administrasi keuangan tadi, teramat sangat mendukung pengembangan dan pembangunan fakta-fakta.

(2). REPORTORIAL ENTERPRISE yang meliputi kerja memverifikasi, menyelidiki, meliput kejadian-kejadian mendadak (spontaneous), mengamati latar belakang. Jelas bahwa TEMPO melakukan hal-hal ini dalam jurnalisme reportase investigasinya, seperti misalnya, menyelidiki kantor PT Cipta Inti Parmindo di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan di Surabaya, yang sudah tak ada aktifitas lagi.

* * *

Secara kasat mata, jelas bahwa TEMPO sudah memberikan kesempatan kepada PKS untuk ‘berbicara’ melalui Yudi Widiana Adia, anggota DPR dan Ketua Badan Pemenangan Pemilu PKS. Dan yang terpenting lagi, juga sudah (berusaha) mewawancarai secara khusus AHER, namun AHER mengajukan syarat “bukan soal di luar pemilihan gubernur”. Meski demikian, wawancara singkat dengan AHER tetap dimunculkan sebagai upaya memenuhi aspek keadilan (fairness) dan keseimbangan (balancing) sebagai kewajiban dalam sebuah karya jurnalistik yang kredibel (credible).

Memang, jadi agak garing juga membaca LAPORAN UTAMA majalah TEMPO ini karena kurang mendalamnya wawancara, baik dengan pihak PKS, AHER, Direksi BJB, dan juga Bank Indonesia-nya. Kendalanya boleh jadi karena deadline terbit majalah yang mepet, atau narasumber yang tutup mulut, atau menolak diwawancarai.

Uniknya, dalam LAPORAN UTAMA itu, yang justru muncul adalah telaahan Burhanudin Muhtadi. Tulisan Opini ini sebenarnya lebih membedah beda pandangan antar kubu di internal PKS. Sehingga maaf, kalau saya berpandangan, agak kurang mendukung bangunan cerita, fakta dan data LAPORAN UTAMA yang justru melibatkan PKS dengan belitan faktor eksternalnya. Meskipun, tak ada masalah juga dengan Opini yang sudah dimuat karena berhasil membangun pengetahuan publik tentang realita di internal PKS.

Akhirnya, kita berharap, baik AHER maupun PKS bersedia memberi jawaban lugas dan terbuka melalui Majalah TEMPO edisi berikutnya. Entah itu berupa hak jawab, atau kesediaan untuk di-interview terkait sinyalemen kasus ini. Kecuali, AHER yang ternyata (agak) emosional benar-benar akan membuktikan pernyataannya bahwa dirinya bisa melawan! Maka boleh jadi muncul gugatan, tuntutan, dan proses hukum pun berjalan.

Sementara, dari sisi PKS? Apakah punya nyali untuk ‘melawan balik’ TEMPO? Sama-sama kita tunggu… #sambil nyeruput kopi yang mulai dingin#

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lebaran Sederhana ala TKI Qatar …

Sugeng Bralink | | 30 July 2014 | 22:22

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 7 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 9 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 11 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 13 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: