Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Amalia Novita

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Universitas Brawijaya Malang

Pantomim: Pesan dalam Diam

OPINI | 12 March 2013 | 07:36 Dibaca: 328   Komentar: 0   0

Pantomim merupakan kesenian yang sudah mulai jarang kita nikmati dewasa ini. Mulai “sepinya” peminat pertunjukan yang menyuguhkan aksi-aksi seniman “diam” ini. Hal ini juga tidak jauh dari adanya banyak teknologi canggih yang mulai menyediakan hiburan elektronik yang lebih menarik.

Sejatinya pantomim juga tidak dapat dipandang sebelah mata begitu saja. Banyak hal yang dapat diambil pelajaran dari kesenian ini. Tidak hanya menyuguhkan pertunjukan sebagai hiburan, namun juga syarat akan pesan-pesan dalam kesenian ini. Saat ini sudah mulai banyak pantomim dipakai ketika melakukan aksi protes terhadap pemerintah. Tidak hanya itu, pantomim juga digunakan sebagai sarana kampanye.

Kampanye yang biasa digunakan dengan menggunakan pantomim adalah kampanye-kampanye sosial seperti hari bumi, larangan merokok, hari gizi, hari aids, dan masih banyak kegiatan sosial yang dalam penyampaian pesannya menggunakan pantomim ini.

Selain kampanye sosial, aksi protes terhadap pemerintah juga menggunakan media kesenian ini. Seperti sering kita lihat di televisi tentang aksi protes dengan menggunakan media kesenian ini.

Mungkin tidak semua orang paham dengan arti dari setiap gerakan-gerakan dari kesenian pantomim. Namun jika kita mau lebih cermat justru dari sini kita bisa mengkomunikasikan sesuatu dengan lebih lugas dan sejujurnya. Karena terkadang jika kita menyampaikan sebuah pesan dengan ucapan, tidak semua orang dapat mendengar dan tidak semua orang dapat mengerti dengan apa yang kita maksudkan.

Seperti dalam salah satu aksi peringatan Hari Gizi di Bandung ini. Dimana beberapa aktor pantomim melakukan atraksi mereka dengan melakukan aksi-aksi dan gerakan-gerakan yang menceritakan betapa Indonesia masih sangat banyak anak-anak bahkan masyarakatnya yang memngalami gizi buruk. Tentunya dengan menggunakan beberapa properti sebagai penunjang, penyampaian pesan ini dapat lebih dipahami dan mendapat resppon baik dari masyarakat. Alat yang digunakan adalah printout foto anak-anak penderita gizi buruk dan beberapa roti yang bercecer. Dari sini menarik minat para pengguna jalan dengan sedikit memperhatikan aksi tersebut.

Sejatinya maksud dari aksi ini adalah bahwa masyarakat mulai merasa bosan dengan aksi protes dengan pengeras suara yang tidak pernah didengarkan sedikitpun. Dan dengan begini akhirnya mereka memilih untuk melakukan aksi dengan pertunjukan teaterikal yakni melalui media pantomim ini. Oleh karena itu pantomim ini mulai banyak dipakai oleh beberapa aktifis dan mahasiswa ketika melakukan protes terhadap kebijakan pemerintah atau apapun yang tidak sesuai. Bicara keras sudah tidak digubris, lebih baik diam dan menunjukkan dengan tindakan!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | | 23 November 2014 | 12:04

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Inilah 3 Pemenang Blog Movement “Aksi …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 10:12


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 10 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 18 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 20 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Di Bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 13 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 13 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 13 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 13 jam lalu

Peniti Community, Wadah Kompasianer …

Isson Khairul | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: