Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Amalia Novita

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Universitas Brawijaya Malang

Pantomim: Pesan dalam Diam

OPINI | 12 March 2013 | 07:36 Dibaca: 333   Komentar: 0   0

Pantomim merupakan kesenian yang sudah mulai jarang kita nikmati dewasa ini. Mulai “sepinya” peminat pertunjukan yang menyuguhkan aksi-aksi seniman “diam” ini. Hal ini juga tidak jauh dari adanya banyak teknologi canggih yang mulai menyediakan hiburan elektronik yang lebih menarik.

Sejatinya pantomim juga tidak dapat dipandang sebelah mata begitu saja. Banyak hal yang dapat diambil pelajaran dari kesenian ini. Tidak hanya menyuguhkan pertunjukan sebagai hiburan, namun juga syarat akan pesan-pesan dalam kesenian ini. Saat ini sudah mulai banyak pantomim dipakai ketika melakukan aksi protes terhadap pemerintah. Tidak hanya itu, pantomim juga digunakan sebagai sarana kampanye.

Kampanye yang biasa digunakan dengan menggunakan pantomim adalah kampanye-kampanye sosial seperti hari bumi, larangan merokok, hari gizi, hari aids, dan masih banyak kegiatan sosial yang dalam penyampaian pesannya menggunakan pantomim ini.

Selain kampanye sosial, aksi protes terhadap pemerintah juga menggunakan media kesenian ini. Seperti sering kita lihat di televisi tentang aksi protes dengan menggunakan media kesenian ini.

Mungkin tidak semua orang paham dengan arti dari setiap gerakan-gerakan dari kesenian pantomim. Namun jika kita mau lebih cermat justru dari sini kita bisa mengkomunikasikan sesuatu dengan lebih lugas dan sejujurnya. Karena terkadang jika kita menyampaikan sebuah pesan dengan ucapan, tidak semua orang dapat mendengar dan tidak semua orang dapat mengerti dengan apa yang kita maksudkan.

Seperti dalam salah satu aksi peringatan Hari Gizi di Bandung ini. Dimana beberapa aktor pantomim melakukan atraksi mereka dengan melakukan aksi-aksi dan gerakan-gerakan yang menceritakan betapa Indonesia masih sangat banyak anak-anak bahkan masyarakatnya yang memngalami gizi buruk. Tentunya dengan menggunakan beberapa properti sebagai penunjang, penyampaian pesan ini dapat lebih dipahami dan mendapat resppon baik dari masyarakat. Alat yang digunakan adalah printout foto anak-anak penderita gizi buruk dan beberapa roti yang bercecer. Dari sini menarik minat para pengguna jalan dengan sedikit memperhatikan aksi tersebut.

Sejatinya maksud dari aksi ini adalah bahwa masyarakat mulai merasa bosan dengan aksi protes dengan pengeras suara yang tidak pernah didengarkan sedikitpun. Dan dengan begini akhirnya mereka memilih untuk melakukan aksi dengan pertunjukan teaterikal yakni melalui media pantomim ini. Oleh karena itu pantomim ini mulai banyak dipakai oleh beberapa aktifis dan mahasiswa ketika melakukan protes terhadap kebijakan pemerintah atau apapun yang tidak sesuai. Bicara keras sudah tidak digubris, lebih baik diam dan menunjukkan dengan tindakan!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 3 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 5 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 7 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 8 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 8 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: