Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Abdul Madjid

Di hadapan Tuhan aku hanya sebutir debu yang tak berarti. Wartawan yg tak henti belajar, selengkapnya

Goro-goro

OPINI | 17 April 2013 | 10:29 Dibaca: 799   Komentar: 0   0

Pagi ini, saya nonton tayangan acara “Tempo Hari” di TV One. Terus terang, saya baru pertama ini menonton acara tersebut. Sekilas dapat saya duga bahwa acara tersebut berkaitan dengan ulasan atau cerita masa lampau. Narasumber acara “Tempo Hari” pagi ini, Rabu, 17 April 2013, adalah Permadi, SH., tokoh paranormal yang Soekarnois.

Pembawa acara menanyakan banyak hal kepada Permadi. Mantan anggota DPR-RI dari PDIP itu menjawab pertanyaan dengan menceritakan berbagai benda-benda pusaka baik itu berbentuk keris dan batu-batu akik, tak ketinggalan tentu saja Permadi menceritakan pula tentang sosok idolanya: Bung Karno.

Menurut Permati, setelah kejatuhan Bung Karno pada 1965, Indonesia mengalami Jaman Edan. Sekarang adalah puncaknya jaman edan. Itu ditandai oleh makin maraknya korupsi, kolusi, nepotisme, hilangnya budi pekerti dll, yang intinya adalah kekacauan di segala lini kehidupan, baik itu sosial, politik, ekonomi, budaya, hokum dan tatanan kehidupan di masyarakat.

Puncak jaman edan ini akan diakhiri oleh sebuah peristiwa besar yang disebut oleh Permadi adalah “Goro-Goro”. Goto-goro adalah situasi kacau balau, bakar-bakaran, bunuh-bunuhan, hancur-hancuran dan memporak-porandakan tatanan yang ada sekarang.

Menurut Permadi, Bung Karno pernah mengatakan (sebelum kejatuhannya) bahwa revolusi belum selesai. Mungkin, goto-goro itulah saatnya revolusi diselesaikan. Berarti aka nada perubahan total, radikal, dan besar-besaran di Indonesia menyangkut bidang ekonomi, politik, sosial, budaya dan birokrasi.

Menurut tokoh paranormal itu, goro-goro tersebut waktunya sudah sangat dekat. “Tidak sampai 2014,” katanya.

Beberapa bulan lalu, saya pribadi juga punya pendapat yang saya sampaikan kepada teman-teman dekat bahwa menjelang 2014 bakal ada peristiwa besar di negeri kita. Pendapat saya itu bukan berdasarkan wangsit atau analisis intelijen. Sebagai orang biasa, tidak berilmu, dan tidak punya pisau analisa politik dan intelijen tentu saja pendapat saya itu ngawur-ngawuran alias asal omong.

Pendapat saya itu berdasar satu hal yang saya lihat. Mungkin pembaca akan menertawakan saya. Yang saya lihat itu hamper sama dengan yang saya lihat dan pada tahun 1996/97, yakni perekrutan calon anggota Brimob secara besar-besaran. Pada periode 1996 sampai 1997, Mabes Polri merekrut ribuan pemuda untuk dididik menjadi Brimob, sepertinya mempersiapkan sumberdaya untuk menjawab sesuatu. Ternyata, pada 1998 terjadi peristiwa reformasi yang dilanjutkan dengan kekacauan pada 1999.

Nah, tahun 2012 sampai tahun ini 2013, Mabes Polri kembali melakukan perekrutan ribuan calon anggota Brimob ditambah Dalmas. Menurut berita yang saya baca di berbagai media, saat ini Polri membutuhkan tambahan 25.000 personil yang akan dialokasikan sebagian besar ke Brimob, Polairud, dan Sabhara (Dalmas). Bahkan, level kepangkatan tamtama yang beberapa tahun lalu ditiadakan, sekarang diaktifkan lagi dengan perekrutan baru ini.

Saya berpendapat, bahwa apa yang dilakukan Polri tersebut berdasarkan analisa intelijen tentang perkiraan keadaan (kirka) menjelang pergantian pemimpin nasional 2014. Oleh karena itu, saya berkesimpulan (pendapat pribadi) bahwa menjelang 2014 atau tepat pada 2014 bakal terjadi kekacauan nasional dengan eskalasi lebih besar dibanding pada 1998-1999.

Apa yang dikatakan oleh Permadi, SH., bahwa bakal terjadi Goro-goro di Indonesia, saya sependapat kemungkinan itu bakal terjadi. Saya tidak bisa menjelaskan mengapa goro-goro bakal terjadi, karena saya orang bodoh yang tidak punya dasar-dasar analisa, hanya naluri dan sedikit bisa “membaca” fenomena saja.

Goro-goro, menurut Permadi, akan diikuti munculnya pemimpin sejati atau Satrio Piningit. “Sekarang sudah saatnya. Satrio Pingingit sudah dewasa, sudah waktunya tampil di panggung,” katanya ketika diwawancarai TV One dalam acara “Tempo Hari.

Akhirul kalam, bagi pembaca yang anti terhadap ramal-meramal, mohon jangan menghujat saya dan menuduh saya khurafat, bid’ah, kafir atau apapun yang dianggap melawan ajaran agama. Tulisan saya ini semata untuk menyampaikan pandangan pribadi berdasarkan apa yang saya lihat dan tonton di sekeliling kita.

Tags: ramal

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Topeng Politik Langsung Terbuka di Hari …

Hanny Setiawan | 8 jam lalu

Anggota DPR Ini Seperti Preman Pasar Saja …

Adjat R. Sudradjat | 10 jam lalu

SBY Ngambek Sama Yusril, Rahasia Terbongkar, …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 13 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Sebuah Cinta yang Terlarang #14 ; Cuma …

Y.airy | 8 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 8 jam lalu

“Menjadi Indonesia” dengan Batik …

Hendra Wardhana | 9 jam lalu

Dzikir Seorang Perokok …

Ahmad Taufiq | 9 jam lalu

Superbike R-25, Solusi untuk Gerak Cepat …

Zulfikar Akbar | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: