Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

M. Rasyid Nur

M. Rasyid Nur, pendidik yang bertekad "Ingin terus belajar dan belajar terus". Silakan juga diklik: selengkapnya

Iklan ARB Menjatuhkan ARB

OPINI | 27 April 2013 | 15:30 Dibaca: 3173   Komentar: 50   7

WALAUPUN tidak ada yang salah dengan iklan ARB (Aburizal Bakri) tapi terasa ada yang mengganggu. Setidak-tidaknya, perasaan saya atau orang yang seperasaan dengan saya merasa iklan itu tidak membuat ARB semakin berelektabilitas tinggi malah sebaliknya. Kalaupun iklan itu mendongkrak popularitas ARB tapi belum tentu menaikkan elektabilitasnya.

Iklan ARB belakangan memang kian gencar. Di televisi, khususnya TV One dan Tv lainnya yang seikatan modal dengannya hampir setiap jeda acara muncul penayangannya. Ada yang langsung diperankan oleh sosok ARB dan ada pula yang diperankan oleh anak-anak dan menantu atau isterinya serta beberapa koleganya di Partai Golkar. Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan iklan itu. Tidak ada juga peraturan yang dilanggarnya.

Bagi pemirsa televisi memang tidak selalu salah-tidaknya iklan itu yang menjadi perhatian. Tapi rasa bosan dan jengkel menyaksikan iklan itulah yang menjadi perhatian. Rasanya dongkol juga hal yang sama terlihat dan disampaikan berulang-ulang. Apalagi ada iklan ARB yang terlalu menyanjung ARB dengan cara merendahkan tokoh lain yang sesungguhnya lebih penting dari pada ARB sendiri. Mengagumi ayah dengan menganggap pahlawan tidak sehebat sang ayah, ini jelas tidak patut. Pernyataan ini tidak akan membuat pemirsa terkagum-kagum pada sang ayah kekaguman kepada pahlawan diletakkan di bawah sang ayah.

Iklan ARB digenjot kelihatannya memang untuk mengejar target elektabilitas tertentu. Dari survey-survey yang ditampilkan media ARB memang tidak pernah bisa berada di puncak berbanding banyak tokoh lainnya. Ini memang mengecewakan pengusungnya, khususnya Partai Golkar yang jauh-jauh hari sudah memutuskan ARB sebagai jago dalam Pilpres 2014. Jika elektabilitas ARB tidak juga kunjung meningkat sementara Pemilu kian dekat, tentu saja akan membuat khawatir partai kuning ini. Golkar sudah sangat ingin berkuasa seperti jaman Orba dulu itu.

Sesungguhnya iklan ARB hanya sebatas meningkatkan popularitas Bakri. Dengan penayangan berulang-ulang sosok Bakri alias Ical di banyak televisi memang akan membuat sosoknya banyak dikenal. Akan semakin bertambah pemirsa mengenalnya. Tapi konskuensi dari kian banyaknya orang mengenalnya belum tentu akan menambah jumlah orang yang mengangumi dan menyenanginya. Apalagi sampai memutuskan akan memilihnya pada Pemilu nanti, belum tentu.

Justeru dengan kian lebih terkenalnya ARB maka kian akan terbuka pula mata pemirsa Indonesia. Jika selama ini rakyat Indonesia tidak terlalu mengerti siapa itu ARB, loama-lama orang akan kian tahu. Borok-boroknya yang banyak diulas dan dicatat di media masa akan kian diketahui masyarakat. Bakri memang tidak akan bisa melepaskan diri dari ‘drama seri’ Lumpur Lapindo. Belum lagi dugaan manipulasi pajak di banyak perusahaan yang terkait dengannya.

Saya lebih percaya kepada pernyataan seorang teman bahwa iklan ARB tidak akan pernah mampu menaikkan tingkat keterpilihan ARB berbanding tokoh-tokoh yang bahkan tidaki pernah membuat iklan tentang dirinya di televisi. Iklan ARB justeru akan menambah jumlahorang yang tidak suka kepada ARB yang berarti mengurangi tingkat elektabilitasnya. Jika demikian, berarti iklan ARB bukannya menaikkan malah menjatuhkan ARB sendiri.

Akan lebih elegan kalau ARB memperbanyak pengabdiannya kepada bangsa ini secara kongkret. Ada banyak rakyat yang memerlukan perhatian karena keterpurukan ekonomi dan kehidupan. Membuktikan saja dalam memberi bantuan yang ikhlas tanpa berpikir akan dipilih dalam Pemilu nanti mungkin jauh lebih baik dan akan membuat tingkat elektabiltasnya meningkat. Bahkan jika pun tidak diusulkan Partai Golkar menjadi calon presiden, lakukan saja pengabdian tingkat tinggi demi bangsa dan  negara ini, pastilah rakyat akan lebih menyenanginya.

Dengan memaksakan popularitas lewat iklan yang sudah jelas rekayasa belaka justeru akan membuat rakyat jengkel. Sekurang-kurangnya, pemirsa yang merasa terganggu oleh penayangan iklan itu akan berdoa agar ARB tidak akan pernah menjadi presiden. Belum lagi isi iklannya yang juga bisa menimbulkan rasa jengkel. Jadi, jika ARB hanya mengandalkan iklan semata tapi tidak berbuat apa-apa untuk rakyat dan bangsa ini maka iklan itu hanya sekedar akan menjatuhkan saja. Tidak akan menaikkan. Benarkah?***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 8 jam lalu

Saatnya Import Substitution Strategy untuk …

Ahmad Mikail | 8 jam lalu

Jangan Bakar Jembatan …

Bonekpalsu | 8 jam lalu

Kios Pasar Pon Diperjual Belikan Oknum …

Fajar Agustyono | 9 jam lalu

Kuda-kuda yang Terluka …

Feri Sapran | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: