Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Sutomo Paguci

Pewarta warga mukim di Padang | Advokat | Nonpartisan | Menulis sebagai rekreasi

Uje Wafat: Eksploitasi Kesedihan oleh Media

OPINI | 28 April 2013 | 12:25 Dibaca: 2993   Komentar: 64   18

Televisi mulai kebablasan. Media online juga. Semua tak henti memberitakan meninggalnya ustad Jefry Al Buchori atau yang akrab dipanggil Uje. Hampir semua chanel televisi memberitakannya siang malam, termasuk televisi berita yang biasanya “intelek”.

Saking kebablasannya bahkan soal firasat kematian Uje pun diberitakan. Dimana disebutkan ibunda Uje berfirasat Uje sudah pamitan dengan pemberian uang Rp.500 ribu dst. Apa media tak tahu bahwa firasat bukan fakta dan secara etika tak boleh diberitakan?

Yang juga tak enak hati melihatnya adalah, saat jurnalis mewawancarai ibu dan keluarga korban (Uje). Apa tidak sungkan menanyai aneka rupa saat orang lagi berduka. Mbok ya dikasih waktu orang lagi berduka untuk mengambil nafas gitu loh.

Lagian mengapa pula memberitakan kedukaan berpanjang-panjang, segala segi dibahas, dari firasat, pemberian uang Rp500 ribu, honor pertama Uje dakwah sebesar Rp35 ribu, dst selama berjam-jam dalam tiga hari siang malam. Dan entah kapan kehebohan ini berakhir.

Kedukaan itu pahit. Kepahitan itu begitu sulit ditelan oleh jiwa di masa-masa awal kematian orang yang dicintai. Istri Uje saja sampai dua kali pingsan. Apa tak lebih baik keluarga korban dibiarkan hening dari hingar pemberitaan dan buruan jurnalis.

Ah, semoga Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyikapi eksploitasi kesedihan di media demikian dengan baik. Semoga media pun introspeksi diri, terutama dalam menerapkan standar etika yang ketat.

Publik seperti saya perlu juga asupan berita yang lain. Banyak ketimpangan sosial, mafia hukum, jual beli jabatan, infrastruktur yang terbengkalai dst. Semua butuh porsi pemberitaan.

Uje sudah menuntaskan pengabdiannya di dunia dan insya Allah sudah tenang di alam kubur. Media, sudahlah, hentikan eksploitasi duka demikian.

(SP)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Getar Aura Mistis di Sudut Pantai Baron …

Teguh Hariawan | | 21 September 2014 | 07:00

Biang Macet Kota Bogor …

Cucum Suminar | | 21 September 2014 | 07:16

Kompasiana - Yamaha Nangkring Heboh …

Rahmat Hadi | | 20 September 2014 | 21:49

Bingung Mau Buka Usaha Apa? Ini Caranya …

Yos Asmat Saputra | | 21 September 2014 | 06:39

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 7 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 23 jam lalu

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 20 September 2014 13:00


HIGHLIGHT

Cinta Cenat Cenut di Usia Matang Manggis …

Fidiawati | 7 jam lalu

Cognitive Neuroscience: Entrance Gate of …

Wahyu Riska Elsa Pr... | 7 jam lalu

Dari Masa ke Masa? …

Fajar Ayu | 7 jam lalu

Budak Gadget …

Yahya Farida | 7 jam lalu

Dharmasraya dan Potensinya Menjadi …

Zulfadli Adha.sp | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: