Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Septin Puji Astuti

Tidak ada yang lebih istimewa selain menjadi ibu dari empat anak

Sejauh Mana Tulisan di Kompasiana Bisa dijadikan Rujukan Penelitian Ilmiah?

HL | 03 May 2013 | 15:36 Dibaca: 642   Komentar: 69   11

13675807511414066714

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Tulisan ini melanjutkan tulisan sebelumnya. Ini agar tidak terjadi kesalahan pemahaman.

Mereview kembali tulisan sebelumnya, di akhir kalimat dituliskan:

Jadi apakah tulisan Kompasiana bisa dijadikan rujukan ilmiah? Bisa tetapi ada syaratnya seperti yang tertulis di atas. Tetapi jika tulisan di Kompasiana akan dijadikan sebagai data untuk kajian bahasa, kajian media atau kajian sosial lain tidak ada syarat khusus.

Syarat yang dimaksud adalah mengenai kepakaran dari penulis. Jika penulis sudah ahli, bisa dijadikan rujukan pendapat. Ini seperti halnya pendapat politisi di Televisi yang juga bisa dijadikan rujukan. Tetapi sejauh mana bisa dirujuk.

Alangkah baiknya jika kita menggunakan contoh. Misal, isu yang baru-baru ini hangat dibicarakan yaitu Ujian Nasional. Apakah Ujian Nasional harus dihapuskan atau tidak.

Di Pendahuluan, beberapa pendapat ahli yang tidak setuju dan setuju akan dipaparkan. Sayangnya, pendapat mereka adanya di media massa mainstream. Jadi terpaksa pendapat pakar-pakar pendidikan di Media itu dicatut di dalam pendahuluan untuk memperkuat argumen bahwa ada pakar yang berpendapat demikian. Jika pakar pendidikan tersebut menuliskannya di Kompasiana, bisa dijadikan rujukan misal:

Menurut X, pakar pendidikan sekaligus pengurus Ikatan Guru Sedunia, Ujian Nasional perlu dikaji ulang mengingat ….(Kompasiana, 2017).

Jadi posisinya hanya mendukung argumen kita bahwa ada pakar yang berpendapat ini dan itu. Ini dilakukan jika pakar tidak menuliskan pendapatnya di Jurnal Ilmiah, hanya dilakukan di media massa mainstream atau menuliskan di dalam blog pribadinya. Inipun catatan syaratnya panjang. Artinya mengenai kepakarannya harus benar-benar diakui dan sebaiknya ditanyakan ke pembimbing.

Lantas bagaimana jika ingin mengutip bahwa ada guru yang tidak sepakat? Banyak berita di media nasional yang memuat berita mengenai ketidak setujuan guru terhadap Ujian Nasional. Bagaimana dengan pendapat para guru yang ada di Kompasiana? Saran saya, mengenai ketidak setujuan ini sebaiknya dilakukan penelitian media terlebih dahulu untuk memetakan pendapat-pendapat mereka. Jadi dalam hal ini, tulisan para guru di Kompasiana dijadikan sebagai subyek penelitian.

Bagaimana jika ada artikel di kompasiana yang menyebutkan ada tokoh politik yang berpendapat mengenai Ujian Nasional, seperti di artikelnya Pak Wijaya Kusumah di Jusuf Kalla dan Ujian Nasional? Beliau mengutip pernyataan Jusuf Kalla sebagai berikut:

Lalu, apa beda ujian sekolah dan ujian nasional? Dalam ujian sekolah, pada umumnya guru menguji apa yang telah dia ajarkan, sedangkan dalam ujian nasional murid diuji apa yang seharusnya mereka ketahui di mana pun murid itu berada di Indonesia. Dengan demikian, tingkat kecerdasan manusia Indonesia akan merata antara murid-murid yang sekolah di Jakarta dan mereka yang bersekolah di daerah-daerah.

Tanpa bermaksud menyepelekan kepakaran Pak Wijaya Kusumah sebagai orang yang sangat paham dalam pendidikan, sebaiknya menelusuri sumber asli pendapat Jusuf Kalla. Karena dalam artikel tersebut dituliskan bahwa penulis artikel melihat pendapat Jusuf Kalla dari Kompas. Menelusuri langsung ke Kompas cetak merupakan langkah yang lebih baik untuk menghindari tuduhan bias. Jika belum tahu Kompas edisi kapan yang menuliskan pendapat Jusuf Kalla itu, sebaiknya menghubungi Pak Wijaya Kusumah untuk mengetahui lebih jauh.

Namun, jika pendapat dari Jusuf Kalla itu hasil wawancara khusus oleh Pak Wijaya Kusumah, tidak mustahil pendapat tulisan Pak Wijaya Kusumah bisa dijadikan dasar pendukung bahwa ada politisi atau mantan tokoh nasional yang bukan pakar pendidikan berpendapat tentang Ujian Nasional.

Bagaimana jika ternyata ada penulis di Kompasiana yang memberikan fakta-fakta bahwa di Indonesia ada yang tidak menggunakan Ujian Nasional seperti artikel Mas Iskandar Zulkarnaen di sini dan di sini. Sebagai orang media tentu sangat sulit mengatakan Mas Iskandar Zulkarnaen bukan pakar dalam media. Apalagi beliau merasakan langsung selama ada di Gontor. Saran saya, sebaiknya telusuri terlebih dahulu mengenai pendidikan di Gontor dan kaitannya dengan Ujian Nasional. Atau malahan, artikel Mas Iskandar Zulkarnaen bisa jadi pemicu penelitian untuk membuktikan bahwa tanpa Ujian Nasional murid-muridnya juga tetap unggul. Tidak lupa, di penelitiannya bisa dituliskan bahwa penelitian itu terinspirasi oleh tulisan Mas Iskandar Zulkarnaen dan hasilnya dipublikasikan di Kompasiana atau media lain selain media ilmiah dengan tidak lupa menyebutkan nama yang menginspirasi. Ini mungkin cara elegan untuk menghargai pemikiran orang lain yang belum bisa dikutip dalam tulisan ilmiah.

Terkait dengan yang ditulis di artikel Mas Winarto bahwa ada seorang mahasiswa S3 yang mengutip artikel di Kompasiana untuk mendukung argumen bahwa pendidikan di Indonesia kualitasnya rendah. Artikel yang dirujuk adalah artikel Rosita Elianur. Tanpa bermaksud merendahkan tulisan Rosita Elianur, sebaiknya mencari sumber primer mengenai data PISA. Misal dari website NCES. Website ini bukan dari sumber PISA langsung, tetapi NCES atau National Center for Education Statistics yaitu lembaga negara di bawah Departemen Pendidikan yang khusus menangani statistik pendidikan di Amerika Serikat. Jadi bisa dijadikan rujukan dalam artikel ilmiah. Kalaupun mendapat daftarnya langsung dari PISA malah lebih bagus seperti di PISA 2009 ini (tautan saya dapat dari Winarto)

–ooOoo-

Terkait dengan masalah kutip mengutip artikel di Kompasiana, memang harus dilihat dulu dalam konteks apa artikel itu dikutip. Jika pernyataan dalam artikel itu dikutip sebagai subyek penelitian untuk kajian bahasa, kajian media, kajian politik terkait dengan persepsi masyarakat, bisa jadi bisa digunakan sebagai bahan penelitian. Tetapi jika akan dirujuk sebagai dasar atas argumen kita, perlu pertimbangan yang sangat mendalam.

Mengutip dari buku kadang masih dipermasalahkan. Karena buku tidak melalui peer-review. Apalagi mengutip artikel di Kompasiana, pastilah tidak semudah itu untuk membolehkannya. Banyak pertimbangannya dan semua itu tergantung pada kajian apa yang akan kita lakukan. Jadi, tidak bisa asal kutip.

Semoga ini bermanfaat dan lebih jelas. Salam.

Tulisan sebelumnya: Apa Bisa Tulisan di Kompasiana Dijadikan Rujukan Ilmiah?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tertangkapnya Polisi Narkoba di Malaysia, …

Febrialdi | | 01 September 2014 | 06:37

Menjelajahi Museum di Malam Hari …

Teberatu | | 01 September 2014 | 07:57

Memahami Etnografi sebagai Modal Jadi Anak …

Pebriano Bagindo | | 01 September 2014 | 06:19

Kompas TV Ramaikan Persaingan Siaran Sepak …

Choirul Huda | | 01 September 2014 | 05:50

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 5 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 6 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 6 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 7 jam lalu

Kisah Ekslusive Tentang Soe Hok Gie …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | 8 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 8 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

‘Royal Delft Blue’ : Keramik …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: