Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Teuku Zulkhairi

Mahasiswa. Suka Membaca. Giat Bekerja.

Ternyata Banyak Wartawan Indonesia Seperti Preman dan Teroris

OPINI | 15 May 2013 | 17:43 Dibaca: 832   Komentar: 0   2

Membaca berita kronologis dalam link dibawah ini, saya membayangkan ternyata begini buruknya wajah sebagian jurnalis kita di Indonesia.

Maka, pantaslah bagaimana selama ini buruknya kualitas informasi di media massa cetak dan elektronik di Negara kita. Jurnalisnya ternyata banyak yg tak lain adalah preman-preman berbaju wartawan…. Astaghfirullahal ‘adhim..

Satu sisi mungkin kita tdk perlu heran juga ya, sebagaimana jg berlaku bagi profesi dan status lain, wartawan sendiri juga ada kategori “Wartawan Hitam” selain tentunya “Wartawan Putih”.

Sy puny ide utk melakukan penelitian bagaimana profil wartawan di Indonesia, jika wartawan-wartawan itu Muslim, apakah mereka shalat sehari 5 waktu. Kalau iya, apakah mereka melakukannya secara berjamaah? Apakah mereka ini sering membaca Alquran?

Kalau wartawan yang menulis berita ini tidak shalat, tidak bayar zakat, apakah pantas berita2 ttg Islam dan institusi Islam yang mereka tulis ini kita percaya?

Mohon do’a saja agar segera terlaksana ya…

1368614451741859173

Realitasnya, selama ini seringkali kita ini menganggap sebuah berita itu lebih benar dari Alquran. Alquran meminta kita untuk Tabayyun, tapi berita-berita di media massa tidak pernah kita tabayyun. Akhirnya, ajaran Islam yang mewajibkan kita untuk tabayyun benar-benar hampir tidak populer lagi di kalangan umat Islam.

Jadilah kita ini lebih percaya kepada berita yg ditulis oleh preman-preman berbaju wartawan ketimbang apa yg disampaikan oleh seorang Muslim yang selalu menjaga ibadahnya.

Wallahu a’lam bishshawab.

Note: coba baca berita dalam link dibawah ini, dan bandingkan dengan berita versi wartawan yang dimuat di beberapa media online Nasional…

Wassalam,

Teuku Zulkhairi,

Mahasiswa S3 IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Peneliti di beberapa lembaga penelitian lokal Aceh


http://www.kabarpks.com/2013/05/inilah-kronologi-sebenarnya-yang.html#.UZNZ_FOW9s4.facebook

Jakarta - KRONOLOGI PENGEROYOKAN WARTAWAN TERHADAP TIM PENGAWAL PENGAMANAN USTADZ HILMI AMINUDDIN DI KPK 14 MEI 2013

Ustadz Hilmi (UH) keluar dari ruangan KPK kira-kira pada jam 15.00 WIB. Namun Tim pengamanan tidak bisa menjemput UH dari lobby karena puluhan wartawan sudah memenuhi dan mencegat di depan pintu, sepanjang kiri kanan railing dan di bawah tangga.

Upaya untuk mencari akses jalan alternatif gagal karena UH hanya boleh keluar dari pintu yang sudah dikerubuti wartawan.

Petugas security KPK tidak berusaha mengantisipasi dan mencegah kekacauan, hanya mengantar Ustadz Hilmi sampai railing pintu masuk. Ketika mobil penjemput sudah bersiap di depan pintu, tim pengamanan yang ada di luar berinisiatif membuka kerumunan wartawan, agar UH tidak terdesak dan terbentur kamera dan mikrofon wartawan.

Namun tim pengamanan yang berada di luar kerumunan terhalang puluhan wartawan yang tidak terkendali dan terus merangsek dan mengepung UH. Beberapa wartawan bahkan menerobos railing dan membuat UH semakin terdesak.

UH tertahan dihadang wartawan. Sempat berbicara, direkam, difoto dan disorot kamera. UH dengan susah payah menuruni tangga, namun terus didesak. Akhirnya terjadi saling desak karena tim pengamanan berusaha memberi jalan agar UH sampai ke mobil.

Wartawan semakin provokatif, dengan kata-kata makian maupun dengan tendangan kaki. Mereka juga berteriak copet.copettt. Ada juga yg berteriak “sikaat… hajaar… Apa lu ini bukan markas elu”.

Pertanyaan wartawan juga kasar, “Waktu diperiksa, Ustadz Hilimi terkencing-kencing nggak?” Dan pertanyaan2 lain yang menyudutkan.

Kameramen dan fotografer makin kalap menyorotkan kamera sambil beteriak-teriak, menunjuk2, menendang, menyodok dan membenturkan kamera, tripod dan mikrofon kepada tim pengamanan yang berusaha memberi jalan UH

Bbrp orang berbaju batik yang merekam dengan BB juga berteriak-teriak, dicurigai sbg provokator. Tim pengamanan yang mencoba membuka jalan dari belakang wartawan dan berusaha menembus kerumunan namun dipukuli puluhan kali dengan mikrofon maupun dengan kamera.

Tim pengamanan juga terpaksa melompat railing karena ingin menyelamatkan UH. Karena kalo dibiarkan UH bisa jatuh di undak-undakan, atau terbentur kamera dan mikrofon yang semakin merangsek.

Tim pengaman mencoba persuasif, “tolong hoi ini orang tua!” dll. Agar wartawan minggir dan tidak menghalangi pintu mobil. Petugas pengamanan terus berusaha membuka pintu dengan susah payah. Akhirnya pintu bisa dibuka, ustadz masuk mobil dan meninggalkan KPK.

Namun tiba2 terjadi kekacauan. Wartawan melampiaskan kemarahannya secara membabi buta. Seorang anggota tim pengamanan bernama RN dipukul kamera (kena bibir atas), diteriaki, ditendang dan dipukuli puluhan wartawan. RN mengalami luka di bibir atas serta memar di jari tangannya (karena menangkis dan melindungi kepalanya).

RN beberapa kali jatuh terduduk dan melindungi kepalanya. Para wartawan berteriak2 dengan kasar, menyebut anjing dll.

RN lari karena keselamatannya terancam. RN sempat beberapa kali jatuh, ditendang, dipukul dan diinjak-injak. TF berusaha melindungi RN, namun juga kena pukul dan tendangan.

RN diselamatkan dan dilindungi oleh petugas kepolisian berpakaian preman dan dibawa ke pos security Jasa Raharja di samping Gedung KPK. RN didampingi kawan-kawannya dibawa ke Polsek Setiabudi, bukan untuk ditahan tetapi dimintai keterangan dan akan dibantu kalau akan melakukan penuntutan.

Awalnya petugas polisi mengira kalau RN dkk ini adalah aparat. Namun dijelaskan bahwa mereka adalah tim pengamanan PKS. Akhirnya RN dkk diizinkan pulang.

Sempat beredar kabar bahwa yang terjadi adalah wartawan dikeroyok tim pengawal UH. Namun faktanya adalah wartawan sudah menunjukkan puncak kebenciannya dan melakukan tindakan premanisme yang memalukan.


Jakarta, 14 Mei 2013.

Sumber: Dedi S.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sangiang, Pulau Memukau yang Mudah Dijangkau …

Hari Akbar Muharam ... | | 24 May 2015 | 01:37

Beras Plastik Siapa Bermain? …

Musni Umar | | 24 May 2015 | 07:31

Kompasiana Seminar Nasional: Harapan serta …

Kompasiana | | 18 May 2015 | 15:58

Pahami Screen Time dan Play Time untuk Anak …

Giri Lumakto | | 23 May 2015 | 22:19

Kota Batam Gandeng Yokohama untuk Menjadi …

Isson Khairul | | 23 May 2015 | 20:23


TRENDING ARTICLES

Rekayasa Hadi, Negara Rugi 2 Triliun, KPK …

Imam Kodri | 5 jam lalu

FIFA, Jangan Heran Indonesia Berani Bekukan …

Mafruhin | 14 jam lalu

Menyoroti Pembangunan Rel Kereta Api di …

Johanis Malingkas | 16 jam lalu

Dua Kali Ke Toilet, Saldo Multitrip Dipotong …

Endang Priyono | 17 jam lalu

Air Mata Ema Tumpah di Korem 151 Binaya …

Rusda Leikawa | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: