Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Iswekke

Membaca dengan bertualang untuk belajar mencintai Indonesia...

Membela Munarwan: Tamrin Wajar Disiram

OPINI | 28 June 2013 | 21:43 Dibaca: 4297   Komentar: 71   12

Pagi Jumat (28/6) di Hong Kong, ketika bersiap-siap untuk shalat Jumat, beberapa jamaah warga Indonesia di Masjid Kowloon mendiskusikan bagaimana tindakan Munarwan, Ketua DPP Front Pembela Islam (FPI) menyiram Tamrin Amal Tamagola, sosiolog Universitas Indonesia. Pembicaraan yang awalnya dimulai tentang komunitas Islam di Hong Kong menjadi pertengkaran Munarwan dan Tamrin.

Apapun alasan Munarwan, ini tidak benar. Ketika ada dialog, maka yang dipertengkarkan adalah persoalan pada ide. Tetapi tidak satu tindakanpun yang boleh dilakukan sebagai pembenaran ide tersebut. Sehingga penghakiman berupa tindakan mengasari orang lain karena berbeda pendapat tidaklah mendapatkan tempat apapun. Sementara itu, Tamrin Amal Tamagola juga tidak sepenuhnya benar.

Ketika berdialog dengan lawan seperti FPI hendaknya juga perlu melihat suasana dialog. Untuk saling berdialog tetapi bukan dengan mencari pemenang. Hanya dengan dialoglah FPI bisa kemudian diajak untuk bersama-sama membangun bangsa ini dengan kedamaian. Bukan justru dengan balik memusuhi FPI sehingga kemudian akan semakin menjadi-jadi, untuk mencari perhatian sekaligus pembenaran atas apa yang dituduhkan.

Tamrin wajar disiram kalau memang beliau itu bunga. Tetapi menjaga harkat dan martabat manusia, sepatutnya tidak pada tempatnya Tamrin untuk disiram. Atas kesalahan apapun juga yang dibuatnya, kalaupun menurut Munarwan, Tamrin itu salah.

Faktor lainnya yang perlu diperhatikan adalah media. Tentu sangat dipahami bagaimana media akan hidup dengan pendapatan dari iklan. Hanya saja jangan juga kemudian membuat potensi agar pertikaian yang terjadi. Tontonan yang disediakan TV One, hendaknya diatasi sejak awal. Saat mengidentifikasi nara sumber yang ada kemudian tidak memberikan ruang pertikaian. Sehingga satu-satunya pihak yang harus disalahkan di sini adalah TV One. Akibat dari ketidakcermatan mengelola acara TV kemudian wujud dalam bentuk tindakan seperti ini.

Catatan berikutnya untuk TV One, jangan sampai mengulang-ulang berita ini. Sehingga akan muncul stigma bahwa ini merupakan suatu kebenaran. Padahal awal semuanya justru muncul dari kelalaian pihak TV One sendiri. Perlu jugalah para wartawan dan pengelola media berkaca dan menyadari bahwa mereka juga potensi untuk mengusung sebuah kesalahan. Ketika ada persoalan rating, ada saja pihak yang mau dan mampu melakukan agenda setting sehingga rating TV One naik dengan adanya kejadian ini.

Begitu juga halnya dengan produser acara televisi. Bagaimana kemudian menghadirkan nara sumber yang memang punya kemampuan memberikan pernyataan dengan analisis yang tidak berkepentingan. Selanjutnya, pembawa acara harus mampu mengarahkan agar dari nara sumber keluar potensi terbaik di dalam memberikan komentar-komentar. Tidak hanya Munarwan dan Tamrin. Masih banyak pihak lain yang berkompeten untuk dimintai pendapat berkenaan dengan masalah ini.

Butir selanjutnya, ketika Ramadhan tiba. Lalu apakah perlu hiburan malam ditutup?. Tentu tidak perlu. Kalau saja ada tempat hiburan yang tidak berada dalam lingkungan masyarakat, jauh dari keramaian, dan juga tidak memberikan dampak apa-apa terhadap masyarakat lingkungan sekitarnya tetap saja bisa jalan. Apalagi kalau masyarakat sekitar tempat hiburan itu tidak merayakan Ramadhan. Maka, tidak perlulah tempat hiburan malam yang ada itu ditutup selama Ramadhan. Toh, mereka tidak merayakan Ramadhan, sehingga tidak perlu dengan arti kesyahduan menjalankan ibadah selama Ramadhan berlangsung.

Tidak ada hubungan sama sekali antara penutupan tempat hiburan malam dengan Ramadhan. Maka, mestinya ini bukan menjadi arus utama pembahasan media. Masih banyak hal lain yang bisa diangkat sebagai diskusi di media seperti, setelah kabut asap 2013 ini, apa tindakan selanjutnya? Ataukah bagaimana politisi yang mempunyai bisnis seperti Lapindo? Tetapi itu semua tidak akan muncul di TV One, karena sudah menjadi pemahaman umum siapa pemegang sahamnya.

Terakhir, media selalu saja berhasil menggiring hal-hal kecil menjadi besar. Maka, masyarakat harus kemudian selektif dan menjadi pemirsa dengan kapasitas tertentu. Sehingga kemudian tidak saja menerima apa yang disampaikan media tetapi pada saat yang sama mempunyai pendapat sendiri.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Produksi Murah Jualnya Mahalan …

Gaganawati | | 23 October 2014 | 16:43

Astaghfirulloh, Ada Kampung Gay di …

Cakshon | | 23 October 2014 | 17:48

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

”Inspirasi Pendidikan” dari Berau …

Rustan Ambo Asse | | 23 October 2014 | 18:22

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 6 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 11 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 12 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 13 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Terlalu Banyak Omong = Tidak Bermutu …

Rachmadia Athaya | 8 jam lalu

Menikmati Kemenangan Jokowi …

Lilik Agus Purwanto | 8 jam lalu

Maju Mundur Cantik Kabinet Jokowi ala …

Yudhi Hertanto | 8 jam lalu

Ssstt….Ada Srikandi di Tol Laut …

Aqshaya | 8 jam lalu

Penderita Lumpuh Layu Itu Hidupi Dua …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: