Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Ken Hirai

Bukan writer, bukan trainer juga bukan public speaker, hanya seorang petualang yang sedang mencari jalan selengkapnya

Sorot Media Tentang Jihad Al-Nikah atau Jihad Seks di Suriah

OPINI | 24 September 2013 | 15:37 Dibaca: 1174   Komentar: 49   15

Media sering menjadi tertuduh dan ajang caci maki ketika melaporkan berita yang beririsan dengan kepentinagn kelompok tertentu. Sebagai contoh yang pernah terjadi pada Tempo ketika melaporkan hasil investigasinya berkaitan dengan “Suap Sapi Berjenggot”. Saat itu Tempo menjadi bulan-bulanan dan ajang caci maki kader-kader sebuah parpol yang pimpinannya diindikasikan terlabat dalam “Suap Sapi Berjenggot” tersebut. Mereka menuduh Tempo sebagai media sekuler yang suka menyebarkan fitnah dan berita bohong. Tapi ketika satu per satu apa yang telah dilaporkan oleh Tempo ternyata terungkap di pengadilan, akhirnya mereka pun diam seribu bahasa.

Dan kini media kembali menjadi tertuduh berkaitan dengan berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex di Suriah. Seperti tuduhan-tuduhan sebelumnya, saat berita ini diturunkan mereka menuduh berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex di Suriah sebagai fitnah untuk melecehkan Islam. Tak ketinggalan mereka pun berteriak lantang bahwa media yang memberitakan tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex sebagai media sekuler. Lucunya, tidak hanya media yang menjadi sasaran caci maki dan tuduhan, para penulis dan komentator yang berusaha mencari kebenaran dari berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex pun kena getahnya. Para penulis dan komentator tersebut dituduh sengaja menulis berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex dengan tujuan untuk menghina atau melecehkan Islam. Tidak hanya itu para penulis pun dituduh sebagai bagian dari kelompok Syiah. Kedengarannya lucu memang, tapi itulah faktanya. Orang-orang radikal yang fanatik buta sering mencari kambing hitam ketika topeng atau kedok kelompoknya mulai di sorot oleh media.

Berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex memang panasnya sangat menyengat. Terbukti banyak media arus utama dari berbagai Negara berlomba-lomba menjadikan berita ini sebagai topik utamanya. Berikut saya coba merangkum beberapa media baik nasional maupun luar negeri yang melaporkan berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex.

Republika menurunkan berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex dengan judul “Ratusan Perempuan Tunisia Jihad Al Nikah di Suriah”.

Tempo menurunkan berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex dalam dua versia bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dengan judul “Tunisian Women Go On Sex Jihad in Syria” dan “Wanita Suriah Ber-Jihad Seks di Suriah”.

Merdeka menurunkan berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex dengan judul “13 Gadis Tunisia Rela Berjihad Seksual Bagi Pemberontak Suriah”.

Sindonews menurunkan berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex dengan judul “Para wanita Tunisia kobarkan jihad seks di Suriah”.

Antaranews menurunkan berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex dengan judul “Perempuan Tunisia Jihad Al Nikah di Suriah”.

TIME World menurunkan berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex dengan judul “Tunisian Women Go on ‘Sex Jihad’ to Syria, Minister Says”.

Gulfnews menurunkan berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex dengan judul “Tunisian Women Waging Sex Jihad in Syria”.

The Telegraph menurunkan berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex dengan judul “Sex Jihad Ranging in Syria Claims Minister”.

Dailymail menurunkan berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex dengan judul “Tunisia’s sex jihadis who were sent to Syria to have sex with 100 rebels each are coming home pregnant with their children”.

Al Arabiya menurunkan berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex dengan judul “Tunisia women ministry to fight ’sex jihad’ trips to Syria” dan “Tunisian girls return home pregnant after ‘sexual jihad’ in Syria”.

Al Jazeera menurunkan berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex dengan judul “Scepticism over Syria sexual favours”.

Dan masih banyak lagi media dari berbagai negara yang menjadikan berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex sebaga topik utamanya.

Panasnya topik Jihad Al Nikah atau Jihad Sex sudah dapat dilihat dari banyaknya media yang memberitakannya. Istilah Jihad Al Nikah atau Jihad Sex sendiri baru muncul setelah adanya fatwa aneh dari Muhammad Al-Arifi yang beredar luas di dunia maya sejak awal tahun 2013. Namun demikian Muhammad Al-Arifi sendiri telah membantah bahwa dirinya telah mengeluarkan fatwa tersebut.

Kini berita tentang Jihad Al Nikah atau Jihad Sex kembali menjadi heboh setelah Menteri Dalam Negeri Tunisia, Lotfi Bin Jeddo melaporkan kasus banyaknya wanita Tunisia yang melakukan Jihad Al Nikah atau Jihad Sex di Suriah. Laporan Menteri Dalam Negeri Tunisia, Lotfi Bin Jeddo disampaikan di hadapan anggota Dewan Konstituante Nasional Tunisia. Berita terkini dari Tunisia menunjukkan aksi nyata dari Kementrian Perempuan Tunisia, Kementrian Kesehatan dan Kementrian Dalam Negeri Tunisia untuk mencegah aksi Jihad Al Nikah atau Jihad Sex. Mereka berencana untuk bekerjasama dengan semua pihak mencegah mereka bepergian ke Suriah dan memberikan informasi dan pengetahuan yang benar.

Tunisia Bisa Belajar Dari Arab Saudi

Untuk mencegah dampak buruk akibat yang ditimbulkan dari Jihad Al Nikah atau Jihad Sex, pemerintah Tunisia bisa belajar dari pemerintah Arab Saudi. Arab Saudi melalui Raja Abdullah dan Grand Mufti Arab Saudi Abdulaziz Al-Ashsheikh melarang jihad ke Suriah. Raja Abdullah bahkan mengancam akan menghukum seberat-beratnya pada ulama atau khatib yang memprovokasi para pemuda Arab Saudi untuk berjihad ke Suriah. Menurut Raja Abdullah, hukuman penjara saja tidak cukup bagi para provokator yang merusak masa depan pemuda Saudi dan masa depan Arab Saudi. Larangan tegas dari Raja Abdullah yang disampaikan di depan para ulama Arab Saudi juga diamini oleh Grand Mufti Arab Saudi Abdulaziz Al-Ashsheikh.

Selain itu pemerintah Arab Saudi juga mengancam akan menangkap dan memenjarakan para pelaku jihad ketika mereka kembali ke tanah airnya. Pemerintah Arab Saudi tidak ingin mengulang pengalaman buruknya ketika mengijinkan para pemuda Saudi untuk pergi jihad di Afaganistan. Seperti diketahui, sepulang dari jihad di Afganistan ternyata banyak pemuda Saudi yang berubah menjadi radikal. Bahkan beberapa diantaranya menjadi teroris yang mengancam dunia. Karenanya agar kasus Afganistan tidak terulang lagi, juru bicara Kementrian Dalam Negeri mengatakan bahwa keterlibatan warga Saudi dalam perang Suriah adalah sebuah pelanggaran hukum.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indonesia 0 – 4 Filipina : #BekukanPSSI …

Angreni Efendi | | 26 November 2014 | 00:33

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | | 26 November 2014 | 04:19

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Festival Foto Kenangan Kompasianival 2014 …

Rahab Ganendra 2 | | 26 November 2014 | 04:01

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 7 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 7 jam lalu

5 Kenampakan Aneh Saat Jokowi Sudah …

Zai Lendra | 12 jam lalu

Timnas Indonesia Bahkan Tidak Lebih Baik …

Kevinalegion | 13 jam lalu

Suami Bergaji Besar, Masih Perlukah Istri …

Cucum Suminar | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Kisah “Kaos Kaki Bolong” …

Fathan Muhammad Tau... | 8 jam lalu

Produsen Kok Masih Impor Garam? …

Irene Noviani | 8 jam lalu

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | 8 jam lalu

Fabiano Lawan Sepadan Magnus Carlsen …

Cut Ayu | 8 jam lalu

Yuk Koleksi Uang Rupiah Bersambung Tahun …

Agung Budi Prasetyo | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: