Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Opa Jappy

m.kompasiana http://m.kompasiana.com/user/profile/jappy

[Jilbab Hitam] Tempo Mengapresiasi Kompasiana

OPINI | 12 November 2013 | 20:21 Dibaca: 1744   Komentar: 40   12

13842584541616172705

kompasiana.com/

13842585251039914761

kompasiana.com

Tulisan Jilbab Hitam, yang baru muncul kemarin di Kompasiana, dengan judul “TEMPO dan KataData ‘Memeras’ Bank Mandiri dalam Kasus SKK Migas,? memang terasa benar jika tak membaca bantahan dari Tempo. Kemarin, diriku sempat membaca sebentar, tapi karena lihat bahwa penulisnya baru muncul kemarin, maka kumenahan diri untuk komentar. Bersamaan dengan itu, kuberpikir bahwa apakah tulisan tersebut benar atau hanya pelampiasan kekesalan terhadap Tempo. Apalagi info profile Jilbab Hitam menyatakan bahwa ia adalah mantan wartawan Tempo.

[Tulisan Jilbab Hitam pada intinya menyatakan bahwa BHM merupakan godfather mafia permainan uang dan transaksi jual-beli pencitraan di grup Tempo. BHM juga dituding mengancam Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin terkait proposal dari KataData; tempo.co].

Kini tulisan Jilbab Hitam “TEMPO dan KataData ‘Memeras’ Bank Mandiri dalam Kasus SKK Migas? telah lenyap. Dan, hari ini Tempo menurunkan dua tulisan yang berisi bantahan Bos Besar Tempo terhadap tulisan di Kompasiana.

Pada tulisan (di Tempo) tersebut, menurut Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk Bambang Harymurti menyatakan bahwa,

“… penulis yang menjelek-jelekkan Tempo di Kompasiana bukanlah mantan wartawan media massa tersebut; … bukan karyawan kami, karena gaji wartawan Tempo tidak segitu.

Banyak pihak yang tidak suka dengan hasil investigasi Tempo.

Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin, merupakan kawan lama; dia adik kelas saya di ITB.

Baru mengetahui tentang proposal KataData ketika membaca tulisan di Kompasiana; sebelumnya, saya tidak tahu.

Tempo jauh dari tindakan pemerasan. Bahkan, pemasangan iklan yang bermasalah pun ditolak oleh Tempo.  Jadi, tidak mungkinlah Tempo memeras, karena yang menawarkan iklan saja kita tolak.

Cara untuk melawan tulisan itu yaitu dengan membiarkan lebih banyak suara yang bebas berkomentar guna menangkis beritanya. Itu fitnah, tidak usah dipikirkan. Itu cuma selebaran gelap.

Mengapresiasi Kompasiana yang menarik tulisan tersebut dari peredaran. Saya juga mengapresiasi masyarakat karena masyarakat tidak bodoh, … [sumber: tempo.co]“

Jadi, sudah jelas bahwa tulisan Jilbab Hitam tersebut penuh ketidakbenaran dan tak mendasar, namun orangnya benar-benar ada. Siapa pun si dia balik Jilbab Hitam tersebut, ia cukup punya data dari hasil omong-omong, isue, desas-desus orang-orang dari Bank Mandiri dan Tempo.

Atau, ia mempunyai hubungan langsung dan tak langsung dengan salah satunya, dari Bank Mandiri atau Tempo, dan menerima info yang terpotong-potong. Kemudian hasil omong-omong itu, si dia yang bersembunyi balik Jilbab Hitam tuangkan dalam bentuk reportase atau novel true story, seakan-akan ia adalah salah satu pelakon atau tahu persis kasusnya.

Lalu, apa tujuan Si Jilbab Hitam!? Cuma ada satu yaitu menjelek-jelekan BHM atau pun Tempo, selain itu …. (!?), ya, tanda tanya.

Bagaimana Mencegah!?

Jika tak salah, ini adalah kali keduan Kompasian mendapt sorotan dari media lainnya. Pertama pada tahun lalu, oleh Majalah Anggkasa; dan kedua oleh Tempo. Jika seperti itu, bagaimana mencegahnya sehingga pada masa depan tak terjadi ada tulisan-tulisan yang belum tentu benar - tak ada fakta kebenarannya, namun telah terpublish di Kompasiana!?

Tentu saja, Konsistorium Kompasiana (yang bertugas) yang selalu membaca, mempertimbangkan, menilai semua artikel yang masuk (diposting Kompasianer), harus lebih jeli dan teliti. Paling tidak para admin bisa memeriksa data-info dari media lain tentang isi, muatan, news, yang sama. Dengan demikian, hal-hal yang sekira seperti kasus Jilbab Hitam - Tempo (kemarin),  bisa tak terpublish, karena tak ada data - media lain yang bisa sebagai pembanding.

[Anda punya idea lain!? .... Monggo berbagi untuk Admin]

Ok …

138426137510361251261384825500920481750

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Olahraga Sebagai Industri dan Sarana …

Erwin Ricardo Silal... | | 31 July 2014 | 08:46

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Rasa Takut, Cinta, Naluri dan Obsesi …

Ryu Kiseki | | 31 July 2014 | 03:42

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 15 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 17 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 19 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 21 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 24 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: