Back to Kompasiana
Artikel

Mainstream Media

Opa Jappy

BEBAS Menyuarakan Kebebasan | https://twitter.com/JappyNetwork | http://opajappy.com

[Jilbab Hitam] Tempo Mengapresiasi Kompasiana

OPINI | 12 November 2013 | 20:21 Dibaca: 1772   Komentar: 40   12

13842584541616172705

kompasiana.com/

13842585251039914761

kompasiana.com

Tulisan Jilbab Hitam, yang baru muncul kemarin di Kompasiana, dengan judul “TEMPO dan KataData ‘Memeras’ Bank Mandiri dalam Kasus SKK Migas,? memang terasa benar jika tak membaca bantahan dari Tempo. Kemarin, diriku sempat membaca sebentar, tapi karena lihat bahwa penulisnya baru muncul kemarin, maka kumenahan diri untuk komentar. Bersamaan dengan itu, kuberpikir bahwa apakah tulisan tersebut benar atau hanya pelampiasan kekesalan terhadap Tempo. Apalagi info profile Jilbab Hitam menyatakan bahwa ia adalah mantan wartawan Tempo.

[Tulisan Jilbab Hitam pada intinya menyatakan bahwa BHM merupakan godfather mafia permainan uang dan transaksi jual-beli pencitraan di grup Tempo. BHM juga dituding mengancam Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin terkait proposal dari KataData; tempo.co].

Kini tulisan Jilbab Hitam “TEMPO dan KataData ‘Memeras’ Bank Mandiri dalam Kasus SKK Migas? telah lenyap. Dan, hari ini Tempo menurunkan dua tulisan yang berisi bantahan Bos Besar Tempo terhadap tulisan di Kompasiana.

Pada tulisan (di Tempo) tersebut, menurut Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk Bambang Harymurti menyatakan bahwa,

“… penulis yang menjelek-jelekkan Tempo di Kompasiana bukanlah mantan wartawan media massa tersebut; … bukan karyawan kami, karena gaji wartawan Tempo tidak segitu.

Banyak pihak yang tidak suka dengan hasil investigasi Tempo.

Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin, merupakan kawan lama; dia adik kelas saya di ITB.

Baru mengetahui tentang proposal KataData ketika membaca tulisan di Kompasiana; sebelumnya, saya tidak tahu.

Tempo jauh dari tindakan pemerasan. Bahkan, pemasangan iklan yang bermasalah pun ditolak oleh Tempo.  Jadi, tidak mungkinlah Tempo memeras, karena yang menawarkan iklan saja kita tolak.

Cara untuk melawan tulisan itu yaitu dengan membiarkan lebih banyak suara yang bebas berkomentar guna menangkis beritanya. Itu fitnah, tidak usah dipikirkan. Itu cuma selebaran gelap.

Mengapresiasi Kompasiana yang menarik tulisan tersebut dari peredaran. Saya juga mengapresiasi masyarakat karena masyarakat tidak bodoh, … [sumber: tempo.co]“

Jadi, sudah jelas bahwa tulisan Jilbab Hitam tersebut penuh ketidakbenaran dan tak mendasar, namun orangnya benar-benar ada. Siapa pun si dia balik Jilbab Hitam tersebut, ia cukup punya data dari hasil omong-omong, isue, desas-desus orang-orang dari Bank Mandiri dan Tempo.

Atau, ia mempunyai hubungan langsung dan tak langsung dengan salah satunya, dari Bank Mandiri atau Tempo, dan menerima info yang terpotong-potong. Kemudian hasil omong-omong itu, si dia yang bersembunyi balik Jilbab Hitam tuangkan dalam bentuk reportase atau novel true story, seakan-akan ia adalah salah satu pelakon atau tahu persis kasusnya.

Lalu, apa tujuan Si Jilbab Hitam!? Cuma ada satu yaitu menjelek-jelekan BHM atau pun Tempo, selain itu …. (!?), ya, tanda tanya.

Bagaimana Mencegah!?

Jika tak salah, ini adalah kali keduan Kompasian mendapt sorotan dari media lainnya. Pertama pada tahun lalu, oleh Majalah Anggkasa; dan kedua oleh Tempo. Jika seperti itu, bagaimana mencegahnya sehingga pada masa depan tak terjadi ada tulisan-tulisan yang belum tentu benar - tak ada fakta kebenarannya, namun telah terpublish di Kompasiana!?

Tentu saja, Konsistorium Kompasiana (yang bertugas) yang selalu membaca, mempertimbangkan, menilai semua artikel yang masuk (diposting Kompasianer), harus lebih jeli dan teliti. Paling tidak para admin bisa memeriksa data-info dari media lain tentang isi, muatan, news, yang sama. Dengan demikian, hal-hal yang sekira seperti kasus Jilbab Hitam - Tempo (kemarin),  bisa tak terpublish, karena tak ada data - media lain yang bisa sebagai pembanding.

[Anda punya idea lain!? .... Monggo berbagi untuk Admin]

Ok …

138426137510361251261384825500920481750

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Berburu Gaharu di Hutan Perbatasan …

Dodi Mawardi | | 29 November 2014 | 11:18

Jokowi Tegas Soal Ilegal Fishing, …

Sahroha Lumbanraja | | 29 November 2014 | 12:10

Menjadikan Produk Litbang Tuan Rumah di …

Ben Baharuddin Nur | | 29 November 2014 | 13:02

Kartu Kredit: Perlu atau Tidak? …

Wahyu Indra Sukma | | 29 November 2014 | 05:44

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Jangan Tekan Ahok Lagi …

Mike Reyssent | 6 jam lalu

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 7 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 10 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Pulau Penyengat, Pulaunya Masjid Raya Sultan …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Gerdema: Saatnya Desa Mandiri, Saatnya Desa …

Amelya I. Fatma R. | 8 jam lalu

Selingkuh …

Mamang Haerudin | 8 jam lalu

Miskonsepsi: Fasilitator Pendidikan vs Orang …

Zuhda Mila Fitriana | 8 jam lalu

Analisis Dua Cerita Ulang Imajinatif: Asal …

Astari Kelana Hanin... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: