
Dulu wartawan peliput politik nasional dan internasional. Sekarang sehari-hari ikut 'ngurusin' harian Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV.
Dibaca: 630
Komentar: 25
2 dari 5 Kompasianer menilai Menarik
Akhir-akhir ini dirasakan begitu banyak orang ingin menulis. Permohonan agar kami share pengetahuan dan keterampilan menulis dari warga biasa, aparat pemerintah, pelajar dan mahasiswa, makin hari makin banyak. Dan, ini adalah sebuah dilema, meskipun tidak terlalu besar. Di satu sisi, suasana itu menggembirakan, tetapi di sisi lain hal itu cukup menyita waktu juga. Tetapi melihat aliran tulisan di Kompasiana, maka suasana menggembirakan lebih dominan daripada beban waktu.
Saya melihat aliran berita di Kompasiana wajah baru ini begitu tampak jelas dan deras. Apapun ditulis, sehingga admin Kompasiana harus melakukan rubrikasi terhadap artikel-artikel dengan tema-tema tertentu. Karena wajah Kompasiana masih baru dan masih dipoles sana-sini, artikel yang tidak terkategorisasi masuk ke rubrik UMUM.
Derasnya aliran artikel di Kompasiana maupun makin seringnya permohonan sharing keterampilan menulis ini sebenarnya berbanding terbalik dengan makin tipisnya lembar koran akibat iklan yang menurun. Sejumlah surat kabar bahkan dikabarkan tidak mencapai target dari sisi salesnya, yang mengakibatkan sulit melakukan penambahan halaman. Jangankan ekspansi, sekedar menambah jumlah halaman untuk liputan khusus atau suplemen saja sekarang menjadi tidak mudah.
Suasana yang berbeda justru terjadi di online. Karena tidak ada keterbatasan ruangan, seperti halnya di surat kabar dan majalah, maka kita bisa menulis “seenak udel” kita. Selain menulis, kita juga bisa melengkapinya dengan gambar atau foto, ilustrasi, atau grafis. Apapun bisa dilakukan di sini. Termasuk minta dikomentari oleh pembaca.
Kecenderungan orang untuk makin beralih ke online atau mobile makin hari memang makin terasa. Ini antara lain ditunjukkan dengan meningkatnya secara drastis bisnis mobile oleh para content provider, termasuk Kompas.com, untuk konten-konten premium dan konten serius. Selama ini, bisnis mobile untuk konten-konten ringan (sering kali para pebisnis mobile sendiri menyebutnya sebagai “konten sampah”) memang telah menjadi bisnis yang amat besar.
Saya menduga makin meningkatnya keinginan orang untuk menulis ini karena didorong antara lain oleh kebiasaan menulis status di Facebook. Setelah mengganti status, lalu kita mengomentari orang. Awalnya pendek-pendek, tetapi lama-lama panjang. Lantas orang mencoba menuliskan pengalaman masing-masing dengan kalimat-kalimat agak panjang. Setelah itu, timbullah kepercayaan untuk menulis dan membaginya dengan orang lain.
Sejalan dengan trend seperti itulah, blogging juga dirasakan terus mendapat tempat di hati warga Indonesia. Makin banyak orang ngeblog. Makin banyak kumpulan bloggers di berbagai pelosok. Makin banyak pula orang mengirim berita melalui Twitter, sehingga makin cepat lagi berita bisa disebar dari warga ke warga lainnya.
Kehadiran new media bagaimanapun tidak bisa ditentang dan disangkal. Ia hadir bersama dengan kebutuhan masyarakat yang makin meningkat akan informasi baik dari sisi konten maupun dari sisi kepraktisan dan kecepatannya. Tinggal bagaimana kita memaknai tantangan serta memanfaatkan peluang itu bagi kepentingan masyarakat banyak!
Salam Kompasiana!