
Seorang penulis blog dan penjaja suara di gelombang radio :) Saat ini tinggal dan mencari nafkah di negeri matahari terbit yang berbunga sakura. Salam kenal! Selengkapnya silahkan kunjungi blognya di http://suarane.org (blog radio) atau http://nol.suarane.org (blog suka-suka).
Dibaca: 1085
Komentar: 10
Nihil
Cerita ini berawal dari inisiatif Menkominfo, Tiffatul Sembiring untuk menggelar kegiatan #bingkisanutkfollowers. Ini adalah kegiatan informal untuk memberikan bingkisan kepada orang-orang yang menjadi ‘follower’ beliau di layanan mikroblogging twitter. Kegiatan ini disebutnya sebagai sebuah “rintisan membangun komunikasi yang lebih baik antara pejabat dan publik yang pada dasarnya adalah pelayan rakyat , dengan sebagian masyarakat Indonesia pengguna twitter”
Sesi pertama kegiatan ini sudah diluncurkan dengan memberikan satu buah handphone Nokia E75 kepada seorang pemilik akun twitter yang berhasil menebak sebuah teka-teki yang dilontarkannya di twitter. Namun kegiatan sesi kedua lah yang mengejutkan karena yang diputuskan mendapat hadiah adalah sosok yang dianggap “dapat memberikan kritik terpedas via twitter” kepadanya, dan inilah isi twitter sang pemenang yang bernama Ribosa atau Aribowo Sangkoyo:
Ribosa The Nazi now spelled PKS, @tifsembiring is the Joseph Goebbels of our time! 10:30 AM Nov 23rd from HootSuite
Sebagai pembanding, inilah isi pesan twitter dua ‘nominator’ lainnya yang berhasil dikalahkan si Ribosa itu:
oomslokop @tifsembiring nyet kerjaan gua di blogspot jd ga bs gw kerjain lu mau kasi kompensasi gua apa? Pantun2 ngehe lu? Anjing.11:36 AM Nov 23rd from Snaptu
adjayanto eh MENKOMINFO GOBLOG @tifsembiring ngeblokir BLOGSPOT di Indonesia. Balik aja ke jaman BATU sekalian! Dasar Menkominfo sinting!
Gile benerrr! Pantaslah Ribosa menang. Ini kritikan super pedas, karena di negara barat, membandingkan seseorang dengan Nazi adalah penghinaan besar yang mungkin bisa berujung di pengadilan. Lha di Indonesia malah dapat ponsel Nokia terbaru hehe. Oya, yang belum tahu, nama Joseph Goebbels bisa disebut ‘Menkominfo’ nya Pemerintahan Adolf Hitler, yang dikenal sebagai arsitek propaganda maut Nazi.
Ribosa sendiri menolak hadiah itu. Dalam balasan via twitter dari Ribosa, sang pengkritik pedas, dia mengatakan bukannya takut ingin mengambil hadiah itu, tapi “saya nggak mau dia merasa menang. Itu saja kok!”
Ya, itu hak dia lah. Padahal saya menunggu-nunggu sekali bagaimana nasib Ribosa kalau dia memang datang ke kantor Menkominfo untuk mengambil hadiah itu. Bukan.. bukan bermaksud jelek. Justru menarik untuk dilihat apakah benar hadiah itu diberikan sesuai janji?
Maklumlah, saya mungkin termasuk segelintir warga negeri ini yang sudah muak dengan sikap pejabat yang mudah sekali tersinggung dan langsung unjuk kekuatan kepada rakyatnya, padahal katanya ini era reformasi. Lha seorang blogger bernama Herman Saksono saja pernah dipanggil polisi karena memelesetkan foto SBY dengan yang terhormat Mister Roy Suryo. Lihat pula bagaimana murkanya Tuan Wakil Rakyat Gayus Lumbun waktu grup musik Slank bernyanyi tentang mafia di senayan yang ujung-ujungnya duit itu hehe
Saya pribadi angkat topi pada Tiffatul Sembiring yang mengaku tidak ingin menjadikan kritik “sebagai sesuatu yang harus ditakuti, tapi patut dihargai oleh siapapun penerima kritik itu sebagai bentuk pendewasaan diri, apapun isi dan bentuk kritik tersebut.”
Di twitternya yang beralamat di @tifsembiring beliau langsung menjawab semua kritik, termasuk soal khutbah Idul Adhanya yang menuai kecaman karena membandingkan bencana yang terjadi di negeri ini dengan kebejatan moral. Kalau beliau memang bisa konsisten dengan sifat ini tentu akan bisa jadi contoh menarik mengenai bagaimana para pejabat berusaha untuk berbaur dengan rakyat ketimbang duduk santai di singgasananya di atas sana. Namun pastinya ini tidak mudah, karena semakin lama pasti ‘angin’ akan semakin kencang berhembus. Kita lihat saja.
Tidak sedikit misalnya yang mulai merasa melihat ke arah mana agenda seorang Tiffatul Sembiring yang mantan ketua PKS itu. Salah satunya adalah dengan memerintahkan untuk memblok sebuah blog yang menghina Nabi Muhammad lewat kartun, namun oleh sebuah penyedia akses internet ditafsirkan sebagai memblok seluruh layanan blogspot. Ramai orang misah misuh, termasuk dua nominator hadiah ponsel di atas itu.
Saya pribadi sih memilih untuk melihat sisi positifnya saja. Bahwa mungkin upaya beliau untuk membuka diri merupakan sesuatu hal yang baik, sehingga apapun kebijakannya lima tahun ke depan, bisa dengan mudah kita kritik secara langsung. Karena terus terang, saya masih berusaha keras untuk bisa percaya pada wakil-wakil saya di senayan itu.
Yang jelas sudah mulai muncul pertanyaan soal hadiah tersebut yang kelihatannya di sponsori oleh Nokia. Apakah hadiah ponsel keluaran terbaru ini bisa masuk kategori KKN atau korupsi? Kalau memang benar ini di sponsori oleh Nokia, menurut saya sih lebih baik dibatalkan saja atau keluar uang dari kantong sendiri saja.
Ya, konon memang semakin tinggi kita berdiri, angin akan bertiup semakin kencang. Selamat berjuang Pak Tif. Saya bukan pengikut partai anda, bahkan saya kurang sependapat dengan khutbah Idul Adha anda kemarin itu. Tapi saya tetap berusaha menaruh harapan untuk melihat sosok pejabat model baru di negeri ini yang lebih merakyat.
Buat Ribosa atau Aribowo.. ayo dong brother.. Berani ngomong, berani bertanggung jawab. Saya mungkin tidak seberani anda dengan membandingkan beliau dengan tokoh propaganda Nazi. Buat saya itu kelewat pedas, bos. Tapi toh yang dikritik ternyata suka yang pedas-pedas kok. Kenapa tidak ditanggapi. Kalau memang anda menganggap ini pertandingan, ya jangan sampai anda yang justru terlihat kalah :)
Tokyo,
Penghujung November 2009
twitter: @jafrane