Artikel

New Media

Taufik H. Mihardja

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Dulu wartawan peliput politik nasional dan internasional. Sekarang sehari-hari ikut 'ngurusin' harian Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV.

Ngocolisme dan Pembelajaran!


HL | 08 December 2009 | 18:30 Dibaca: 1002   Komentar: 49   7 dari 9 Kompasianer menilai Bermanfaat

KompasianaLogo

KompasianaLogo

Sepulang dari tugas ke luar negeri, saya hari Selasa pagi menyempatkan menulis permohonan maaf terbuka untuk Pak Pray dan teman-teman Kompasianers karena saya tidak bisa hadir di acara peluncuran buku Pak Pray, bapak kita yang sama-sama kita hormati dan kita cintai itu.

Tetapi ketika melakukan scanning terhadap tulisan-tulisan apa saja di Kompasiana, saya menjadi tertarik untuk membaca tulisan-tulisan seputar NGOCOL. Yang pertama, saya baca tulisan Iskandarjet. Selang beberapa jam karena ada acara di kantor, saya lanjutkan lagi pencarian saya di sore hari tentang tulisan NGOCOL.

Saya lalu mendapatkan tulisan (komentar) Linda dengan fotonya yang cantik dan (kelihatannya kok lebih muda dari yang saya temui selama ini ya?). Lantas saya melihat tulisan Pak Pray. Karena tulisan Pak Pray menjawab Mariska, saya sempatkan juga baca tulisan Mariska. Tahukah Anda, komentar saya secara sepintas? Seru!!! tetapi kok agak mengkhawatirkan ya! Karena itu, saya ingin segera menulis pikiran saya berikut ini.

Setelah membaca tulisan Pak Pray, rasanya sedikit banyak sudah mewakili pikiran saya tentang apa-apa saja yang ingin saya sampaikan di sini. Sebab, saya juga tidak ingin berpretensi sebagai super-admin, lo. Hanya ingin berbagi pikiran sehat saja dengan teman-teman sekalian.

Tulisan Pak Pray itu seperti menengahi antara maksud baik para admin (yang menurut Linda, kebetulan tidak berlatar belakang journalist) dengan Kompasianers yang memiliki latar belakang bermacam-macam (di sinilah indahnya menjadi Kompasianers, datang dari berbagai suku, agama, dan tingkat kekayaan yang berbeda-beda, tetapi namanya tetap satu: Kompasianer!)

Selain membaca tulisan-tulisan itu, saya juga lalu menyempatkan diskusi singkat dengan temen-temen Admin tentang apa sebenarnya yang sedang terjadi. Nah, setelah membaca tulisan-tulisan dan mendengarkan penjelasan teman-teman Admin, akhirnya saya jadi tersenyum sendiri.

Menurut saya, kedua pihak tidak sepenuhnya salah, tidak juga sepenuhnya benar. “Perseteruan ini” (hebat banget pakai kata2 seteru) sebenarnya tidak perlu terjadi jika saja kita, termasuk saya juga lo, tidak melakukan sesuatu yang BERLEBIHAN. Apapun kalau berlebihan bukankah tidak baek?

Di satu sisi, teman-teman Admin khawatir kalau terlalu deras tulisan NGOCOL, maka tulisan lain yang tidak ngocol menjadi tersingkir. Tapi mereka tidak bisa melarang, hanya bisa mengimbau.  Di sisi lain, para penulis Ngocol merasa disudutkan. Istilah sekarang seperti terjadi “kriminalisasi” penulis ngocol (mencontoh kriminalisasi KPK dan kriminalisasi wartawan). Di tengah-tengah, ada yang berpendapat ngocol itu lucu dan penting, ada juga yang berpendapat ngocol itu tidak lucu dan tidak penting.

Tetapi terlepas dari pro-kontra itu, saya sendiri melihat ada begitu banyak komentar yang sudah di luar konteks. Tidak seperti komentar gaya khas Kompasiana, tetapi sudah seperti chatting antara anak-anak ABG. (Ini mungkin sisi ekstrim negatif dari persoalan perngocolan ini, yang mudah-mudahan tidak berlanjut)

Ngocol merupakan bagian dari hidup kita sehari-hari. Saya sendiri sering ngocol sama teman-teman. Jadi wajar saja bila suasana itu juga carried away dalam bentuk tulisan. Tatapi kita juga menyadari kalau ngocol berlebihan, pasti akan ada pihak lain yang tersinggung.

Karena itu saya ingin membawa kembali pikiran kita semua ke awal mula membentuk Kompasiana kita ini, yakni memberi inspirasi antarkita. Apakah gaya ngocol dilarang karena tidak memberikan inspirasi? Tidak ada larangan, karena ngocolisme adalah naluri kita juga, bukan? Dan, belum tentu tulisan ngocol itu tidak inspiratif. Tapi, ya itu tadi, jagalah agar suasana tidak menjadi terlalu gaduh. (Gaduh boleh, tetapi jangan pakai kata TERLALU)

Seperti dalam sebuah rumah - rumah sehat sekalipun - tentu ada banyak pikiran yang terlontar, dan yang tertulis dari para penghuninya. Kalau kita ingin menyeragamkan semua pikirannya, itu suatu  kemustahilan. Bukankah keberagaman itu justru anugerah.

Ah saya tidak ingin terlalu berpanjang lebar lagi, meski buah pikiran saya masih banyak di benak ini. Sebentar lagi gelap, dan saya harus menuju ke dokter, untuk cek kesehatan.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah imbauan: Marilah kita melihat segala sesuatu (terutama tentunya postingan di Kompasiana) dengan pikiran yang positif. Pikiran yang didasari niat keterlibatan kita di Kompasiana sebagai bagian dari proses pembelajaran. Junior-senior, muda-tua, kaya-miskin, jurnalis-nonjurnalis. Sama saja. Kita sama-sama belajar.  Sama-sama saling mengingatkan.

Kita saling membutuhkan. Kompasiana membutuhkan kompasianers, sebaliknya kompasianers juga membutuhkan Kompasiana. Maka setiap kali kita menghadapi “cek-cok”, kita harus ingat hal ini. Saya sendiri percaya bahwa dari setiap percekcokan ini, selalu saja akan ada hikmah, yang bagaimanapun akan menjadi bagian dari pengalaman hidup kita ke depan.

Mari kita selesaikan cek-cok ini dengan sesuatu yang lebih produktif bagi kita semua.

Salam Kompasiana

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: