
Seorang penulis blog dan penjaja suara di gelombang radio :) Saat ini tinggal dan mencari nafkah di negeri matahari terbit yang berbunga sakura. Salam kenal! Selengkapnya silahkan kunjungi blognya di http://suarane.org (blog radio) atau http://nol.suarane.org (blog suka-suka).
Dibaca: 1211
Komentar: 11
1 dari 1 Kompasianer menilai Menarik
“Infotemnt derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!… ” Pesan singkat dengan kata-kata mengerikan itu dilontarkan artis terkenal Luna Maya ke alam twitter dan sontak memunculkan perdebatan. Ada yang mendukung, ada yang tidak! Kemana pula anda berpihak dalam kasus ini?
Kalau saya sepakat dengan mereka yang menyesalkan luapan emosi Kak Luna yang meledak-ledak konyol tak terkendali itu. Tapi di sisi lain, adakah yang memperhatikan bagaimana masalah ini ditanggapi oleh pihak-pihak terkait dengan cara yang setali tiga uang konyolnya dengan Luna?
Yang langsung menarik perhatian saya adalah ‘acara berbalas pantun’ di twitter antara @Lunmay (itu ‘almarhumah’ akun twitter Luna Maya yang sudah dihapus) dengan @bambangelf, orang media -entah media mana- yang mengaku “Cuma ingin mengingatkan agar Luna bicara lebih elegan”. Bagus itu, kawan! Mulia sekali! Tapi elegankah cara kau mengingatkan dengan menggunakan kata-kata seperti ini? :
Luna, bahasa lu tuh makin norak, bodoh, ga terpelajar dan ga mikir panjang…
Atau yang ini:
Hahahaha… Lu makin keliatan tolol..
Masih dalam rangkaian ‘berbalas pantun’ itu, muncul pula kata-kata “Lu musti inget yg gedein lu tuh media.” Kata-kata itu pun diulangnya lagi waktu di wawancara oleh Kompas: “Dia lupa kalau dia itu dibesarkan media.”
Nah.. nah.. Tunggu dulu! Numpang tanya nih, bos. Sehebat itukah jasa media pada artis? Kenapa justru malah terdengar sebagai kesombongan? Memangnya benar artis itu dibesarkan oleh media? Apa tidak sebaliknya? Apa tidak keduanya saling membutuhkan? Atau jangan-jangan ini teori media baru di abad ke 21 ? Malas saya mencari jawabnya. Untungnya ada komentar seorang pembaca Kompas yang menggunakan nama “asumta” yang bikin saya mengangguk-angguk di depan layar komputer. Dia bilang begini:
“gue stuju dengan luna, media membesarkan artis bukan karna ingin membesarkan tapi itu emang pekerjaannya dan kejanya adalah memanfaatkan pasar, kalo media memasarkan tapi pasar menolak ya ndak mungkin dibesarkan. untuk teman media jangan yg arif lah jng merasa berjasa, apa bedanya dengan luna dong”
Pernyataan “Artis yang dibesarkan media” ini juga jadi mengingatkan saya pada ucapan seorang juragan infotainment dalam diskusi di televisi beberapa waktu silam saat dia mengatakan: “artis itu kan milik publik! ”. Sebuah pernyataan aneh yang seolah membenarkan para kru si juragan infotainment itu untuk mengobok-obok kehidupan orang lain -yang kebetulan saja kerjanya jadi tukang artis-, bahkan terkadang dengan cara yang sangat kelewatan.
Tapi agak-agaknya ini bukan masalah ketersinggungan orang-orang infotainment semata ya? Soalnya di Kompas, Bapak Hans Miller Banurea, Bos Departemen Infotainment PWI Pusat bilang, akan banyak orang yang tersakiti dengan pernyataan Luna. “Maaf, para pelacur bisa demo loh,” katanya.
Ah!! Betul itu pak! Bukan hanya para pelacur, pak. Para pembunuh pun nanti bisa mendemo Luna Maya? Ihh ngeri kali..
Justru karena itu, tolonglah pak.. Tidak usahlah masalah ini dibawa ke ranah hukum. Sudah terancam di demo para pelacur dan pembunuh, eh mau dituntut pula. Habislah nanti karier artis terkenal itu. Kalau sudah begitu, siapa pula yang nanti akan “dibesarkan” oleh media? Apa kata dunia kalau sudah macam ini jadinya ?
Permisi dulu ah!