
Luciaeny, sekretaris salah satu koperasi di Makassar, Ide untuk menulis datang dari mengamati perilaku kreditur, dan berbagi cerita untuk memberi pencerahan.
Dibaca: 234
Komentar: 15
1 dari 4 Kompasianer menilai Aktual
Semenjak mengenal kompaisana, november bulan lalu, ada banyak hal menarik yang bisa diceritakan dan dibahas bersama2 lewat diskusi di kolom komentar ataupun berdialog, sekaligus sebagai ajang pertemanan yang sehat, karena di sini disediakan ruang interaksi dan komunikasi antar anggota yang disebut kompasianer.
Di awal pendiriannya 1 September 2008, kompasiana didedikasikan sebagai social blog para jurnalis harian Kompas dan Kelompok Kompas Gramedia ( KKG), serta beberapa orang penulis tamu dan artis, Namun dalam perjalannya antusiasme para blogger dan netizen untuk ikut ngeblok di Kompasiana sangat besar sehingga dibuatkan satu menu khusus bernama Public, maka lahirlah www.public.kompasiana.com.
Awalnya saya membuka di alamat website tsb, dan sekarang telah menjadi www.kompasiana.com, dengan wajah baru yang lebih up-date. Data2 tsb saya dapat dari googling di wajah kompasiana.
Tiba2 Kompasiana dilanda gonjang-ganjing yang sangat menyakitkan bagi para kompasianer, dijadikan ajang perjudian bagi para pecandu klak-klik yang yang melihat peluang. Kasihan ya, bagi para kompasianer yang punya tulisan2 berkualitas tapi tidak masuk dalam rating terpopuler, lebih parahnya lagi karena tulisan2 yang dijadikan ajang tsb adalah tulisan2 tidak bermutu…
Sejak awal mulai klak-klik di kompasiana, saya mengamati bukan baru kali ini kompasiana dilanda gonjang-ganjing, misalnya :
Ada dedengkot yang piawai menulis dan rupanya saya harus banyak mengamati tulisannya karena baru belajar nulis, dikawal oleh Pak Pray Ramelan, Pak Chappy Hakim, Pak Pepih Nugraha, Budiman Hakim, Pak Edi Taslim, Iskandarjet dll, dan kadang2 di-isi oleh penulis tamu spt Faisal Basri dll.
Beberapa hari yang lalu ada yang protes tentang tulisan2 yang tidak ber-mutu dalam kompasiana dari seorang journalist handal,
Mungkin bapak bisa bantu bagi2 ilmu di sini bagi penulis pemula, khususnya dalam memenggal bahasa, meletakkan tanda baca yang benar, agar kita2 bisa jadi Citizen Journalist yang handal, ditunggu lho pak.
Ada satu lagi kelompok Geng dari negeri antah berantah yang bernama Gotjoleria, yang dipawangi oleh baginda ASA, didampingi oleh permaisuri Inge dan selir2nya, bahkan hampir sebagian besar para penulis kompasiana menjadi rakyatnya.
Juga ada ruang2 khusus lainya bagi penulis yang punya spesialisasi yang tidak saya sebut satu persatu, mohon maaf, tapi percayalah sumbangan pemikiran anda2 telah memberikan pencerahan, dan mempunyai tempat di hati para penggemar masing2.
Tulisan ini muncul karena membaca tulisan Baginda ASA, sekaligus sebagai bentuk keprihatinan bagi orang2 yang tidak bertanggung jawab, memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada untuk menjadikan kompasiana sebagai ajang mencari keuntungan alias cari kangtau (bisnis) dalam bentuk perjudian…
Sebenarnya pertanyaannya adalah siapakah yang salah dalam hal ini, apakah yang punya kesempatan, atau yang memberi peluang ?
Inilah saatnya bagi tim pengelola Kompasiana, khususnya tim Admkompasiana, untuk mulai turun tangan membenahi sistem IT, supaya tidak disusupi oleh orang2 yang melihat kesempatan yang menguntungkan.
” Kita harus bertindak hari ini untuk menjamin esok hari yang lebih baik” ——kata Presiden Ronald Reagan.
Salam Kompasiana