Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Umar Hapsoro

Bosan jadi pegawai, lantas berwirausaha. Senang baca, dan suka juga nulis, tapi kadang2. ~ "Pengetahuan selengkapnya

Pseudonym

OPINI | 31 December 2009 | 18:10 Dibaca: 1935   Komentar: 40   12

pseudonym-tekno

pseudonym-tekno

Pseudonym (nama samaran) banyak dipakai para penulis dalam karya mereka. Pseudonim, kadangkala juga menunjukkan nama asli atau sifat/kebiasaan mereka. Bisa jadi maksud seorang penulis memakai nama samaran ialah untuk mengalihkan pendapat.

“What is a name?” Ungkapan dari Shakespeare ini boleh dibilang sangat lekat kaitannya dengan dunia tulis menulis. Contohnya, Samuel Langhorne Clemens (1835 - 1910), pengarang terkenal yang melejit lewat nama samarannya, Mark Twain. Konon, nama samarannya ini jauh lebih dikenal daripada nama aslinya. Beberapa karyanya yang cukup fenomenal a.l; The Adventures of Huckleberry Finn, The Adventures of Tom Sawyers, The Prince and the Pauper, A Connecticut Yankee in King Arthur’s Court serta satu buku non fiksinya, Life on the Mississipi.

Sekarang, ayo kita jalan-jalan sebentar ke search engine-nya oom Google .. Weleh-weleh, .. ternyata  kita bisa dapati dengan amat mudah informasi-informasi yang berguna, kredibel, dan bersih secara hukum dari para blogger yang memilih tidak menggunakan nama aslinya. Sebut saja, PJ atau groklaw. Sebaliknya, meskipun seorang blogger menampilkan identitas yang valid, belum menjadi jaminan isi blognya tidak akan bermasalah dengan hukum. Anonimitas maupun pseudonim bukanlah kejahatan, begitu tangkis penggemar pseudonim/anonim.

Buka mata mu… inilah dunia!, panggung dengan berbagai corak adegan dan para aktor. Kadang-kadang ia tampil dengan citra dirinya yang esensial, kadang juga sedang bersimulasi untuk tampil dengan karakter lain, bahkan mencoba melawan citra diri. Terkadang ia ingin di kenal sebagai tokoh antagonis, kadang juga sebagai hero yang dicintai. Ada juga yang belum siap untuk tampil sebagai aktor utama, ada yang hanya mau jadi figuran (penggembira saja), atau berperan sebagai peran pengganti.

Beragam deh,… ada yang nama asli, ada yang nama palsu, ada yang multi-identity, ada yang sembarangan, ada yang serius banget, ada yang gemar ngomel dengan keadaan di sekitarnya, ada yang sabar, ada yang sukanya jadi komentator saja, ada yang main-main (bercanda-ria), ada yang aya-aya wae. Pokeke komplit, … begitulah dunia.

Ini semua, semoga saja menjadi media kita untuk belajar mengenali peran para aktor dalam “panggung sandiwara” dunia. Sekali tempo, atau bisa jadi kadangkala mereka lupa, … bahwa ada juga bagian-bagian yang terkadang tidak selalu bisa ditutup-tutupi, .. IP address misalnya.

Biarkan saja temaannsss, .. karena memang beginilah dunia dengan segala carut -marut dan lika-likunya. Ada yang hanya ingin terlihat kulitnya saja, atau wajahnya. Bisa juga isi, esensi ataupun refleksi dirinya.

Orang tua jaman dulu bilang, “Jangan paksakan sesuatu yang engkau tidak mampu akan-nya. Biarkanlah, … karena manusia butuh sejumlah waktu dan ruang untuk belajar membuka diri, meniru, mengkritik, hingga mereka menemukan kebenaran baru setelahnya.”

MW Strickberger dalam bukunya “Evolution” mengutip Salah satu teori etik filsafat Pythagoras, tentang posisi penonton dalam satu sistem masyarakat; “Dalam hidup ini ada tiga macam manusia yang datang ke pertandingan olimpiade: yang paling hina adalah mereka yang datang ke pertandingan untuk berjualan. Jenis yang lebih baik adalah mereka yang datang ke pertandingan untuk ikut bertanding. Sementara jenis yang terbaik adalah mereka yang datang hanya untuk menonton. Kebebasan tertinggi bagi manusia datang, ketika ia mampu dengan dingin menonton dan menganalisa satu proses. Mereka yang mampu melakukannya niscaya terbebas dari beban sirkularitas hidup nan membosankan.”

Di tengah ramainya orang yang mencela komentator, teori etiknya Pythagoras jadi terdengar canggung dan naif. Masa sih, … menganalisa suatu proses (tulisan) lantas mengomentarinya, dinilai masuk dalam ranah kebebasan tertinggi manusia? Komentator-nya Pythagoras tidak peduli pendapat orang. Ia berkomentar demi dan bagi dirinya sendiri.

Dengan menyembunyikan identitas asli berarti ada yang ditutupi, .. mengapa?. Konsep pikir yang kontradiktif karena dia minta diapresiasi selayaknya sebuah pribadi, tapi untuk menyebut dirinya saja dia enggan, demikian argumen yang saya kutip dari salah satu komentar dalam tulisan di Kompasiana ini.

Barangkali banyak kompasianer mendambakan, Kompasiana sebagai “kampus terbuka,” yang diisi oleh para netter, blogger, users, reader sekaligus writer yang berani menunjukkan identititas dirinya dengan berani. Apa yang ditulis, apa yang dikomentari, semua ditulis dengan nama asli, bukan nama samaran. Pertanyaannya, cukup punya nyalikah kita melakukannya? Beranikah kita menunjukkan siapa diri kita sebenarnya di ruang diskusi terbuka yang seharusnya menjunjung tinggi kejelasan identitas? Bersediakah kita memposting dan atau mengomentari tulisan dengan menunjukkan siapa diri kita setidak-tidaknya lewat foto avatar masing-masing?,” demikian tulis H. Pepih Nugraha dalam artikelnya, “Biasakan Menulis dan Berkomentar di Kompasiana dengan Nama Asli. Berani?”, Kompasiana, 8 Juni 2009.

Memang kusadari (waduh, nyanyi nih ye), … social blog sebagai media alternatif, tidak terikat dengan kaidah-kaidah jurnalistik, namun blogger seyogyanya juga harus menyadari bahwa ada aturan, kebiasaan atau norma-norna yang berlaku di masyarakat.

Blog di internet itu analoginya kira-kira mirip seperti catatan pribadi kita yang ditempel di jalan umum, entah mau kita tandai dengan mengisi nama penulis yang sebenarnya atau hanya alias (nama samaran), yang penting isinya, kalau berguna, yach … dibaca dan digunakan, kalau isinya hanya berisi sampah, maka tong sampahlah tempatnya.

Salah seorang yang ‘dilabeli’ pakar IT (saya emoh menyebutkan namanya), pernah menyerukan supaya para boggers membuat identitas yang valid ketika membuat blog. Seyogyanya memang, ketika seorang bloggers menulis harus meyadari bahwa ketika meng-klik “publish”, … itu artinya tulisan yang kita tulis sudah menjadi milik publik. Namun, bagi sebagian blogger berpandangan, hidup adalah pilihan. kita nyaris tidak memiliki kekuatan untuk memaksa lebih, hanya sekedar berupaya mengingatkan.

Jadi, biarlah. karena arti dan pandangan sebuah nama bagi tiap orang pun berbeda. Jadi biarkan mengalir seperti halnya hidup. Bukankah dengan nama asli sekalipun, tidak sama sekali menghapuskan kemungkinan untuk menipu. Demikian pula halnya dengan nama palsu, sama sekali tidak kehilangan kekuatan untuk menebarkan rahmah dan kebaikan. Blog adalah media, dan sebuah media harus ada aturan dimanapun dan kapanpun. Dinegeri ini sudah ada regulasi untuk itu (UU ITE).

Memakai identitas asli memang ideal, tapi anonim pun tidak salah, apalagi di internet. Kalau dibilang blogger itu perlu membuat identitas asli pada saat register, itu menurut siapa?, … toh penyedia layanan blog pun (blogspot, wordpress, multiply, facebook dsb) tidak pernah secara tegas mensyaratkan penggunaan identitas asli, karena apa?, ya .. karena anonimitas/pseudonim di internet adalah sebuah pilihan. Sama seperti ketika kita memilih untuk menggunakan identitas asli. Atau barangkali, mereka juga lupa memberikan argumentasi, bahwa memberikan salam serta menyebutkan identitas kita, ketika masuk kerumah orang, juga tidak ada dalam undang-undang.

Menggunakan pseudonym itu boleh-boleh saja dalam menulis, tapi jangan salah, identitas asli tetap ada pada penerbit. Ngeblog juga begitu, silahkan saja menggunakan nama samaran, tapi ketika register di Kompasiana, …. ya gunakan identitas asli dong, namanya juga kita masuk ke rumah orang. Berlaku juga buat komentator. … Gitu aja koq repot …

Salam,

Tukang nasi yang biasa jualan dipinggir jalan

Sumber gambar : Google

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 3 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 4 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 5 jam lalu

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Dampak ‘Mental Proyek’ Pejabat …

Giri Lumakto | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: