Artikel

New Media

Riri Satria

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

just visit me at http://ririsatria40.wordpress.com

Jangan Anggap Enteng Twitter


HL | 26 July 2010 | 09:53 Dibaca: 339   Komentar: 3   Nihil

Menarik melihat tulisan utama harian Kompas hari Minggu kemarin (25 Juli 2010) tentang Twitter. Kompas menyimpulkan bahwa Twitter adalah sebuah perubahan total komunikasi melalui revolusi 140 karakter, serta ajang pembelajaran seperti kuliah gratis, bahkan membentuk “Twittizen atau warga negara Twitter”. Saya sependapat dengan ulasan Kompas tersebut. Saya sendiri juga pengguna Twitter walaupun tidak setiap saat melakukan tweet, tetapi merasakan apa yang ditulis oleh Kompas dalam ketiga tulisan tentang Twitter tersebut.

Kebetulan saat ini saya sedang menyusun disertasi doktoral berkaitan dengan penggunaan aplikasi jejaring sosial (blog) untuk pembentukan modal sosial di masyarakat. Twitter sendiri adalah suatu bentuk blog yang sering disebut dengan istilah blog mikro karena keterbatasan karakter untuk pengiriman pesan, tetapi itu pula yang menjadi kekuatannya, di mana unsur kesegeraan (immediate) menjadi terpenuhi. Apakah Twitter ini membentuk modal sosial di masyarakat? Eh, apakah itu modal sosial? Modal sosial adalah suatu kondisi di mana terbentuk suatu pengetahuan kolektif pada masyarakat, lalu merekatkan, dan akhirnya mampu melakukan aksi sosial secara kolektif. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa modal sosial mampu memberikan kontribusi positif kepada masyarakat baik dalam aspek pembangunan ekonomi maupun aspek lainnya.

Jika dilihat dari kerangka teori modal sosial, maka Twitter diperkirakan mampu membentuk 2 (dua) jenis modal sosial yaitu (1) bridging social capital, serta (2) linking social capital. Lihat tulisan saya mengenai modal sosial dan internet di sini, serta bentuk modal sosial (bonding dan bridging) di sini (khusus untuk linking social capital saya menemukan konsep itu setekah artikel di blog tersebut ditulis).

Dengan menggunakan Twitter, seseorang bisa menambah relasi atau jejaring baru yang memfokuskan kepada perluasan jejaring atau kuantitas jejaring (bridging social capital). Seseorang bisa dengan mudah mem-follow orang lain dan bahkan mengirimkan pesan. Tetapi kualitas relasi tidaklah tinggi di Twitter. Untuk kualitas relasi (bonding social capital), maka fasilitas lain seperti facebook, blog konvensional, atau blog komunitas jauh lebih ampuh (lihat studi kasus ngerumpi.com di sini). Bahkan Twitter juga sering dipergunakan sebagai alat menyebarkan kabar mengenai apa yang ditulis pada facebook, blog konvensional, atau pun blog komunitas.

Nah, apabila dengan menggunakan Twitter seseorang sudah bisa mengakses sebuah lembaga atau organisasi dengan beda strata, maka terbentuklah linking social capital. Misalnya, sekarang Menkominfo Tifatul Sembiring dan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum pun aktif di Twitter dan bisa diakses semua pihak. Maka secara tidak sengaja, terbentuklah suatu relasi dari masyarakat banyak ke tokoh puncak suatu organisasi, dan inilah linking social capital. Suara-suara ataupun aspirasi yang beredar di masyarakat luas pun bisa didengar dan menjadi masukan untuk organisasi tersebut, dan sebaliknya masyarakatpun bisa mendapatkan berbagai informasi dengan cepat.

Jadi … jangan anggap enteng ya si Twitter ini …. tweet!

Salam
Riri Satria

(foto : Twitter Inc)

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: