
Dulu wartawan peliput politik nasional dan internasional. Sekarang sehari-hari ikut 'ngurusin' harian Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV.
Dibaca: 940
Komentar: 191
1 dari 1 Kompasianer menilai Menarik
Selamat siang para Kompasianers yth,
(selamat berpuasa bagi teman2 yang sedang menjalankan ibadah puasa)
Seraya mengucapkan alhamdulillah, saya ingin berbagi informasi kepada teman2 bahwa di Alexa.com, Kompasiana sudah bertengger di antara 100 website termashur di Indonesia. Padahal pada awal tahun, kami mengasumsikan keberadaan Kompasiana di antara 100 website terbanyak diakses di Indonesia itu adalah pada bulan September. Jadi lebih cepat. Menurut salah satu Kompasianer, Pak JK (masih ingat?), lebih cepat, ya lebih baik.
Saya merasa bersalah dalam hal ini karena jarang sekali menulis, padahal keinginan menulis selalu menggebu-gebu. Banyak alasan, dari yang masuk akal hingga yang akal-akalan.
Tapi kali ini saya ingin berbagi pendapat dengan Anda semua tentang kemungkinan kita, seluruh Kompasianers, membangun JARINGAN JURNALIS WARGA untuk KOMPAS.com.
Kalau saja ada 100 warga Kompasiana yang bisa memberikan laporan tentang suatu peristiwa atau tentang apa saja yang menjadi kepentingan masyarakat banyak dari daerahnya masing-masing, itu sudah merupakan sumbangan yang maha penting bagi penyebaran informasi tentang “apa yang terjadi atau real time di Indonesia saat ini.”
Menurut Kang Pepih, admin kita, sekarang ada 35 ribu warga yang terdaftar sebagai Kompasianers, dan tersebar di berbagai pelosok negeri. Wah … wah banyak sekali ya. Pasti termasuk juga Kompasianers di luar negeri (maksudnya di luar wilayah geografis Indonesia). Angka itu memberikan harapan bahwa sebuah jaringan jurnalis warga sebetulnya sudah bisa dibangun. Dan, bahkan bisa menjadi sangat dahsyat. Kompas.com sebagai mainstream media dapat menjadi wahana bagi penyebaran informasi tersebut.
Peristiwa di hyperlocal
Sekarang ini Kompas.com tidak bisa memberikan informasi kepada para pembacanya (sekitar 15 juta pengunjung setiap bulan) tentang peristiwa-peristiwa yang up-to-date pada level sangat lokal. Dalam istilah media massa disebut hyperlocal news. Ada beberapa alasan, antara lain bahwa wartawan jaringan Kompas Gramedia tidak berada pada level sangat lokal tersebut.
Sedangkan para kompasianers pasti tersebar tidak hanya di kota-kota, tetapi juga di desa-desa. Sehingga melalui laporan peristiwa tersebut, informasi tidak hanya bisa dinikmati oleh warga setempat melalui koran-koran lokal, tetapi juga oleh warga asal daerah itu di tempat lain. Saya yang berada di Jakarta, misalnya, bisa saja tiba-tiba mendapatkan informasi tentang perkembangan yang terjadi di daerah kabupaten Bandung, yang dilaporkan oleh seorang warga Kompasiana.
Tentu akan ada yang mengajukan pertanyaan, dan ini pertanyaan paling penting. Sejauh mana berita atau informasi yang dikirimkan kompasianer itu bisa dipercaya. Nah, kalau hal ini kita tidak bisa menjawab secara memuaskan. Kita hanya percaya saja bahwa kompasianers adalah warga negara yang baik dan jujur. Tapi terlepas dari diskusi berkepanjangan nanti tentang berbagai hal, pertama-tama saya ingin mengetahui saja dulu sejauh mana tanggapan Anda semua terhadap gagasan tadi itu, membangun jaringan jurnalis warga untuk Kompas.com.
Silakan kemukakan pendapat Anda. Kami akan mendengarkannya …
Terimakasih, selamat siang!