
..perEMPUan biasa. [..mengurai makna di deret kata, tuangkan geliat pendulum rasa sukma & benak....di sela hiruk pikuk rutinitas diri sebagai insan biasa, Ibu, dan Dokter..]
Dibaca: 201
Komentar: 33
3 dari 5 Kompasianer menilai Bermanfaat
Menarik dicermati, setiap Penulis berhak penuh memilih jenis gaya penulisannya. Disadari ataupun tidak. Disengaja maupun tidak. Di jagat media manapun. Hal yang telah melekat begitu bagi karya tulis yang sengaja dipublikasi, maupun tidak. Terlepas dari disetujui tidaknya gaya yang dipilih tersebut oleh Pihak Pempublikasi.
Saya kira, pilihan gaya menulis setiap Penulis memiliki latar belakang yang acapkali jelas dipilih secara sadar oleh sang Penulis.. bisa juga sudah melekat erat di seluruh diri sang Penulis tanpa lagi menyadarinya. Hal yang lalu telah mewujud jadi gaya, ciri, dan keunikan individual sang Penulis. Hal yang nyata membedakannya dengan Penulis lain manapun yang pernah dikenal di muka sang Bumi.
Atas dasar pertimbangan tertentu, setiap Pihak Pempublikasi menggunakan haknya mengendalikan ragam tulisan hasil karya para Penulis, sebelum dipublikasi. Salah satu pilihan cara yang dipakai selain tidak meloloskan tulisan adalah: dengan memoderasi detail pilihan kata dalam naskah tulisan, sebelum dipublikasi.
Meski awam, sejak bisa membaca di usia taman kanak-kanak.. dan mulai menuliskan kata di usia sekolah dasar kelas satu berpuluh tahun lalu, saya suka mengamati ragam gaya penulisan para Penulis. Termasuk menuliskan detail isi benak dan pendulum pergulatan bathin saya sendiri ke lembar memori saya.. juga ke atas kertas apapun yang saya temukan.
Entah dari mana mulanya, mengamati dan menyelami pribadi sang Penulis dari untaian kata keramatnya sedemikian mengasikkan bagi saya. Ia termaknai sebagai salah satu cara menyelami dan menjamah kedalaman sukma serta keramatnya prosesi internal sang Penulis, melalui pilihan kata serta keunikan gaya penguntaiannya. Jagad kedalaman makna sang buah karya tulis semakin indah sekaligus keramat, lalu.
Yang lantaran itu, khusus publikasi tulisan yang dihasilkan oleh Penulis yang telah masuk kategori “saya kenali”, sangatlah terasakan bila dalam penyajiannya ada keterlibatan pihak luar, di sana. Bila ada kata yang dihilangkan.. ditambahkan.. atau diganti. Di-moderasi.
..
..
Sebagai Media, tidak sedikit yang telah sepakat: Kompasiana sangat menarik. Bahkan terlampau menarik, saya kira. Banyak di antara Kompasianer yang relakan diri terus bersama Kompasiana sepanjang harinya. Sebagian hingga kurang tidur pula, karenanya.
Dengan moderasi yang tetap dilakukan berdasar ketentuan tata tertib yang jelas dan terbuka kepada publik, Kompasiana mengakomodasi ragam tulisan.. termasuk ragam gaya yang melekat dalam setiap tulisan yang dipublikasi.
Terkait hal tersebut, sekadar berbagi, ada tulisan saya sebelum ini: “Menakar Managemen Intuisi Sang Pemimpin”, yang beberapa saat setelah saya publish alami perubahan isi kata dalam tags-nya. Beberapa kata kunci utama raib, entah karena apa.. entah oleh siapa. Menyisakan kata-kata kunci pelengkap saja.
Menariknya, berimbas memunculkan pertanyaan yang bisa jadi mengait:
Saudara Astoko Dato:
mengutip tags ” rendah hati, bijak, murni, jujur, sadar diri, peka, managerial, ” saya berkali melihat kelemahan (sby?) pemimpin dalam keberanian mengambil keputusan…..
tulisan anda tetap juga bagus, terima kasih….
Yang lalu saya tanggapi:
Sugeng enjing, Bung Astoko..
Maturnuwun, nggih..
Terkait tags dalam tulisan ringan saya kali ini, saya kira ada pihak lain yang telah mereduksinya. Saat posting, saya cantumkan beberapa kata penting lainnya. Tetapi sesaat setelah tulisan terposting: (DI)hilang(KAN). Bukan oleh saya.
Di antara yang (DI)hilang(KAN) adalah kata: visi, INTUISI, rapid cognition, thin slicing, snap judgement, bawah sadar, nurani.
Terkait Managemen Kepemimpinan yang sedang saya paparkan, selain PEKA, titik fokus utama saya soal: INTUISI. Kata paling penting yang (DI)hilang(KAN) oleh pihak lain, bukan oleh saya.
Semoga dapat dipahami.
Oya, saya kira, ada kata “rendah hati” yang bisa jadi dipahami berbeda dengan yang saya maksudkan.
Rendah Hati tentu berbeda dengan rendah diri/minder.
Rendah Hati berakar dari keunggulan kesadaran diri. Hanya Insan ber-mental kuat-lah yang mampu ber-rendah hati.
Sementara, rendah diri bermuasal dari: kurangnya penghargaan terhadap hakekat diri sendiri.
Seorang Pemimpin seyogyanya ber-rendah hati.
Darinya muasal kePEKAan, demi optimalisasi kejernihan-kemurnian INTUISI-nya.
Hal penting yang mengawali setiap keputusan pilihan kebijakannya.
Termasuk kebijakan soal genting yang membutuhkan pilihan cepat, tegas, sekaligus bijak.
Bukan lamban, terlebih “plintat-plintut”.
Hal yang dapat dilatih intens bila sang Pemimpin telah terlatih lakukan Rapid Cognition, atas Thin Slicing dan Snap Judgement.. berlandaskan INTUISI mumpuni yang jernih dan murni.
Mekaten
..hmm.. semoga bias yang muncul bukan akibat raibnya beberapa kata kunci utama dalam “tags” tulisan saya tersebut, tetapi karena pemahaman sang Penyimak.. serta cara saya memilih gaya penulisan.
Mohon maaf . . sekedar berbagi.
Terimakasih, yea.. . . sudah mendengarkan saya.