
Dulu wartawan peliput politik nasional dan internasional. Sekarang sehari-hari ikut 'ngurusin' harian Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV.
Dibaca: 365
Komentar: 27
3 dari 5 Kompasianer menilai Menarik
Hari ini, seorang wartawati majalah ibukota menulis dalam akun twitternya, begini: “Berangkat wwcr Musdah Mulia di kantor ICRP… Ada yang mau titip pertanyaan, tweeps?”
Beberapa hari sebelumnya, seorang wartawati televisi juga menulis dalam akun twitternya: “Wawancara Menlu Marty Natalegawa soal perundingan dgn Malaysia di @akimalamtvone. Tweeps, mau titip pertanyaan? Dan, dalam beberapa saat kemudian, wartawati cantik tersebut menulis lagi di twitter-nya: Tweeps, canggih deh titipan pertanyaan2 buat Menlu. Saluut! Makasih yaaa
Idenya boleh juga ya. Seorang wartawan, sebelum berangkat wawancara sumber berita mencoba mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan, yang menarik perhatian audiens-nya. Dan, itu menurut saya sah-sah saja, nggak ada masalah. Toh pertanyaan apapun boleh diusulkan, dan akhirnya akan dipilih sendiri oleh wartawannya, pertanyaan mana yang menurut dia relevan, ada link and match-nya, dengan media massa tempat ia bekerja.
Ini memang zaman users-generated content, di mana konten media massa sudah selayaknya adalah konten yang memang betul-betul diminati masyarakat pembacanya. Arogansi redaksi dulu bahwa wartawan menentukan apapun isi media massa tempat dia bekerja selayaknya ditinggalkan hari ini.
Users-generated content itu bukan hal baru, karena dalam media massa tradisional juga kita mengenal opini pembaca dan surat pembaca. Hanya saja, biasanya konten itu dimuat di media massa setelah terlebih dulu diedit. Hari ini, dalam hal-hal tertentu, media massa bahkan memuat langsung konten yang dikirimkan oleh audiens-nya tanpa diedit. CNN menandai konten itu dengan istilah “unedited”.
Menggali pertanyaan dari masyarakat untuk disampaikan kepada sumber berita, lalu ditulis di media massa di mana dia bekerja, menurut saya, ide yang sangat baik. Wartawan tidakserta-merta bersikukuh dengan pendapatnya (yang bisa saja dilandasi dengan asumsi salah, atau datang ke sumber berita dengan pikiran yang sudah di-frame sebelumnya). Wartawan membuka pikirannya bahwa ada pikiran lain yang hidup dan berkembang di masyarakat. Satu pertanyaan pasti mewakili sekian puluh, ratus, bahkan mungkin ribu orang, sehingga konten yang akan disajikan nanti merupakan bagian dari pikiran banyak orang juga.
Dan, prinsip customer focus memang sudah saatnya diterapkan oleh media massa kalau dia ingin tetap eksis di mata para pembacanya. Itu dari sisi keredaksian. Kalau dari sisi bisnis, customer focus berarti memperhatikan kepentingan, antara lain, para pemasang iklan. Bagaimana kita bisa menjamin keterbacaan yang makin meluas supaya penawaran mereka terbaca oleh makin banyak orang dan brand mereka juga ikut berkembang, dikenal makin banyak orang.
Audiens adalah segala-galanya bagi media massa. Tanpa mereka, media massa mati.