Artikel

New Media

Zal Amril

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

alangkah lucunya negeri ini..... dan kompasiana lebih lucu lagi.

Politikana Vs Kompasiana Menurut Agen Ganda (Kritik buat Admin)


OPINI | 19 October 2010 | 16:08 Dibaca: 311   Komentar: 35   1 dari 2 Kompasianer menilai menarik

Sebelum mengenal politikana saya ikutan kompasiana terlebih dahulu. dan gara-gara membaca profilnya si mbocahndeso, saya jadi kenal politikana, baca-baca lalu membuat tulisan-tulisan.

kesimpulan saya;

1. bahwa kompasiana lebih manusiawi karena itu admin yang nota bene manusia, bisa begitu suka-suka menentukan artikel mana yang pantas untuk dipajang. dan artikel mana yang mesti buru-buru dipendem habis-habisan (contoh anda bisa buktikan bahwa artikel saya ini “masuk high light aja pun tidak!??!?!?”).

politikana lebih mesinawi karena admin membiarkan mesin rating, mesin komentar, dan mesin pamor bekerja untuk menentukan suatu artikel layak menjadi HL atau tidak. (artikel ini sempat jadi hl dipolitikana, dan beberapa tulisan saya yang diposting di kompasiana dan dipolitikana bisa jadi hl)

2. kompasiana begitu koncoisme; maka secara tidak langsung membentuk sub-sub kelompok kompasiana. tulisan konco mempunyai hak preogratif untuk tampil menjajah tulisan-tulisan dari seorang lone ranger (seperti saya). dan terjadi perang komentar (debat kusir) antar 1 perkoncoan dengan 1 perkoncoan yang lain.

politikana dengan cerdik memecah dua aliran tulisan; aliran 1 yang dimanage oleh mesin; dan aliran 2 yang diolah oleh moderator (pilihan moderator). disini peran admin hanya penyeimbang, antara tulisan yang hl karena rating, hit dan komen; dengan tulisan yang bermutu tapi tidak mendapat perhatian yang luas dari politakaners.  itupun ditempatkan dimenu sampingan “PILIHAN MODERATOR”.

3. Anggota kompasiana selalu merasa takut disusupi dan suka memandang ini account siluman apa bukan; atau ini adalah account manipulasi; padahal menurut saya di dunia maya ini sudah tidak relevan lagi soal-soal siluman.

Politikaner tampil beda untuk itu…. gak suka ya gak usah dibaca dan gak perlu dirating. tidak ada yang pernah menanyakan saya siluman apa bukan? sungguh berbeda dengan kompasiana.

4. soal copas mengcopas kompasiana lebih baik (atau saya yang nggak ngerti aja kali…, karena beberapa tulisan ternyata kopas dan buru-buru dihapus admin setelah ada laporan, padahal telah terlanjur jadi hl);

dipolitikana dibolehkan asal jelas menulis judulnya ”(copas)xxxxx”; dan kebanyakan artikel copas masih terlalu mentah, tanpa diolah dulu , namun buat saya tulisan copas layak selama disebutkan sumbernya dan jelas-jelas menulis “copas”.  Artikel semacam ini bermanfaat kepada pembaca yang belum membaca sumber aslinya.  Masalah kreatif atau tidak kreatif itu tergantung kepada politikaner/kompasianer untuk membaca, memberikan tanggapan atau merating terserah.

Kesimpulan; Politikana lebih baik, dan layak untuk diseriusi. tapi maaf saya tetap menjadi agen ganda alias nulis rangkap di kompasiana dan politikana, karena ada juga warisan perkoncoan saya dikompasiana…

namun demikian saya berprasangka baik saja; bahwa habitat tulisan saya adalah politikana…. not here.. karena komen saya tentang indonesia apalagi pak beye terlalu liberal bahkan brutal.

namun demikian kalau ada yang sakit hati dengan komen…. maka anda belum layak menjadi seorang demokrat (bukan demokrat sby yah) sejati. komen adalah bagian terbawah dalam piramida blogger keroyokan ala politikana atau kompasiana. ya cuma sekedar penggembira….

semoga setelah ini; tulisan saya tidak dibredel oleh pak admin. karena sekarang baru sekedar di pendem, kaya mayat yang mau dikubur…

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: