Artikel

New Media

Mariska Lubis

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Baru saja menyelesaikan buku "Wahai Pemimpin Bangsa!! Belajar Dari Seks, Dong!!!" yang diterbitkan oleh Grasindo (Gramedia Group). Twitter: http://twitter.com/MariskaLbs dan http://twitter.com/art140k juga @the360love bersama Durex blog lainnya: http://bilikml.wordpress.com dan mariskalubis.wordpress.com

Kompasiana dan Kompasianer, Damai Yuk!


HL | 30 November 2010 | 20:15 Dibaca: 478   Komentar: 121   5 dari 14 Kompasianer menilai Bermanfaat

1291122841483662676

Illustrasi: pages.prodigy.net

Kompasiana sudah melewati ulang tahunnya yang kedua, dan saya belum mengucapkan selamat. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan?! Lagipula saya bingung mau kasih ucapan selamat apa, soalnya bukan selamatnya yang menurut saya lebih penting, tetapi bagaimana dengan langkah selanjutnya?!

Sudah sekian lama saya memang tidak menulis lagi di Kompasiana. Selain karena memang saya sedang kurang sehat dan ada banyak sekali prioritas pekerjaan yang harus saya lakukan, saya juga sebenarnya sedang melihat sejauh mana perubahan yang terjadi pada Kompasiana setelah melewati ulang tahunnya. Lebih baikkah atau sebaliknya?!

Ternyata, bukan masalah lebih baik atau lebih buruknya yang lebih menarik perhatian saya. Masalah IT, seringnya error dan sekian banyaknya tulisan saya yang hilang, bagi saya bukanlah sesuatu yang bisa dianggap buruk. Banyak hal lain yang lebih buruk lagi mengingat semakin sulitnya bagi saya untuk membaca kata-kata yang penuh dengan arti dan makna lewat untaian dan uraian kata yang indah dan menawan. Tampilan Kompasiana yang lebih baik dan meningkatnya juga jumlah Kompasianers yang masuk juga tidak bisa dianggap baik. Banyak hal lain yang lebih baik lagi dari Kompasiana ini karena telah mengundang banyak orang untuk mau menulis dan berani untuk menulis. Lebih penting lagi, memiliki banyak teman dan sahabat bahkan keluarga.

Oleh karena itulah juga, saya tidak menganggap bukanlah sesuatu yang penting untuk menjadi “yang penting” atau “dipentingkan” atau”ingin dipentingkan”. Begitu juga untuk menjadi yang ter, ter, dan ter. Sudah sewajarnya sajalah kalau memang kemudian ada yang memang lebih penting, penting, tidak penting, dan sama sekali tidak penting. Begitu juga kalau sampai ada yang mengejar ter, ter, dan ter. Sudah bukan barang baru lagi di Kompasiana ini bila selalu saja ada masalah di dalam hal ini meski semua selalu bicara tentang yang baik dan hebat tentang dirinya, tetapi kualitas, komitmen, dan ketulusan serta kebesaran hati ternyata dilupakan begitu saja, tuh!!!

Menurut saya pribadi, lebih penting menjadi seorang penulis sejati daripada hanya menjadi seorang pengobral kata tak berarti dan tak bermakna hanya karena ingin menjadi yang ter dan paling. Biasa sajalah. Semua ada proses dan waktunya. Semua juga ada hasilnya, toh, di dalam setiap aksi pasti ada reaksi.

Banyaknya pendatang baru juga selalu menjadi masalah lain lagi. Ini sudah terjadi sejak pertama kali Kompasiana melakukan moderasi. Sudah berulang kali juga saya menuliskan tentang hal ini, di mana kesenjangan antara yang sudah lama, yang masih baru, yang senior, yang junior, terus saja terjadi. Plus ditambah banyak yang “menjadi siapa” dan lalu senang menjadi “kompor” dan “membakar”, dan banyak juga yang mau pula dipermainkan begitu saja. Sudah tidak heran juga bila banyak yang lempar batu sembunyi tangan atau bersembunyi di balik yang lainnya.

Saya sendiri, sewaktu pertama kali masuk Kompasiana, saya tidak segan untuk menyapa yang senior lebih dahulu dan bertanya banyak hal. Saya bukannya ingin menjilat tetapi saya harus membaca peta dan situasi yang ada. Salah-salah bisa salah melangkah dan tujuan saya pun tidak tercapai. Harus pandai-pandailah kemudian mencari langkah yang tepat. Tidak ada salahnya bertanya daripada sesat di jalan?!

Saya juga tidak malu untuk menyapa duluan yang lebih junior dari saya, karena saya sendiri sebenarnya tidak suka sama sekali dengan adanya batasan antara senior dan junior ini. Tata krama dilakukan memang untuk pada tempatnya bila semua menyadari posisinya masing-masing. Ini hanya masalah etika dan norma saja. Di dalam bersosialisasi tentunya sudah sepatutnya tahu bagaimana menempatkan diri masing-masing agar bisa diterima dengan baik.

Yang paling penting untuk saya, saya tidak pernah mau menjadi yang lain. Saya adalah Mariska Lubis dan baik atau buruknya seorang Mariska Lubis, itulah saya yang sebenarnya. Tidak ada yang palsu ataupun ditutupi karena satu hal yang saya pegang di dalam dunia tulis menulis ini, yaitu: Saya harus bisa dan berani mempertanggungjawakan semua yang saya tuliskan, sekecil atau sedikit apapun kata itu. Lebih baik saya hilang karena menjaga kehormatan, harga diri, dan juga tanggung jawab daripada saya menjadi hebat karena sebagai orang lain.”

Mengenai masalah ter, ter, dan ter ini, saya melihat bahwa apa yang terjadi perihal pertanyaan tentang gelar yang diterima oleh Bang ASA dan Pak Kate disebabkan karena memang posisi itu tidak ditempatkan dengan baik ditambah lagi dengan komunikasi yang kurang serta terlalu banyaknya kepalsuan. Bang ASA memang lebih dari 300 tulisannya menjadi tulisan terpopuler selama satu tahun terakhir ini. Kalau memang ada yang protes karena beliau mendapat gelar Kompasianer Terpopuler, ya, wajar. Admin sendiri tidak mengumumkan kriteria dan alasannya kenapa beliau sampai terpilih lalu ditambah lagi jejak masa lalu Kompasiana memang jarang sekali ada yang mau melihatnya dan banyak yang hilang. Yah, maklumi jugalah. Admin Kompasiana itu tidak sebanding jumlahnya dengan Kompasianers yang ada. Itu menurut saya pribadi, ya.

Sebagai tambahan, menurut saya pribadi, Bang ASA memang berjasa sekali di dalam mempopulerkan Kompasiana. Ini adalah penilaian saya yang objektif meski saya dekat dengan Bang ASA. Saya banyak tidak sependapat dengan tulisannya, namun beliaulah yang telah membawa Kompasiana ke FB dan Twitter untuk pertama kalinya. Saya adalah salah satu orang yang diajaknya untuk mau melakukan banyak hal bagi Kompasiana ini. Jadi, menurut saya, seharusnya Bang ASA mendapatkan penghargaan lebih dari itu semua.

Juga demkian halnya dengan Pak Katedra. Meski saya juga sering tidak sependapat dengan beliau, tetapi itu sebatas masalah pendapat, bukan masalah pribadi. Berapa kali kami ribut, tapi tetap saja berkawan dan bersahabat. Beliau memang sangat aktif sekali. Sehari bisa posting sampai lebih dari sepuluh tulisan. Terbayang berapa banyak waktu yang beliau habiskan untuk Kompasiana. Berapa banyak juga pundi-pundi yang dikeluarkan untuk bisa tetap on-line. Kalau kemudian mendapatkan hadiah, yah, sudah sepantasnyalah.

Di sisi lain, sebenarnya ada banyak lagi Kompasianers yang menurut saya seharusnya mendapatkan penghargaan. Bukan sebagai yang ter, tetapi yang memang saya anggap seorang penulis sejati. Mereka adalah yang menulis dengan sepenuh hati dan jiwa, dan dengan kebesaran hatinya memberikan tulisan itu kepada semua tanpa ada pamrih sedikit pun. Tidak pernah ingin menjadi yang ter, namun selalu fokus pada apa yang menjadi tujuannya. Tidak juga peduli dengan segala intrik dan politik yang terjadi di dalam Kompasiana ini. Bagi saya, mereka itulah yang saya hormati dan saya hargai.

Kita semua memang selalu saja ingin lebih banyak dan meminta lebih banyak sehingga lupa dengan apa yang sebenarnya kita berikan. Bicara tentang cinta pun terkadang rancu sendiri, apa benar itu cinta untuk yang lainnya ataukah sebenarnya hanya cinta pada diri sendiri?! Belum lagi kemudian masih saja berkutat pada pribadi, bukan pada karya ataupun hasil karya. Rasanya aneh bila diri yang dibanggakan, padahal seharusnya karya dan hasil karya itulah yang membanggakan.

Untuk menjawab pertanyaan saya di atas, saya jadi memiliki pertanyaan baru lagi untuk saya sendiri. Apa yang sebenarnya saya inginkan?! Bukankah itu yang seharusnya saya tuju dan jadikan tujuan serta prioritas?! Jika demikian, kenapa saya harus bertanya apa yang akan saya lakukan selanjutnya?! Tentunya, seharusnya saya tahu apa yang seharusnya saya lakukan. Bukan yang lain.

Kita semua ingin senang dan bahagia, kan?! Sudahlah yuk! Mulai lagi dengan lembaran baru! Jadilah seorang penulis sejati. Jangan mudah terpancing dan terprovokasi. Semua bisa mengendalikan diri, kan?!  Jangan pernah lupakan proses dan hanya melihat hasil akhir. Proses itu jauh lebih berharga dari hasilnya.

Kritik dan komentar itu pun tidak memiliki arti dan makna yang bisa menjadikan semuanya lebih baik bila kata itu sendiri pun hanya sekedar kata. Kata yang tidak memiliki arti dan makna, kata yang tidak bisa dibaca dengan baik ataupun dibaca dengan baik pun tidak akan menghasilkan apa-apa bagi masa depan yang lebih baik, baik untuk diri sendiri maupun yang lainnya.

Admin pun sebaiknya, jika memang memungkinkan, alangkah indahnya bila selalu memberikan informasi yang lengkap agar tidak terjadi kesalahpahaman terus menerus. Capek juga, kan, dimarahi Kompasianers?!

Mari kita saling kenal lebih baik lagi. Tak kenal maka tak sayang bukan?! Milikilah cinta yang sesungguhnya dan selalu berikanlah yang terbaik dengan tulus dan ikhlas. Damai itu indah banget, lho!!!

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: