
Blogger Laper... www.belummandi.com Follow @maswidik
Dibaca: 141
Komentar: 7
Nihil
Kini televisi dan radio di Prancis tak lagi bisa menyebut kata “twitter” dan “facebook” dalam siarannya. Sebuah aturan baru telah diterapkan di negara Eropa itu, sehingga penyiar televisi maupun radio tidak lagi bisa mendorong interaksi dengan pemirsa atau pendengarnya lewat kedua media sosial itu.
Situs yang fokus dalam media sosial, mashable.com, melaporkan bahwa istilah umum yang lazim di dunia penyiaran Amerika seperti “follow us on twitter” (ikuti kami di twitter) dan “like us on facebook page” (klik suka di halaman facebook), sekarang menjadi hal yang dilarang di Prancis. Penyebutan keduanya masih diperbolehkan dalam konteks pemberitaan mengenai kedua perusahaan tersebut.
Peraturan itu dibuat demi keadilan karena twitter dan facebook adalah perusahaan komersial, sehingga penyebutan keduanya dinilai sebagai promosi. Prancis menilai hal ini sangat tidak adil bagi jejaring sosial lain yang berada di bawah bayang-bayang twitter dan facebook yang bernilai miliaran dollar. Media jejaring sosial selain twitter dan facebook nyata-nyata kesulitan mencari pengakuan dengan dominasi duet tersebut. Namun, sebagai gantinya, peraturan di Prancis masih memperbolehkan penggunaan kalimat “find us on social networks” (temukan kami di jejaring sosial) tanpa menyebut secara spesifik perusahaan tertentu.
Twitter dan facebook memang begitu dominan. Keduanya seolah menjadi “barang wajib” sebagai alat interaksi antara perusahaan penyiaran dan publik. Di Indonesia sendiri lazim kita lihat pihak televisi memancing pendapat penontonnya melalui twitter dan facebook. Saya sendiri tidak mengetahui persis apakah sebagai perusahaan komersial, twitter dan facebook membuat semacam kontrak komersial dengan pihak televisi kita sehingga stasiun televisi yang notabene juga bersifat komersial dengan rela hati membuat akun twitter dan facebook dan menyebarkannya melalui siarannya.
Namun, tanpa kontrak komersial pun sebenarnya bisa dipahami jika telah terjadi timbal balik saling menguntungkan ketika media mainstream menggunakan twitter dan facebook. Lewat kedua jejaring sosial itu, media mainstream mampuĀ menjaring antusias publik.
Prancis memang telah memilih aturannya sendiri. Tapi belum tentu negara-negara lain akan sependapat. Menurut anda?