
Sekedar berbagi pengalaman dalam memanfaatkan blog untuk proses belajar-mengajar di perguruan tinggi.
Gaya hidup mahasiswa saat ini terasa jauh berbeda dibanding dulu. HP, i-pad atau i-phone lebih sering digenggam daripada textbook yang beratnya mungkin beberapa kali lipat. Notebook pun seolah sudah menjadi kebutuhan pokok yang ditenteng kemana-mana. Barang digital sudah mengepung mereka saat ini. Terkepung, namun mahasiswa begitu menikmatinya. Jari-jari tangan mereka begitu asyiknya menari-nari di atas barang digital, seolah dunia ada dalam genggaman mereka. Namun, apakah dunia pengetahuan bisa terbuka lewat genggaman tangannya?
Saya akhirnya harus mengalah demi menjawab pertanyaan itu. Gaya hidup mahasiswa tidak harus menjadi bahan kritik, atau menjadikan kita harus mengelus dada. Kadang sentimentil masa lalu- yang dianggap jadul oleh mahasiswa- menjadi tameng bahwa gaya hidup saat ini tidak bisa menjadikan mahasiswa sebagai manusia pembelajar. Kita tidak bisa berlindung di balik nostalgia masa lalu. Ya, para pendidik pun harus berubah dan menepiskan nostalgia itu jika berhadapan dengan perubahan zaman. Perubahan teknologi informasi yang seolah berlari kencang di sirkuit balapan. Jika tidak, langkah para pendidik bisa semakin terseok-seok. Tertinggal jauh. Hanya sebagai penonton yang duduk manis, melihat pesona dunia maya. Minimal tertinggal dalam memberdayakan dunia maya untuk mendukung proses pembelajaran.
*****
Tiga tahun sudah berlalu. Selama itulah saya menggauli Student Journalism. Sebuah turunan- atau sebut saja sebagai kloningan atau sempalan- dari Citizen Journalism. Kami sering menyebutkan dengan ”Warta Warga”- media publikasi tulisan dari warga kampus atau civitas academika. Ada tiga jenis blog yang dimanfaatkan untuk proses belajar-mengajar, yaitu:
Pertama, social media seperti Kompasiana, namun kompasianernya adalah mahasiswa yang secara otomatis mempunyai akun ketika mereka secara resmi menjadi mahasiswa. Kami menyebut Kompasiana versi kampus ini dengan sebutan ”Wartawarga”. Dengan jumlah anggota sebanyak lebih dari 20 ribu, social media versi kampus pun diserbu tulisan mahasiswa yang sedang berburu nilai mata kuliah yang adaptif terhadap pengembangan soft skill.
Kedua, Blog Komunitas- semacam kanalisasi blog keroyokan dengan alamat atau situs khusus untuk blog rame-rame untuk setiap bidang peminatan. Beberapa bidang ilmu atau peminatan yang sudah mempunyai blog komunitas di antaranya adalah Perbankan, Asuransi, Pasar Modal, Ekonomi Syariah, Perpajakan, Arsitektur, Robotika, dan Fotografi. Semua mahasiswa bebas menulis di sana sesuai minatnya masing-masing. Dengan akun resmi dan terverifikasi sebagai mahasiswa, tentunya.
Ketiga, blog pribadi yang dimiliki mahasiswa. Setiap mahasiswa diwajibkan mempunyai blog pribadi- berbayar atau gratisan- sebagai salah satu syarat untuk mata kuliah yang telah ditetapkan sebagai mata kuliah yang adaptif terhadap pengembangan soft skill dalam proses belajar-mengajarnya. Tugas-tugas yang terkait dengan materi kuliah pun harus diunggah ke sana. Tulisan lain yang tidak terkait, bisa di-publish di wartawarga atau di blog komunitas. Keseimbangan antara penguasaan materi kuliah dengan kemampuan menulis tentang hal lain, menjadi mozaik pengetahuan dan wawasan yang diharapkan terbentuk melalui student journalism. Mereka diharapkan tidak terkungkung dalam ruang kelas saja- yang begitu dibatasi oleh ruang dan waktu untuk proses pembelajaran yang optimal.
Bagaimana tulisan tersebut bisa digunakan untuk kelulusan mata kuliah?
Setiap mahasiswa mempunyai digital student portfolio – sebuah raport berisi rekam jejak mahasiswa dalam dunia tulis-menulis di alam maya. Memang portofolio itu tidak hanya sekedar tulisan di blog saja. Ada aspek lain yang terekam di situ, yakni aktifitas mahasiswa dalam mengikuti seminar, kursus atau workshop, organisasi kemahasiswaan, program kreatifitas dan inovasi. Semakin aktif di luar kampus- termasuk di dunia blogging- semakin berwarna-warni portofolionya. Warna-warni itulah yang menjadi salah satu kriteria kelulusan untuk sebuah mata kuliah tertentu.
Kelulusan ditentukan oleh dosen pengampu dari mata kuliah yang metode pembelajarannya bersifat adaptif terhadap pengembangan soft skill. Jadi bisa dipastikan menjelang akhir semester, para dosen sibuk mlototin tulisan mahasiswa yang bersliweran secara digital. Mata bisa siwer deh. Aspek kuantitas dan kualitas dipertimbangkan secara proporsial dalam kriteria kelulusan. Waktu pun tersita untuk berkunjung ke blog-blog mahasiswa- yang setiap tulisannya terekam tautannya pada portofolionya. Kadang terpikir, berusaha gaul dan memahami gaya mahasiswa, kok malah seolah terpenjara di dunia maya. Namun, semua itu tetap harus dijalani demi sebuah inovasi pembelajaran di era informasi.
Lalu seperti apa geliat mahasiswa dalam memanfaatkan student journalism?
Anda pasti sudah menduga. Ide, bahasa penulisan, dan budaya copy-paste menjadi kendala utama. Kami harus tega untuk tidak meluluskan mahasiswa yang terbukti melakukan praktek plagiat. Sebuah harga yang tidak bisa ditawar lagi. Namun di balik itu, beberapa mahasiswa menunjukkan kreativitas dan bakatnya dalam urusan tulis-menulis. Kami melihat student journalism sebagai sebuah proses belajar dalam mengasah kemampuan menulis sejak dini, atau sebelum mereka lulus nanti. Menulis tidak dalam artian tulisan ilmiah yang pasti mereka hadapi di akhir studi. Ini tentang menulis dengan bahasa populer, bahkan tidak jarang mereka bertutur dengan bahasa gaul mereka. Kadang kernyitan terlukis di dahi ketika membaca tulisan mahasiswa. Namun, tidak jarang mulut tersenyum dengan berbagai ragam celoteh tentang dunia mereka. Tak jarang pula mata terbelalak seolah menemukan mutiara di dunia maya. Mutiara yang akan bersinar di masa depan. Sungguh mengasyikan mencermati geliat mereka di dunia maya.
*****
Akhirnya, seharian ini, saya pun seperti terpenjara di dunia maya. Rongga mulut yang penuh dengan rujak pedes pun tidak bisa bergumam, walau hanya untuk mengatakan sebuah harapan. Semoga mereka menjadi jurnalis dan penulis hebat di masa depan.
Banyak yang mendefinisikan pengertian penulis dalam arti yang berbeda-beda. Ada ...
Beberapa rekan saya di Kompasiana ini adalah para penulis fiksi ...
Jika Kahlil Gibran membuat ungkapan : “Cinta seperti burung dara, ...