Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Endi The Djenggoet

Sv Endi, alumnus Fisip Atma Jaya Yogyakarta, mantan wartawan Tribun Pontianak (Kompas Gramedia), Kalimantan Barat. selengkapnya

Menulislah dengan Pena Bulu Ayam

OPINI | 23 June 2011 | 05:14 Dibaca: 910   Komentar: 7   1

1308805783968400125

Ilustrasi. Sumber: galaxy-semesta.blogspot.com

SEBELUM ada mesin ketik, pena dengan aksesoris bulu ayam tampak begitu elegan dalam foto-foto sejarah. Dalam film-film kolosal, kerap ditampakkan sang raja atau bangsawan atau ilmuwan masa itu, menulis sesuatu dengan pena cair.

Saya sendiri pernah mencoba menggunakannya. Alkisah, saat SMP pada tahun 1993 di Ketapang, pedalaman Kalimantan Barat, saya tingga di asrama siswa milik bruder.

Asrama itu sudah ada sejak angkatan ayah saya, sehingga beberapa perangkat lama dan kuno masih di temukan. Di gudang, saya temukan banyak sekali “mata pena”, semacam mata pulpen yang terbuat dari logam berwarna kuning.

Saya cari bulu ayam yang biasanya berhamburan di halaman belakang. Mata pena tadi saya pasang ke pangkal bulu ayam, dan saya bersiap untuk menulis. Setelah saya celupkan ujung pena ke dalam tinta, mulailah saya menulis di selembar kertas.

Alangkah sulitnya! Tinta berhamburan ke sana ke mari, bentuk tulisan pun tidak karuan, dan rasa-rasanya tidak mungkin digunakan untuk mencatat pelajaran di sekolah.

1308805609194528338

Aristoteles sedang menulis. Sumber: amundrasya.blogspot.com

Pena Bulu Ayam: Kerja Keras
Terbayang seperti apa kerasnya perjuangan para pemikir dan cerdik pandai nun di masa dulu, saat menyalin buah pikiran mereka pada selembar kertas. Saya kira, untuk menulis sesuatu dalam selembar kertas penuh, perlu perjuangan berat: kehati-hatian, tenaga, ketelatenan, dan waktu yang terbuang cukup banyak.

Saya tidak tahu bagaima cara Plato, Aristoteles, Socrates dan orang-orang sejamannya menuliskan hasil refleksi mereka. Tapi yang jelas, dengan keterbatasan sarana, setiap butir-butir pemikiran itu pastilah tidak sembarangan.

Di era modern ini, karya-karya itu amat mudah ditemukan dalam bentuk buku yang tercetak apik. Begitu mudahnya, hanya dengan pencet tombol mesin, ribuan ekseplar buku siap dibaca!

Tapi saya sedikit tahu dengan cara menulis Bung Karno. Beberapa tulisan tangannya yang bergaya rangkai dan condong ke kanan, bisa ditemukan di beberapa pustaka. Lengkap dengan corat-coretnya mengoreksi bagian yang salah.

Meskipun, saya yakin, Bung Karno sudah tidak menggunakan pena bulu ayam lagi, pena yang sebentar-sebentar harus dicelupkan ke tinta. Pasti Bung Karno menggunakan pena cair, yakni pena yang sudah memiliki kantong tinta di tubuhnya.

Saya pernah membaca buku setebal bantal “Di Bawah Bendera Revolusi” yang banyak dicari-cari pada awal era reformasi itu. Ada tulisan tangan yang panjang dan lengkap ikut diterbitkan di sana.

Mencermati tulisan tangan itu, sedikit bisa menyusuri cara kerja Bung Karno. Menulis buah pikirannya nyaris tanpa kendala, terlihat dari model tulisan yang rapi. Kemudian membaca ulang atau mengoreksi, menambahi, dan membuang bagian yang salah atau kurang tepat, tampak dalam coretan-coretan revisi.

Barulah setelah yakin semua tanpa kekurangan, mungkin saatnya sang tukang ketik bertugas. Menyalin kembali tulis tangan itu agar tersaji dalam bentuk tercetak.

Sebagai generasi kelahiran akhir era 70-an, saya masih merasakan masa jayanya mesin ketik. Karena kala itu, mesin ketiklah satu-satunya teknologi yang cukup terjangkau hingga ke kampung, maka saya terdorong untuk belajar menggunakannya.

Sangat enjoy dan menyenangkan. Tulisan rapi dan terlihat berwibawa setelah sekian lama hanya bisa menulis ala ceker ayam di buku catatan. Cukup memasang beberapa kertas karbon, dan kopian ketikan yang sama persis ikut muncul begitu halaman demi halaman selesai dikerjakan.

Bahkan hingga saya memulai perkuliahan pada tahun 1997, mesin ketik masih cukup banyak dipakai. Mahasiswa kalangan “the have” tentu saja sudah jauh-jauh hari meninggalkan mesin merisik tak tik tuk itu, dan menggantinya dengan perangkat komputer yang aduhay canggihnya.

Jika saatnya mengumpulkan paper, alangkah mindernya. Paper hasil karya kawan-kawan begitu kinclong dengan cover cantik bervariasi huruf-huruf aneka bentuk, sementara paper saya hanya berhuruf kecil hasil ketikan mesin ketik.

1308805956117559051

Ilustrasi. Sumber: yuwidyanto23.blogspot.com

Untuk mengerjakan sebuah paper 5 halaman saja pun, aku butuh waktu konsentrasi yang cukup panjang. Dimulai membuat kosep dengan tulisan tangan di kertas catatan, kemudian memperkayanya dengan beberapa pustaka, membaca buku rujukan, dan menuliskan kembali buah pikiran sendiri.

Masih belum tuntas. Karena pekerjaan berikutnya adalah mengetikkan seluruh isi paper itu dengan mesin ketik, yang harus dikerjakan ekstra hati-hati agar tidak menabrak garis margin atau salah pencet huruf.

Bukan karena iri dan merasa hebat, tapi belakangan saya ketahui dugaan-dugaan kecurangan mahasiswa yang mengumpulkan paper yang dikerjakan dengan komputer. Konon, sekali lagi konon, mereka hanya melakukan copy paste dari bahan-bahan yang mereka peroleh di internet! Hah?

Itu sebab, saya masih mencoba bangga dengan paper hasil ketikan saya dengan masin ketik, karena saya merasa benar-benar berjuang keras untuk menyelesaikannya.

Era Komputer, Era Kemanjaan
Pernahkah kita mendengar adanya penulis karbitan di era pena bulu ayam, atau setidaknya di era mesin ketik? Kebetulan saya belum pernah dengar. Mungkin ada, tapi tak banyak terdengar.

Tapi di era komputer, rasa-rasanya cukup banyak kita mendengar kemunculan penulis-penulis baru yang buku atau artikel mereka bertaburan di mana-mana. Apalagi setelah era komputer semakin dimapankan dengan menjamurnya berbagai jaringan sosial media, yang memungkinkan siapa saja menulis apa saja.

Setiap bahan dengan amat mudah dicari melalui search engine, dan, jika masih jujur, cukup dijadikan bahan penunjang tulisan. Tapi jika curang, begitu mudahnya copy paste dan diklaim sebagai karya sendiri.

Alangkah mudahnya penggunaan komputer, sehingga orang tidak perlu khawatir lagi dengan kesalahan teknis tetek bengek huruf bahkan struktur kalimat. Kan bisa diedit nanti jika ada waktu luang, karena filenya bisa dibuka kapan saja.

Bayangkan pada era pena bulu ayam atau mesin ketik, bisakah pekerjaan itu dikoreksi sedemikian gampang? Salah ketik sedikit, bisa berarti harus mulai dari awal.

Menulis yang terlalu lancar membuat kontrol kian kendur. Siapapun bisa menghujat dan berkata-kata kotor di jaringan mahaluas di dunia maya ini. Ini hanya sebuah renungan, dan setiap orang pasti punya pendapat sendiri.

Jika ditanyakan pendapat saya, mungkin begini: menulislah dengan lancar di komputer anda, tetapi berfikirlah seakan anda masih menulis dengan pena bulu ayam! Mungkin prinsip ini masih bisa membuat kita tetap setia dengan kejujuran, dan menulis dengan mencurahkan segenap pikiran.

SEVERIANUS ENDI

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indonesia 0 – 4 Filipina : #BekukanPSSI …

Angreni Efendi | | 26 November 2014 | 00:33

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | | 26 November 2014 | 04:19

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Festival Foto Kenangan Kompasianival 2014 …

Rahab Ganendra 2 | | 26 November 2014 | 04:01

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 6 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 7 jam lalu

5 Kenampakan Aneh Saat Jokowi Sudah …

Zai Lendra | 12 jam lalu

Timnas Indonesia Bahkan Tidak Lebih Baik …

Kevinalegion | 13 jam lalu

Suami Bergaji Besar, Masih Perlukah Istri …

Cucum Suminar | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Kisah “Kaos Kaki Bolong” …

Fathan Muhammad Tau... | 8 jam lalu

Produsen Kok Masih Impor Garam? …

Irene Noviani | 8 jam lalu

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | 8 jam lalu

Fabiano Lawan Sepadan Magnus Carlsen …

Cut Ayu | 8 jam lalu

Yuk Koleksi Uang Rupiah Bersambung Tahun …

Agung Budi Prasetyo | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: