Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Herman Hasyim

Wartawan bertanya "ada apa". Filosof bertanya "mengapa". Dan orang kreatif bertanya "apa jadinya bila".

Jojo Tejo dan Petuah Admin Kompasiana

OPINI | 15 September 2011 | 14:05 Dibaca: 513   Komentar: 74   7

Seharian ini saya beruntung punya cukup waktu senggang untuk mengitari pelbagai rubrik di Kompasiana. Di sejumlah tulisan, saya mendamparkan diri. Hitung-hitung sebagai pelepas penat, saya mampir pula di emperannya Mbahwo yang biasanya menyuguhkan hidangan yang layak caplok. Hemmm…ternyata benar. Ada yang seru di sana.

Ya, ini tentang saudara kita, Jojo Tejo. Entah sudah berapa banyak kompasianer yang telah ia bikin geregetan. Kalau kita iseng mengetikkan namanya di mesin pencarian Kompasiana, kita akan tahu bahwa Jojo Tejo ini memang pandai mengoleksi musuh.

Jujur saja, sesungguhnya sudah beberapa bulan lalu saya tahu bahwa Jojo Tejo adalah nama lain dari Mas Bumikencono. Soal ini pernah saya ungkapkan ketika saya mengomentari salah satu tulisannya yang saya lupa judulnya. Sayang sekali, Jojo Tejo membuangi sendiri tulisan-tulisannya, sehingga saya kesulitan melacak isi komentar itu.

Mengapa saya punya dugaan kuat, hingga akhirnya yakin bahwa Jojo Tejo dan Mas Bumikencono adalah orang yang sama?

Mula-mula, saya berinteraksi dengan Mas Bumikencono saat dia mengomentari tulisan saya tentang iklan rokok di Kompasiana, 28 Mei 2011. Waktu itu ia menjelaskan di profilnya bahwa ia seorang dosen dan praktisi hukum. Yang janggal, ia tidak mengomentari substansi tulisan saya, melainkan berteriak-teriak bahwa saya selalu menyerang orang atau pihak lain.

Berikut ini komentarnya:

HERAN AKU CAK!!! TULISAN ANDA SELALU MENYERANG ORANG/PIHAK LAIN….WALAU KALI INI AGAK HALUS..TAPI TETAP SAJA. MASIH KURANGKAH PRIBADI YANG TERSAKITI?? TIADAKAH IDE SEGAR CAK?????
maaf saya memakai huruf besar Cak.

Kemudian saya menjawabnya:

Sampean heran? Monggo, Mas…

Mosok sih aku SELALU menyerang orang/pihak lain? Bukannya aku juga kerap menyenangkan orang lain?

Mas, menyerang orang/pihak lain iku indikasine opo yo? Subjektif banget to? Coba sampean perhatikan, aku fokus ke konten atau ke pribadi tertentu?

Ide segar yang sampean maksud iku opo yo? Kalau mau nulis yang bagus ya nulis untuk pekerjaan–untuk nafkahi anak-istri.

Ayo, Mas, nulis lagi yang sering. Suatu saat sampean akan paham: saling senggol di sini lumrah-lumrah mawon. Asalkan nggak sampe bawa kata dancuk dan sejenisnya.

Setelah interaksi itu, timbul rasa ingin tahu saya mengenai sosok yang satu ini. Dan tidak perlu menggunakan teknik muluk-muluk, dengan mudah saya memenuhi rasa ingin tahu itu.

Bagaimana caranya?

Suatu ketika saya mendapati kompasianer Jojo Tejo melontarkan komentar sinis di lapak kompasianer lain. Lalu saya telisik profil si Jojo. Satu kata kunci saya peroleh dari sana, yakni bumikencono. Dari kata kunci itulah saya mendapat petunjuk yang sangat berharga.

Mari kita bandingkan alamat url Jojo Tejo dan Mas Bumikencono.

http://www.kompasiana.com/bumikencono

http://www.kompasiana.com/Masbumikencono

Hemmm… Suatu kamuflase yang ecek-ecek, kan?

Dari petunjuk itu, juga dari petunjuk-petunjuk lain yang saya peroleh setelah itu, saya berani mengambil semacam hipotesis bahwa Jojo Tejo dan Mas Bumikencono dibuat oleh orang yang sama. Dan siang tadi, ketika ia menyuguhkan tulisan kontroversialnya, menjadi semakin teballah keyakinan saya atas kebenaran hipotesis itu.

Sekarang mari kita simak penjelasan Robjanuar, salah seorang admin Kompasiana, mengenai banyaknya akun liar yang digunakan untuk keperluan-keperluan tertentu di media sosial ini.

Usai mempublikasikan tulisan berjudul Faisal Basri Copas, Masa Sih?, Robjanuar terlibat dialog dengan Abdi Husairi Nasution. Fokus pembicaraan seputar peran admin dalam mengatasi persoalan banyaknya akun yang dibuat oleh orang yang sama.

“admin dah bingung kali ngitungnya, shrsnya kalao ada nama akun yg sama sistem di admin bisa nolak otomatis, kayak nama di FB ato email gitu,” kata Abdi.

Kemudian Robjanuar merespon:

“Itu udah berlaku pak, coba aja bikin akun http://www.kompasiana/robjanuar…pasti ga bisa, tapi kalo mo bikin akun dengan nama profil robjanuar, mau 1juta akun pun bisa. Email dan FB memberlakukan nama profil=nama url karena membernya dah puluhan juta.

Di era web 2.0++ ini lebih penting kedewasan dalam berinteraksi mbak, makin hari dunia maya makin mendekati realitas, attitude jadi identity paling penting.

Saya rasa, kalimat terakhir Robjanuar itu pantas kita camkan, terutama dalam menghadapi kasus akun yang kerap bikin rusuh semacam Jojo Tejo alias Mas Bumikencono ini. Ya, interaksi di dunia maya memang menuntut adanya kedewasaan, kecuali bila kita bercita-cita jadi kanak-kanak abadi….

Rawamangun, 15 September 2011

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 8 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 9 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 10 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 13 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: